Monday, June 22, 2009

Melankolis Sempurna

Masih ingat personality plus yang ada 4 macem ? Salah satunya melankolis sempurna. Ya, melankolis yang ingin semuanya sempurna, tapi mengakibatkan dia tertekan dengan ketidaksempurnaan yang ada dimana-mana.

Bukan berarti melankolis sempurna itu jelek, jahat. Nggak. Dia hanya diberi ujian yang lebih besar, dengan karunia sifat dasar sebagai si sempurna. Dan di rumahku ada dua yang melankolis sempurna. Dua, kalau Widad (semoga) bukan melankolis sempurna. Ada tanda2 sih, tapi kayaknya gak sampai separah Iva.

Ya, Iva, anak kedua kami, melankolis sempurna. Itu sifat aslinya, sejak bayi, hehehe. Pas bayi, pada saat belum bisa ngomong, kalau sedang tidur dan posisinya dirubah, dia nangis. Gede dikit, PG kecil, kalau menurut dia gurunya kurang sempurna dan belum minta maaf, dia akan cemberut sama gurunya. Terus aja cemberut sampai gurunya minta maaf. Gede dikit lagi, TK, dia akan memukuli mulutnya sendiri kalau baca doa tidur gak sempurna karena sesuatu hal -- batuk, misalnya. Juga doa makan, dan doa doa yang lain. Sampai kakak dan ortuku heran, kenapa sih... kok kalo gak slesai baca doa dia mukul2 mulutnya sendiri.

Tapi itulah Iva -- Khodijah yang benar dan lurus. Makanya dikasih Allah sifat asli sempurna, hehehe...

Kalo mau tidur, dia memasang selimut harus terpasang tepat dan lurus memenuhi kasurnya, gak boleh ada yg terlipat, meskipun nanti bakalan morat marit kemana2. Kalau pulang sekolah gak boleh terlambat dibukain pintu, cause itu sudah masuk kategori gak sempurna. Efek bagusnya... kalo belajar di sekolah, dibilang harus concern gak boleh ngobrol, jadinya ya dia concern beneran dan gak ngobrol samsek di sekolah. Hasilnya udah keliatan, dia juara 1 paralel dari kelas 1 sampai kelas 3 ini. Dan hasil lain, gurunya complain ke aku, katanya Iva gak pernah bisa ngobrol sama temennya di kelas. Pas tak confirm ke Iva, jawabannya : lho... kata bu guru khan gak boleh ngobrol di kelas... So perfect, right ?

Kalo di buku, kalo gak salah -- maklum, bacanya udah lama, yang perlu diperbaiki dari orang melankolis antara lain menerima ketidak sempurnaan dari sekeliling. Jangan memasang target atau harapan terlalu tinggi. Ntar banyak kecewa. Trus kata buku itu juga, orang melankolis sering merasa sekelilingnya gak sayang sama dia, gak care sama dia. Dan dia berusaha ngebuktiin bahwa dugaannya itu bener. Di Iva, case ini diaplikasikan dengan... tetep pura2 tidur meskipun sudah bangun. Dia minta dibangunkan 'dengan sempurna'. Kalo gak, dia menganggap berarti memang kita gak sayang dia. Dan dengan anggapan itu, dia sukses memulai hari dengan bersedih, tertekan, dan cemberut, karena merasa gak disayang.

Orang kedua yang melankolis sempurna adalah Mbak Tik, mbakku di rumah yang ngurusin semua kerjaan rumah. Tiap ada temen buat ngebantu urusan rumah, dia gak ngerasa nyaman. Karena dia ngerasa gak ada yang bisa kerja sebaik (baca : sesempurna) kerjaannya. Dan temennya juga gak ada yang berasa nyaman, karena tiap ngebantuin dia, selalu aja dibilang salah. Contoh kecil, dia ngebantuin njemur, kalo baju yang dijemur kelipet sedikit, dia udah dimarahin, disalah2in. Semua harus bener2 perfect sesuai gayanya mbak Tik. Begitu juga untuk semua urusan yang lain. Kalo masak, kompor harus sampai kinclong. Nyapu, debu harus bener2 habis. Jendela harus dilap bersih2, dst.

Akhirnya suatu hari, mbak Tik tak ajak ngobrol. Kebetulan ada satu contoh melankolis sempurna yang sudah usia tua di sekitar kami. Tak tunjukkan ke mbak Tik, bahwa begitulah melankolis sempurna itu. Berharap semuanya sempurna. Tidak bersedia menerima pemakluman, apapun alasannya, meskipun untuk hal2 yang sepele dan sangat mungkin untuk dimaklumi walaupun tanpa alasan. Tak kasih tahu juga bahwa Iva, yang kata mbak Tik kadang2 susah karena sering ngambek, ya sebenernya ngambeknya itu karena dia menuntut semuanya sempurna. Karena dia melankolis sempurna.

Trus tak tunjukin juga buku personality plus. Tapi khan gak mungkin kalo mbak Tik baca sendiri. Alhamdulillah, dikasih ide : minta Iva yang baca tentang melankolis sempurna. Apa kekurangannya. Apa yang harus dilakukan, dll. Trus minta Iva nerangin ke mbak Tik. Jadi sekalian, mbak Tik jadi tahu, Iva juga jadi faham.

Alhamdulillah, makin kesini, taraf Iva menuntut kesempurnaan dari orang lain makin berkurang. Dia makin bisa memaklumi kondisi sekitar. Makin memahami bahwa dunia ini beragam. Semoga Iva, mbak Tik, tetanggaku yang melankolis sempurna, dan orang2 yang dianugerahi sifat melankolis sempurna oleh Allah diberi kemudahan untuk dapat melihat dunia dengan lebih sederhana dan mengurangi beban dan tuntutan yang selama ini dirasakan. Amien.

Ajal (In memoriam of Iman)

Satu lagi rekan kami dipanggil oleh-Nya. Dengan cara yang tidak terduga. Dan waktu yang juga sangat mengagetkan. Rekan kami, Iman Budiman, almarhum, ahad dini hari telah berpulang karena kecelakaan mobil, tabrakan dengan truk. Blio dipanggil pada saat seharusnya sedang sangat berbahagia, karena baru saja pulang setelah selesai melanjutkan S2 nya di Singapore. Dan baru saja kembali berkumpul lagi dengan keluarga. Terbayang...

Usia memang tidak dapat diduga. Bagaimana cara kita dipanggil oleh Nya juga tidak dapat diduga. Akankah kita siap pada saat menghadapi sakaratul maut... Sementara Rasulullah yang dijaga dari kesalahan saja merasakan sakit pada saat sakaratul mautnya. Bagaimana halnya kita, yang masih sering malas menabung amal dan sering tetap sibuk berkutat dengan dosa dosa.

Dan bertambah trenyuh hati ini, melihat begitu banyak kesaksian untuk rekan kami, Iman. Begitu banyak kesaksian tentang kebaikan Iman yang mengalir ke milis dan facebook. Tentang keramahannya. Tentang ketenangannya. Tidak 'neko-neko' nya. Kecerdasannya. Begitu banyak kesaksian yang membuat aku iri.

Ya, aku iri pada Iman, karena pada saat meninggalkan dunia ini, dia dikenal sebagai orang baik oleh teman2nya. Bukan berarti aku berharap dia dianggap sebaliknya. Bukan. Bukan sama sekali. Karena aku juga termasuk salah satu yang mengakui kebaikan Iman.

Aku iri, karena aku ragu untuk diriku sendiri. Akankah disaat aku meninggal nanti, orang2 di sekitarku akan bersaksi yang sama ? Akankah mereka bersaksi tentang kebaikanku ? Atau justru mereka bersaksi tentang keusilanku ? Tentang kecriwisanku ? Tentang kebawelanku ? Tentang kegalakanku ? Kemarahanku ? Tentang sinisnya aku ?

Hiks... sedih... dan makin sedih... Belum banyak bekal yang kami siapkan untuk menghadapi Malaikat Maut. Belum banyak yang kami lakukan yang berorientasi kesana. Kami masih sibuk bermain. Kami belum memaksimalkan waktu2 kami. Padahal dengan waktu luang yang kami punya, bisa jadi menghasilkan sangat banyak amal bagi orang lain. Sementara waktu luang itu di kami, hanya menghasilkan kepuasan bermain game, kepuasan mendengar lagu, kepuasan surfing, kepuasan update informasi dari milis, web. Kepuasan yang hanya bernilai secuil dalam takaran amal2 kami. Itupun bila ada nilainya. Hiks... kami takut bila sebagian besar dari waktu2 kami tidak ada nilainya di sisi-Mu. Atau bahkan minus...

Ya Allah... jagalah kami. Bantulah kami untuk memanfaatkan waktu2 kami untuk selalu mendekati-Mu. Bantulah kami untuk menyiapkan diri agar kapan pun Engkau memanggil, kami telah siap. Ya Allah, bantulah kami melewati sirath-Mu. Bantulah kami agar mudah bagi kami untuk melewati masa2 sepi di alam kubur. Lapangkanlah kuburan kami. Bantulah kami agar dapat berkumpul dengan suami dan anak2 kami di Surga-Mu.

Ya Allah.. lapangkanlah tempat bagi rekan kami Iman selama menunggu hisab-Mu di yaumul akhir. Satukanlah kembali keluarga mereka di surga-Mu. Berikanlah kekuatan, kesabaran, keteguhan, dan keuletan pada keluarganya yang ditinggalkan. Jadikanlah anak2nya menjadi anak2 yang soleh dan solehah, yang doanya terus mengalir sehingga menjadi amal yang tidak terputus bagi Iman dan istrinya. Ya Allah, kabulkanlah doa2 kami ini. Amien.

Tuesday, May 19, 2009

Ngelanjutin Postingan Adaptasi Rumah

Udah baca ummi edisi terbaru belum ? Disana ada artikel ttg anak2 yang suka menyendiri di dalam kamar. Di artikel itu, tertulis menyendirinya anak karena banyaknya media yang mengasyikkan dan mendukung anak untuk sibuk dengan dunianya sendiri (dengan sarana media yang dimiliki, tentu). Media itu bisa jadi TV, game station, internet, atau HP. Salah satu saja dari media ini dimiliki anak, dapat memunculkan kesenangan bagi anak untuk berdiam dan berlama2 di kamarnya sendiri.

Setuju banget. In my case, semua media itu sudah diletakkan di area publik. Komputer, satu untuk internet dan kerjaan, baik dari sekolah anak2 ataupun kerjaan kantor, dan satu lagi untuk game, CD, dll, tempatnya di ruang publik, dan berdekatan. Untuk menjaga supaya even sedang beraktivitas sendiri2, tapi diharapkan dengan posisi yang dekat jadi tetep ada interaksi antara kakak dan adeknya. Mengingat Al dan Iv memang sudah lebih sering meng-akses kompie yang tugas, sedangkan Mut dan We masih kutak katik di kompie game. Misalnya saja Mut mengalami error dengan kompie-nya, dengan mudah dia tinggal nengok dan nyolek kakaknya buat minta bantuan.

TV... yang ini lebih parah. Kita letakkan di ruang publik, di bawah meja makan. Hehehe. Tempat yang sangat gak strategis buat nonton. Soale memang TV-nya disediakan buat para mbak, dan para mbak sering makan malemnya lesehan disitu. Jadi Alhamdulillah, sangat mengurangi keinginan kita buat ikutan nonton.

HP... jelaslah... padha belum punya. Aku belum berani ngasih. Paling nebeng HP ku aja.

Cuman ya itu, ternyata tanpa semua media itu di kamar, anak2 (dulu) tetep asyik di ruangannya sendiri2. Meskipun ruangan itu bukan kamarnya. Ada yang asyik baca. Ada yg asyik komputer. Ada yg asyik maen. Tapi semuanya sendiri2 dan kayak gak ada interaksi.

Alhamdulillah, setelah postinganku yang dulu itu, anak2 skrg jadi lebih ber-interaksi. Jadi lebih sering bareng2. Jadi lebih terasa kedekatan kakak beradiknya. Jadi memang, whatever penyebabnya, kedekatan antar anggota keluarga kudu tetap dibangun. Sedikit problem yang muncul di keterikatan keluarga, sebaiknya segera dibenahi, sebelum makin membesar. Kita khan pengennya semua anggota keluarga merasa tempat istirahat yang paling baik adalah di rumah. Pengennya rumah itu berasa home, dan bukan house.

Monday, May 18, 2009

Marbella

Udah padha tahu Marbella donk... Akhir pekan kemaren, kali kedua kami nginap di Marbella, Anyer. Yang pertama dulu, bareng sama keluarga besar. Kebetulan pas anak2ku lagi padha sakit. Sampai saatnya berangkat ke Anyer, Iva sama Widad masih anget. Udah bingung tuch... berangkat gak ya, ke sana. Sementara keluarga yang udah duluan di sana nelpon terus, nyuruh kita dateng.

Akhirnya ya udah, kita putuskan sore berangkat, dengan pertimbangan sampai sana anak2 harus langsung tidur. Jadi bisa istirahat. Boleh mainnya baru besok paginya.

Begitu sampai, kita langsung woro2 ke para sepupu, bahwa anak kami gak boleh main samsek hari itu. Pokoke habis makan malem harus langsung tidur. Supaya tetep sehat, dan bisa maen besok paginya. Jadinya ya kita makan malam, trus langsung bersiap untuk tidur.

Sekitar jam 8 malem, setelah anak2 selesai makan semua, kita bersiap untuk tidur. Hmm... tapi kamar gak dingin nih. Aku cek suhu AC, maybe kurang dingin. Tapi ternyata gak ada remote AC-nya. Pinjem remote dari kamar kakak. Kita turunin suhu. Tungguin, setelah se-jam-an, lho.. kok masih gak dingin ya... Trus pinjem lagi remote dari kamar adek, turunin lagi, tungguin lagi. Udah jam 9-an... kok masih gak dingin sih. Sementara, selama proses nunggu itu, jadinya terpaksa anak2ku (yang nota bene lagi sakit) terpaksa tidur tersebar di sofa dan karpet yang ada di depan TV.

Jam 10 malem, udah gak mungkin ditolerir lagi. Akhirnya aku minta tolong kakak buat komplain ke marketingnya Marbella, yang kemaren jadi penghubung shg kita dapet kamar itu. Tak sampein lah semua kekesalan. Gimana gak kesel, lha wong maen aja dilarang, kok malah tidur jam 11 malem 'hanya' karena AC nya rusak. Mana di karpet lagi. Mendingan tidur di rumah donk...

Setelah kompain yang lumayan alot, dan kayaknya para bos di atas marketingnya ini semuanya ada urusan penting sehingga gak bisa ikut nanganin, akhirnya kita deal sama marketingnya, semua kekesalan diganti dengan breakfast sekian orang, free. Alhamdulillah.

Atas pelayanan yang memuaskan itu, akhirnya untuk acara kedua yang bersama orang banyak kemaren, kita juga pake marketing ini. Mulai dari arrange kamar, menu makan, budget, dll. Alhamdulillah, acara sukses.

So, untuk yang mo ke Marbella, bisa contact marketingnya yang namanya pak Dedi, 081944701814. Semoga memuaskan.

Thursday, May 14, 2009

Having Problem

Ya, lagi having problem nih... Problem di beberapa subject. Lhah... kok bisa gitu ? I don't know. Atau akunya aja yang lagi sensitif ? Kayaknya enggak dech. Atau semoga enggak. Soale udah tak bolak balik, kayaknya ujungnya tetep, nothing I can do.

Kadang kalo lagi having problem gini, pengen banget dipeluk, trus nangis. Lega kali' ya, kalo gitu. Tapi gimana... yach, aku gak nyalahin ortu. Khan tipe ortu beda2. Masih bagus ortuku bukan tipe yang keras sama anak. Maybe blio hanya berpikir aku sudah 'besar'. Sudah bukan saatnya lagi buat dipeluk dan ditenangkan, hehehe. Blio bener juga khan, aku khan udah besar.

Cuman gak tahu nih, aku aja yang kolokannya kumat kali' ya. Kayaknya kalo udah gitu, meskipun gak cerita, berasa jadi plong gitu lho. Berasa ada yang nenangin. Berasa ada yang ngedukung. Apapun problem kita. Apapun pilihan kita.

Jadi gimana donk ? Kalo aku sih, pas having problem, jadi sering ngobrol, curhat sama yang di Atas. Ya tak bayangin aja tangan-Nya lagi nenangin aku. Trus tak ceritakan dari a sampai z problemku. Semua yang menurutku problem. Plus semua yang menurutku jadi sumbernya. Dan curhat. Dibolak balik semua sisi problem. Berusaha lihat problem dari sisi yang lain. Pokoke apa yang ada di pikiran dan perasaan dech... Disampaikan dan diurai dengan detil. Lengkap dengan nangis2nya, hehehe.

Biasanya sih habis itu memang berasa plong. Berasa lebih tenang. Berasa lebih siap menghadapi problematika kehidupan (hihihi... kayaknya gak gini gini amat dech)

Ke depannya, aku jadi berharap bisa tetep meluk anak2ku, berapapun usia mereka. Tetep jadi tempat curhat yang pertama bagi mereka (setelah Allah, tentu). Tetep jadi tumpuan cerita mereka, gak hanya happy story, tapi juga rangkaian problem yang mengiringi.

Dan sepertinya... kalo udah gedhe dan trus curhat... kayaknya sebenernya gak begitu butuh berbagai saran ya. Mereka sebenernya hanya butuh didengar, didukung. Butuh tahu ada seseorang yang siap membantu mereka kalau2 ada yang salah. Butuh ditenangkan supaya bisa berpikir jernih. Supaya bisa merenung tentang problemnya dengan arah yang benar. Tapi bukan saran solusi. Bukan didekte bagaimana seharusnya mengambil langkah. Karena untuk satu problem yang (terlihat) sama, bisa jadi solusi yang 'benar' ada begitu banyak cara. Dan hanya yang berhubungan lah yang paling tahu solusi yang paling tepat.

Jadi, jangan lupa untuk terus ngejaga kedekatan dengan anak. Jangan sampai suatu saat nanti, anak2 kehilangan ortunya meskipun fisik ada di dekatnya. Atau sebaliknya, kita yang ngerasa kehilangan anak2 padahal fisiknya tampak mata.

Gambar diambil dari sini.