Tuesday, July 7, 2009

Berkah

Barakah, udah padha tahu lah, barakah itu apa. Tapi implementasinya ? Hmm... lets see... Karena sungguh, untuk menjalankan usaha benar2 di jalan yang benar itu relatif. Lebih banyak abu2 nya. Kayak teori tentang giving, pengorbanan, jujur, gak ngebohong, pengabdian, LOA, dll. Semuanya sebenernya bermuara di satu tempat, berjalan di rel yang benar. Rel yang jelas menuju sang khalik. Tapi berjalan di rel yang benar itu, termasuk di dalamnya benar di niat, benar di caranya, benar di inputnya, dan benar di outputnya. Dan benar di setiap hal2 terkecil yang menempel padanya. Dari cara bicara, isi bicara, cara melirik, cara mengulurkan tangan, dst.

Tapi percayalah, dengan berusaha menerapkan supaya kita berada di rel yang lurus, keberkahan akan datang. Dan yang namanya keberkahan, gak akan hilang. Karena Allah lah yang ngasih. Gak sama dengan uang. Kalo uang yang didapat, bisa jadi kalo gak berkah sebentar juga ilang. Karena sangat mudah bagi Allah untuk mengambilnya lagi, kalau Dia gak suka.

Simple example, awal Anugrah buka di ITC Depok. Yang buka di sebelah kami adalah cabang kesekian dari ownernya (bukan franchise), yang menunjukkan taraf keseniorannya. Sementara kami baru akan memasuki dunia yang sama. Di depan toko, kami sama2 memasang patung. Dan patung blio sering memasuki area depan toko kami, yang mestinya menjadi hak kami buat nampilin patung Anugrah. Walhasil space buat kami masang patung otomatis berkurang. Dan lebih parahnya, sisi yang bersebelahan dengan mereka adalah sisi yang tusuk sate, yang kelihatan dari jalan nun jauh disana. Jadi karena patung kami bergeser (sedikit), jadi ya rada gak tampak lagi dari jalan tempat lewat orang.

Hati udah gak nyaman sih. Udah berasa gak bener, kesel, dst. Trus discuss sama suami. Kata suami, udahlah, gpp, biarin aja, dikit ini. Ya sudah, manut sama suami.

Dan ternyata, alhamdulillah, hasil manut waktu itu membuahkan beberapa hasil. Yang pertama, meskipun jadi gak gitu keliatan, namun entah bagaimana, ternyata ada aja orang yang dateng ke toko kami. Dan kedua, sekarang malah kayak temenan sama yang jadi manajer di toko sebelah.

Yang perlu digaris bawahi adalah 'ntah bagaimana' toko jadi rame. Kata 'ntah bagaimana' itu menunjukkan bukan kuasa kami, karena toh usaha kami ya gitu gitu aja. Tapi ada sesuatu di luar sana yang menggerakkan sehingga orang2 datang ke toko kami. Dan kami yakin, itulah yang namanya berkah dari Allah SWT.

Case lain, kami pernah memiliki emas batangan. Trus terpengaruh sama gaung gadai di internet tentang nikmatnya gadai sementara uangnya diputar, jadinya pada saat toko butuh modal, emasnya kita sekolahkan ke pegadaian syariah. Di saat yang sama kita ngelobby distributor, dan diijinkan bayar mundur 2 bulan. Setelah sekian bulan, karena sesuatu hal, pegadaian pengen kita tebus, untuk kemudian kita jual. Dan ternyata, pada saat kita mo jual, harga emas sedang turun2nya, jauh dari saat kita masukin ke pegadaian. Belum biaya yang kudu dikeluarkan karena gadai itu.

Terlepas dari harga emas yang memang fluktuatif, kita ngelihat hal itu salah satunya karena yang kita lakukan gak berkah. Karena kita punya emas tapi gak mau jual, sementara kita berusaha ngutang ke orang lain, dan malah menunda pembayaran sampai 2 bulan. Kok kayak kemaruk banget ya... Akhirnya emas kita tarik dari pegadaian, trus kita jual, dan dipake buat ngelunasin utang ke distributor.

Di case itu, padahal distributornya sepakat pembayaran mundur 2 bulan. Tapi khan bisa jadi Allah yang gak sepakat. Jadi maybe Allah gak suka karena kita berusaha ngutang, untuk hal yang sebenarnya bisa gak ngutang. Akhirnya sama Allah gampang aja, harga emas dibuat terpuruk, dan harga tertingginya justru pada saat kami memasukkan ke pegadaian. Jadi hitungan dunia, kami rugi.

Tapi... Allah juga yang maha Kuasa. Pada saat kami memutuskan untuk menebus ke pegadaian dan berniat untuk menjualnya supaya bisa melunasi hutang kami ke distributor, ternyata harga emas bergerak naik. Sehingga emas kami terjual dengan harga yang lumayan. Apakah ini berarti Allah ridho ? Wallohu alam bishowab.

Yang jelas, kami gak berani menunda menjualnya untuk berharap kenaikan harga yang lebih besar lagi. Kami takut Allah gak ridho, sehingga usaha kami gak berkah lagi. Dan sangat mudah bagi Allah untuk membuat harga emas anjlok lagi, bahkan sangat anjlok.

Jadi... whatever happened, jangan lupa ada campur tangan Allah disana. Ada ridho dan barakah Allah disana. Ada Allah dalam setiap langkah kita. Allahu maana.

NB. Diposting sebagai pengingat, karena barusan ikut seminar yang bicara banyak ttg keberkahan, dan mengumumkan ada tanya jawab 45 menit, ternyata hanya dikasih space waktu sekitar 10 menit :-(

Gambar diambil dari sini dan sini.

Thursday, July 2, 2009

Hanya Wanita yang boleh baca

Oops... sebelum meneruskan baca, jujur aja dulu, wanita bukan ? Kalo bukan, stop dulu ya, mengingat yang mo dibahas memang urusan wanita. Silahkan langsung aja lanjut ke postingan yang lain, atau dipersilakan ninggalin komentar aja, biar rame dikit gitu lho... :-)
Cause postingan kali ini mo ngebahas haidh untuk mereka yang berangkat haji atau umroh. (Psst... gak ada cowok khan ?) Ternyata banyak case yang sama, dan pertanyaan yang sama. Secara, haidh pada saat ramadhan aja kita sering bingung mo ngapain, apalagi pas haji dan umroh. Ya gak...

Tausiyah yang kudapat, haidh itu pemberian dari Allah. Asli, pemberian dari Allah, hak prerogatif Allah untuk menentukan kapan memberikan haidh dan kapan menghentikannya. Percaya gak ? Gak pernah ada khan, seseorang -- dokter sekalipun -- yang bisa menentukan kapan kita akan haidh, atau kapan kita akan selesai haidh. Bahkan dokter terhebat sekalipun, untuk menentukan kapan mulai dan selesai haidhnya dia sendiri juga gak bisa. Padahal udah dokter terhebat, trus badan sendiri lagi.

Case lain, pernah gak haidhnya gak bener ? Keluar sedikit sedikit ? Trus ngerasa susah menentukan sholat atau enggak gak ? Kalo ke dokter, dokter juga susah menentukan apakah itu darah haidh atau penyakit. Buat aku, ini membuktikan kalo haidh itu memang hak Allah. Allah sendiri yang menentukan kapan mo ngasih haidh dan kapan stopnya.

Maybe ada yang complain, tapi khan bisa diprediksi kapan akan haidh lagi dan kapan selesainya ? Itu khan prediksi, yang bisa dibuat karena Allah ngasih siklus yang teratur. Coba kalau misalnya, haidh terakhir aja, Allah ngasih siklus yang gak biasanya. Bisa gak kita prediksi siklus berikutnya lagi ?

Trus apa hubungannya sama haji dan umroh ? Haji itu sarana pembersihan diri yang tertinggi. Jadi tentu saja, ujian pada saat haji itu gede, termasuk ujian keikhlasan kita untuk menerima apa saja yang diberikan Allah. Salah satunya ya haidh itu. Seperti juga kalo kita sakit, kehilangan, dll. Dan yang sebaiknya kita lakukan bila mendapat ujian atau cobaan, adalah dengan menerima bahwa itu ketentuan Allah, dengan meng-ikhlaskannya. Termasuk haidh.

Tentu kita tetap berusaha supaya bisa memaksimalkan waktu untuk ibadah. Jangan lupa berdoa terus supaya haidh segera selesai, supaya bisa beribadah lebih maksimal. Karena balik lagi, yang bisa memberi dan menghentikan hanya Allah. Jadi kenapa gak minta pada-Nya ? Dan kalo ternyata masih belum berhenti, kita masih bisa memaksimalkan ibadah yang lain. Karena toh rukun haji yang gak boleh dilakukan 'cuman' tawaf.

Banyak yang mencoba mengubah hak prerogatif tersebut dengan mengkonsumsi obat. Namun banyak kasus, mereka yang mengkonsumsi obat justru menemui haidh nya gak jelas, bisa lama sekali, bisa sedikit sedikit tapi muncul terus sehingga sholatnya ragu, dll. Khawatirnya malah konsentrasi jadi pecah sibuk ngurusin si tamu bulanan ini. Efeknya, ibadah yang dilakukan jadi gak maksimal, karena konsentrasi pecah. Jadi buatku, mendingan pasrah aja, berdoa, trus tetep konsen sama ibadah yang tetep bisa dijalankan. Ya gak...

Wednesday, June 24, 2009

Sampaikanlah walaupun hanya 1 ayat...

Kenapa kita kudu menyampaikan walaupun hanya satu ayat ? Hikmahnya -- selain yang aku sudah tahu sebelumnya, tambahannya tak dapetin kemaren.

Jadi pertama, karena kalau kita menyampaikan, trus telinga kita ikutan denger. Ya khan, kalo telinga orang lain aja denger, telinga yang berbicara pasti lebih denger duluan. Dan apabila telinga kita mendengar, maka kemungkinan untuk sampai ke hati lebih besar. Jadi kemungkinan untuk dipahami dan diamalkan juga lebih besar. Beda dengan kalau kita hanya mendengar, dan tidak disampaikan lagi. Kadang aplikasinya dalam amal suka terlewat, masih untung kalau ilmunya gak ikut ilang.

Hal ini juga berlaku dalam percakapan, mengapa sebaiknya hal2 yang gak baek tidak diperbincangkan, kecuali untuk mencari solusi. Karena dengan diperbincangkan, hal gak baek itu makin masuk ke dalam hati. Makin menyakiti dan gak ilang2. Akibatnya makin mengotori hati kita.

Kedua, karena dengan menyampaikan itu, kita jadi teruji. Teruji dari sisi waktu, karena berarti kita kudu memanage waktu dengan lebih baik, supaya semua berjalan on the track. Teruji dalam cara penyampaian, teruji dalam pemahaman, dalam penyelesaian permasalahan, dll. Karena dengan menyampaikan, maka kita kudu berusaha supaya yang mendengar jadi turut mengerti dan mengamalkan. Kalau yang menyampaikan saja belum mengerti, bagaimana mungkin berharap pendengarnya menjadi mengerti. Kalau yang menyampaikan saja, pada saat ada permasalahan penyelesaiannya tidak on the track, bagaimana mungkin pendengarnya bisa menemukan jalan yang tepat untuk solusi permasalahannya.

Ketiga, karena dengan menyampaikan, dengan niat yang lurus, dengan usaha yang lurus, maka dalam perjalanannya akan diperbaiki oleh Allah SWT. Tapi gimana kalau kita udah menyampaikan, dan ternyata bantuan perbaikan dari Allah SWT gak kunjung datang ? Kemungkinan karena taraf keimanan yang kurang, atau kurang menyibukkan diri dalam mengerjakan amal kebajikan. Seperti dijanjikan Allah dalam QS 47:2, untuk orang2 yang beriman, dan mengerjakan kebaikan, akan dihapus kesalahan mereka dan diperbaiki keadaan2 mereka.

Jadi kalau sudah merasa bersibuk diri dengan kebaikan, namun perbaikan dari Allah gak kunjung datang, kita perlu introspeksi. Apakah kita melakukannya dengan niat yang kurang lurus, bercampur dengan niat2 yang lain ? Ataukah kita masih kurang menyibukkan diri dengan aktivitas amal kebaikan ?

Seperti aku kemaren. Ngerasa bener sendiri. Ngerasa pinter sendiri. Ujung2nya pengen diakui. Berharap pengakuan. Dan Alhamdulillah, gak dikasih sama Allah. Setelah dapat materi tadi, aku jadi mikir. Jangan2...

Ya. Rasanya aku memang kurang menyibukkan diri dengan amal kebaikan. Tahajud sekarang jarang 11 rakaat lagi. Matsurot sering gak selesai. Tilawah keteter. Hafalan... aduh... jauh dari target. Dhuha... kalau sempet doank, dan bukan disempetin. Rawatib.... Aduuhhh. Dan di kantor, sibuk dengan email, facebook, blogwalking. Hiks.. jadi malu...

Jadi hari ini, apalagi dengan Rajab yang baru datang, aku berniat untuk memperbaiki amalan2ku. Yang selama ini keteter. Yang selama ini waktu luang di kantor banyak dipake buat surfing. Semoga bisa dioper ke amalan yang lebih bernilai. Dan semoga aku jadi lebih siap menghadapi Ramadhan nanti. Dan bukan baru mulai berbenah pada saat Ramadhan. Amien.

Gambar diambil dari sini dan sini

Tuesday, June 23, 2009

Something Wrong

Hari ini berasa gak nyaman. Ada sesuatu yang salah, yang membuat aku berasa gak nyaman. Maybe ini ujian 'keakuan' buatku. Ujian yang datang bersamaan di dua komunitas yang aku ikuti. Problem is the same. Aku tahu seharusnya bagaimana. Tapi nothing I can do. Dan justru disitulah 'keakuan' ku diuji.

Kenapa ujian 'keakuan' ? Karena aku toch bukan siapa2. Tapi aku khawatir, jangan2, selama ini aku masih berorientasi pada nilai orang lain. Pada anggapan orang lain. Karena kalau aku sudah gak mempertimbangkan 'keakuan' ini, mestinya Allah nggak akan ngasih aku ujian ini khan ? Karena khan aku udah lulus.

Tapi nyatanya aku dapat ujian ini. Ujian merasa benar, merasa tahu. Tapi di set sama Allah, even aku tahu, aku gak bisa ngapa2 in. Jadi lama2 berasa gak dianggep. Nah... gak dianggep... itu kata lain dari ingin diakui khan...

Dan memang Allah sebaik2 pembuat skenario. Kalaupun memang aku tahu yang bener, dan trus aku dikasih jalan buat ngebenerin, gimana aku bisa ngerasa gak dianggep ? Itu malah jalan buat ngerasa diakui. Bisa tambah ke-PD-an khan. Bisa kelewatan PD. Alias sombong. Nah... makanya aku dikasih jalan buntu buat menyalurkan aspirasi. Maybe hikmahnya biar aku tahu, bagaimana rasanya gak dianggep. Dan biar aku tahu, bahwa aku masih selalu terjebak di pengakuan manusia. Padahal secara teori tahu persis... itu nothing...

Dan kalau dirunut lagi... nikmat Tuhan mana lagikah yang aku dustakan... Ya, begitu banyak nikmat Tuhan yang sudah dikasih ke aku. Gak selayaknya aku jadi berasa gak nyaman hanya karena satu kondisi yang dibuat Allah justru untuk memperbaiki diriku. Gak selayaknya ! Atau aku termasuk orang2 yang tidak dapat mensyukuri nikmat-Mu. Hiks... Jadi takut....

NB. Sorry kalo rada susah dimengerti. Ini masih dalam rangka pencarian jawaban, jadinya ya ngalor ngidul gitu...

Monday, June 22, 2009

Melankolis Sempurna

Masih ingat personality plus yang ada 4 macem ? Salah satunya melankolis sempurna. Ya, melankolis yang ingin semuanya sempurna, tapi mengakibatkan dia tertekan dengan ketidaksempurnaan yang ada dimana-mana.

Bukan berarti melankolis sempurna itu jelek, jahat. Nggak. Dia hanya diberi ujian yang lebih besar, dengan karunia sifat dasar sebagai si sempurna. Dan di rumahku ada dua yang melankolis sempurna. Dua, kalau Widad (semoga) bukan melankolis sempurna. Ada tanda2 sih, tapi kayaknya gak sampai separah Iva.

Ya, Iva, anak kedua kami, melankolis sempurna. Itu sifat aslinya, sejak bayi, hehehe. Pas bayi, pada saat belum bisa ngomong, kalau sedang tidur dan posisinya dirubah, dia nangis. Gede dikit, PG kecil, kalau menurut dia gurunya kurang sempurna dan belum minta maaf, dia akan cemberut sama gurunya. Terus aja cemberut sampai gurunya minta maaf. Gede dikit lagi, TK, dia akan memukuli mulutnya sendiri kalau baca doa tidur gak sempurna karena sesuatu hal -- batuk, misalnya. Juga doa makan, dan doa doa yang lain. Sampai kakak dan ortuku heran, kenapa sih... kok kalo gak slesai baca doa dia mukul2 mulutnya sendiri.

Tapi itulah Iva -- Khodijah yang benar dan lurus. Makanya dikasih Allah sifat asli sempurna, hehehe...

Kalo mau tidur, dia memasang selimut harus terpasang tepat dan lurus memenuhi kasurnya, gak boleh ada yg terlipat, meskipun nanti bakalan morat marit kemana2. Kalau pulang sekolah gak boleh terlambat dibukain pintu, cause itu sudah masuk kategori gak sempurna. Efek bagusnya... kalo belajar di sekolah, dibilang harus concern gak boleh ngobrol, jadinya ya dia concern beneran dan gak ngobrol samsek di sekolah. Hasilnya udah keliatan, dia juara 1 paralel dari kelas 1 sampai kelas 3 ini. Dan hasil lain, gurunya complain ke aku, katanya Iva gak pernah bisa ngobrol sama temennya di kelas. Pas tak confirm ke Iva, jawabannya : lho... kata bu guru khan gak boleh ngobrol di kelas... So perfect, right ?

Kalo di buku, kalo gak salah -- maklum, bacanya udah lama, yang perlu diperbaiki dari orang melankolis antara lain menerima ketidak sempurnaan dari sekeliling. Jangan memasang target atau harapan terlalu tinggi. Ntar banyak kecewa. Trus kata buku itu juga, orang melankolis sering merasa sekelilingnya gak sayang sama dia, gak care sama dia. Dan dia berusaha ngebuktiin bahwa dugaannya itu bener. Di Iva, case ini diaplikasikan dengan... tetep pura2 tidur meskipun sudah bangun. Dia minta dibangunkan 'dengan sempurna'. Kalo gak, dia menganggap berarti memang kita gak sayang dia. Dan dengan anggapan itu, dia sukses memulai hari dengan bersedih, tertekan, dan cemberut, karena merasa gak disayang.

Orang kedua yang melankolis sempurna adalah Mbak Tik, mbakku di rumah yang ngurusin semua kerjaan rumah. Tiap ada temen buat ngebantu urusan rumah, dia gak ngerasa nyaman. Karena dia ngerasa gak ada yang bisa kerja sebaik (baca : sesempurna) kerjaannya. Dan temennya juga gak ada yang berasa nyaman, karena tiap ngebantuin dia, selalu aja dibilang salah. Contoh kecil, dia ngebantuin njemur, kalo baju yang dijemur kelipet sedikit, dia udah dimarahin, disalah2in. Semua harus bener2 perfect sesuai gayanya mbak Tik. Begitu juga untuk semua urusan yang lain. Kalo masak, kompor harus sampai kinclong. Nyapu, debu harus bener2 habis. Jendela harus dilap bersih2, dst.

Akhirnya suatu hari, mbak Tik tak ajak ngobrol. Kebetulan ada satu contoh melankolis sempurna yang sudah usia tua di sekitar kami. Tak tunjukkan ke mbak Tik, bahwa begitulah melankolis sempurna itu. Berharap semuanya sempurna. Tidak bersedia menerima pemakluman, apapun alasannya, meskipun untuk hal2 yang sepele dan sangat mungkin untuk dimaklumi walaupun tanpa alasan. Tak kasih tahu juga bahwa Iva, yang kata mbak Tik kadang2 susah karena sering ngambek, ya sebenernya ngambeknya itu karena dia menuntut semuanya sempurna. Karena dia melankolis sempurna.

Trus tak tunjukin juga buku personality plus. Tapi khan gak mungkin kalo mbak Tik baca sendiri. Alhamdulillah, dikasih ide : minta Iva yang baca tentang melankolis sempurna. Apa kekurangannya. Apa yang harus dilakukan, dll. Trus minta Iva nerangin ke mbak Tik. Jadi sekalian, mbak Tik jadi tahu, Iva juga jadi faham.

Alhamdulillah, makin kesini, taraf Iva menuntut kesempurnaan dari orang lain makin berkurang. Dia makin bisa memaklumi kondisi sekitar. Makin memahami bahwa dunia ini beragam. Semoga Iva, mbak Tik, tetanggaku yang melankolis sempurna, dan orang2 yang dianugerahi sifat melankolis sempurna oleh Allah diberi kemudahan untuk dapat melihat dunia dengan lebih sederhana dan mengurangi beban dan tuntutan yang selama ini dirasakan. Amien.