Launch New Anugrah...


Alhamdulillah...

Dengan penuh syukur kami mempersembahkan QESYA di
http://Qesya.com dan http://QesyaShop.blogspot.com hanya untuk Anda, customer loyal dan semua customer Anugrah.

Semoga menambah keberkahan dan keridhoan Allah SWT pada Anugrah offline, Anugrah online, dan semua yang terlibat.

Amien.



Tuesday, February 2, 2010

Jangan mengira bahwa apa yang kita berikan itu akan pergi begitu saja...

Berikut adalah cuplikan dari rubrik ruhaniyat majalah Tarbawi edisi Februari 2010, yang menyadur dari karya tulis syaikh Ali Tanthawi yang dipublikasikan harian Al Idzaa'ah th 1953.

Jangan mengira bahwa apa yang kita berikan itu akan pergi begitu saja, tanpa bekas, dan tak ada pengaruhnya untuk kita. Sama sekali tidak, demi Allah. Aku termasuk orang yang tak memiliki tabungan sedikitpun, sebab bila aku memiliki uang setelah kebutuhan dasarku terpenuhi, aku lebih cenderung menyalurkannya di jalan Allah. Istriku selalu mengatakan, "Pak, gunakanlah setidaknya uang itu untuk menabung membeli rumah... " Aku katakan, "Biarkanlah dia untuk Allah saja..."

Adakah pembaca tahu apa yang terjadi kemudian ?

Allah ternyata mencukupiku dari apa yang aku infaqkan di jalan-Nya dan aku tabung kepada-Nya di bank kebajikan yang kemudian memberi lipatan keuntungan yang luar biasa banyaknya, yakni tujuh puluh ribu kali lipat. Ya... seperti dalam firman-Nya... kamatsali habatin anbatat... sab'a sanaabil... fi kulli sumbulatin miatu habbah...

Allah SWT yang mengutus seorang teman asal Damaskus, yang kemudian tiba-tiba saja memberikan aku uang sebagai dana awal membeli rumah. Lalu Allah SWT juga mengutus temanku yang lain yang melengkapi biaya pembelian rumah. Demi Allah, aku tidak tahu masalah ini, kecuali aku memahami bahwa Allah SWT memberi rizqi yang halal yang tak terduga-duga, hingga bahkan aku bisa membayar hutang-hutangku semuanya.

Selama ini, aku merasa tak pernah dalam kondisi sempit, kecuali Allah SWT melapangkan aku. Dan tidak pernah aku membutuhkan sesuatu, kecuali kebutuhan itu dipenuhi oleh Allah SWT. Dan aku terus-menerus, jika aku ingin memelihara nikmat itu, aku akan memberikan hartaku di bank kebajikan milik-Nya...

Jadi, jangan pernah menganggap apa yang kita berikan kepada orang lain itu sia-sia. Sesungguhnya Allah membalasnya di dunia, sebelum di akhirat.

Gambar diambil dari sini.

4 comments:

khalifatur said...

Buatku, tidak ada keraguan sedikitpun bahwa janji Allah pasti benar.Tapi kenapa menjalaninya dengan keyakinan 100% terasa nggak mudah, ya? Karena kupikir, tidak menyiapkan diri u/ mencukupi kebutuhan keluarga dengan selayaknya padahal sebetulnya mampu, bisa terbilang dhalim. Dan -tanpa mengurangi rasa hormat atas teladan syaikh Ali Tanthawi- kalau kita dibelikan sesuatu oleh orang lain sementara sesuatu itu sejatinya sangat mungkin terbeli oleh kita sendiri, menurutku jadi kurang afaf (perwira). Tentunya dgn catatan apa yg dibeli bukan u/ bermewah2, tapi sebatas yang dibutuhkan.
Waw..gak bermaksud protes nih Bu. Just discuss it, gimana? Karena menurutku Bu Tutut & keluarga termasuk yg bisa menyeimbangkan dunia-akhirat masalah harta ini...

Tutut Ve Ha said...

@M Atik : problemnya adalah… rumah itu gak terbeli oleh syaikh Ali sendiri. Tp blio jg gak nyaman buat nyimpen uang, krn… maybe… usia khan gak tahu sampai kapan. Tp pas dana buat DP rumah ada di tangan… dan maybe dananya itu bener2 pas dg nilai DP rumah, ya dimasukin lah ke DP rumah. Aku kenal beberapa orang yg kayak gini mbak. Gak pernah nabung, karena uangnya dihabiskan buat infaq. Tapi kok ya pas mo haji, ada aja dananya, entah dari mana. Pas butuh rumah, ada aja dananya. Pas anak mo operasi, ada aja uangnya. Dan smuanya, entah dari mana. Teman yg ngebeliin rumah syaikh Ali itu khan ‘hanya’ perantara. Allah yang memberikan rizqi dari arah yg tidak disangka-sangka. Ya gak mbak ?

khalifatur said...

Pribadi2 seperti syaikh Ali tak pernah risau dgn apa yg tak bisa mereka peroleh di dunia ini, suatu yg belum bisa kami lakukan...:(
Sebaliknya saat ada kesempatan berinfaq datang, masih terselip dalam hati sebuah pamrih bahwa Allah akan menggantinya, suatu yg sepertinya benar2 tak terpikirkan oleh pribadi2 seperti syaikh Ali...
Jazakillah pencerahannya Ummi Alya...

Tutut Ve Ha said...

Waiyyak... Jazakillah juga untuk discussnya...