Monday, August 15, 2011

Ramadhan hari ke-15

Ramadhan sudah di hari ke-15. Tilawah kita sudah di juz keberapa ?

Hari ke-15 berarti sudah di pertengahan 10 hari kedua Ramadhan yang penuh dengan maghfiroh. Di hari-hari ini Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya.

Pada hari-hari ini pula, kondisi dan stamina kita mulai turun. Setelah 10 hari pertama dengan penuh semangat menghidupkan Ramadhan, hari-hari ini capek, letih, lelah mulai dirasakan. Kepayahan. Sakit. Fisik juga mulai drop.

Sebelumnya, kalo mulai ngalamin kondisi begini, maka aku ngerem aktivitas. Dengan harapan supaya bisa mencapai finish dengan 'selamat'. Cuman tausiyah terakhir yang aku dapat membuat aku berusaha 'bangkit'.

Karena, maghfiroh itu memang ditandai dengan kepayahan, keletihan, dan sakit. Hal-hal itu yang mengiringi turunnya maghfiroh dari Allah SWT. Dan bagaimana tanda kita sukses mendapat maghfiroh ? Kalo kita gak merasakan lagi sakit, payah, dan capek.

Hmm... bentar... perlu diluruskan. Jangan salah sangka. Kepayahan, capek, dan sakit tetap ada. Cuman kalo udah dapat maghfiroh, maka itu tidak dirasakan lagi. Gak dianggep lagi. Begitu...

Karena surga itu dikelilingi dengan kepayahan dan keletihan. Jadi kalo kita ngelakuin sesuatu dan happy, hmm... dunia itu... dan bukan akherat (ini kata ustadzahnya lho...). Dan kalo kita gak mau berpayah-payah lagi, gak mau berasa capek lagi, ya berarti kita udah gak mau dapat surga...

So, dengan tausiyah itu... akhirnya aku mengusahakan kembali. Yang biasanya terus ngerem supaya bisa 'maksimal' sampai akhir ramadhan, sekarang jadi tetep tak upayakan, dan berusaha mengabaikan segala jenis penyakit yang mulai menyerbu. Gak sakit parah sih, penyakit standart lah. Flu, sakit tenggorokan, dst nya.

Semoga tahun ini Ramadhan kita lebih sukses dari tahun2 sebelumnya. Amien...

Gambari diambil dari sini.

Friday, August 12, 2011

Ternyata belum cukup...

Hari ini dapat pelajaran baru lagi. Hikmah baru.
Kirain selama ini aku udah cukup ‘hebat’ dalam urusan meng-qawwam-kan suami. Namun ternyata, seperti kata para ustadzah, kalo kita merasa soleh, justru itulah tanda kita lagi gak soleh. Karena di atas langit ada langit. Karena liyabluwakum ayyukum ahsanu amala. Karena Allah melihat siapa yang lebih baik amalnya. Di antara yang amalnya baik, ada yang amalnya lebih baik. Di antara yang lebih baik, ada amal terbaik. Dan begitu seterusnya.
Makanya, buatku, penting untuk selalu berkumpul bersama orang soleh. Selalu dalam putaran mereka. Karena itu tadi, untuk berkaca diri, bahwa ternyata selalu ada yang lebih baik dari kita. Kalo derap bersama orang soleh berhenti, khawatir aja jadi ngerasa udah hebat. Padahal dibanding ‘para orang soleh’, ternyata amalku seujung kuku mereka juga gak nyampe. Uff… sedihnya…
Balik ke masalah per-qawwam-an. Akhir2 ini ada satu hal yang aku sama suami masih belum sefaham dalam metodanya. Anggaplah gini, kita lagi ada problem sama pihak lain. Kita udah sepakat, bahwa problem itu kudu diselesaikan. Cuman gimana caranya ?
Disini mulailah gak sepakat itu muncul. Aku sebagai pihak yang moderat dan vokal (hihihi… ngerasanya sih begitu….) jadi pengen menyampaikan saja, maunya kita tuh gimana. Supaya ada komunikasi gitu. Jadi clear. Kali aja mereka gak ngerti kita maunya apa. Itu dalam pikiranku. Sementara suami, lebih ke arah damai aja, toh kita udah pernah implisit menyampaikan. Jadi sekarang, usaha suami lebih ke arah pendekatan ke sang pemilik kuasa. And the rest, gimana Allah SWT ngasihnya. Begitu…
Nah, dalam pikiran normalku, khan manusia kudu usaha. Khan Allah gak akan ngubah keadaan suatu kaum sampai dia berusaha. Jadi kita kudu usaha khan. Ya gak ? Para pembaca sepakat sama aku khan ? Hehehe… (Cari dukungan J)
Sementara, tak liat suamiku juga gak begitu kuat sebenernya. Buktinya, even urusan ibadah memang nambah, tapi badan rupanya belum ikut nahan. Jadilah fisik yg gak kuat nopang. (baca : sakit).
Dan karena ngeliat suami jadi lebih gampang sakit, maka aku juga jadi tambah keukeuh aja buat ngomporin bin maksa supaya ada komunikasi, supaya ngomong getoo….
Tapi, rupanya Allah memberi jalan lain. Setelah diskusi sana sini dengan para orang soleh, aku disadarkan. Ternyata porsiku gak gitu kok. Porsi sebagai istri adalah mendukung suami. So, kalo suami milih itu, dan dia jungkir balik sampai sakit, yasudah, porsi kita tetap mendukung, mengiyakan, memberi ruang buat suami. Karena even sakit, bisa jadi sakit itu memang cara Allah untuk membersihkan kotoran2. Karena ada jenis2 kesalahan yang gak bisa dibersihkan dengan ibadah, dengan doa, dengan istighfar. Tapi dibersihkan Allah hanya dengan cara diberi sakit, kepayahan, kelelahan, didholimi, dll.
Karena hati itu cuman hanya bisa terisi satu hal. Kalo gak fujur, ya taqwa. So, kalo ada sedikit saja potensi fujur, khan hati jadi gak bersih. Makanya karena Allah sayang kita, maka dikasihlah itu bertumpuk segala macam sakit, kesusahan, kepayahan, supaya fujurnya ditekan sampai habis. Supaya tinggal taqwa yang ada. Begitu…
Jadi kita kudune gimana donk ? Ya itu tadi, porsinya sebagai pendukung. Jadi aku kudu ngasih ruang buat suami ber-kontemplasi sama sang Khalik. Kalo di curhatin, ya dengerin. Ditanya, ya dijawab. Tapi gak perlu ngeyel. Kalo suami mo konsen ngapalin Quran, ya kasih ruang (dan waktu). That’s all. Gak perlu berdiskusi tentang tema itu kecuali kalo suami ngebuka diskusi. Gak perlu berdiplomasi. Apalagi berusaha meyakinkan dengan ide2 kita J (biasane gitu sih…)
Begitu saran yang masuk ke aku. Trus aku sukses gak ngelakuin ? Dan gimana hasilnya di suami ? Kita tunggu yaks… khan dapat sarannya juga barusan… Hehehe…
Yang jelas, usaha khan tetep dijalankanlah…
Gambar diambil dari sini.

Thursday, June 16, 2011

Priority

Berapa hari yang lalu, Uthi bangun tidur dengan sikon yang gak nyaman. Hasilnya bisa ditebak, dia uring-uringan. Semua jadi keliatan salah. Untuk diketahui, Uthi ini modelnya Koleris, kinestetik. Jadi dia memang dianugerahi Allah tenaga yang kuat, prima. Jadi ujian dia memang di urusan mengendalikan diri, menahan diri.

Pagi2 jadi kudu mikir. Cause kalo nggak, bisa ribet... Khawatir kebawa2 sampai dia gede nanti.

Jadi tak panggillah dia, kita berhadapan berdua di pojok paling favorit di rumah. Trus mulai dech, "baca Al Fatihah". Trus aja tak tunggu, sampai dia baca Al Fatihah dengan benar. Selesai itu tak liat, ekspresinya udah cerah belum. Kalo masih belum, lanjut, "Baca An Naas". Teruuuusss... aja, sampai ekspresinya cerah dan bisa tersenyum ceria lagi.

Nah, case kemaren, ternyata lumayan lama. Sampai waktunya siap2 ke sekolah, ternyata ekspresinya masih mbundhet. Ujung2nya, Uthi siap ke sekolah pas jamnya udah telat.

Dia udah ribut... gak mau sekolah, ntar aku dihukum. Hmm... another problem. Tak bilang aja, gak, gak dihukum, ntar dianter umi. Sekarang umi mo sms dulu kasih tahu bu guru yaks. Dan aku sms didepan dia dan dibaca dia : Afwan bu, berhubung tadi ada diskusi sama Uthi, jadi mohon ijin dia terlambat sekolah. Mohon dimaklumi dan tidak dihukum. Jazakillah.

Uthi tampak lega setelah baca sms itu. Dan Alhamdulillah, di sekolah gurunya cuman senyum dan gak menghukum Uthi.

Tapi di jalan, aku jadi mikir, bener gak ya, keputusanku. Sampai 'ngebiarin' Uthi telat karena ngobrol sama aku. Ngrenung dibolak balik sambil jalan ke kantor... Sampailah pada keputusan, gak salah. Cause kalo sekolah terlambat, insya Allah masih bisa dikejar. Tapi kalo momen buat peningkatan kepribadian dia, gak bisa setiap waktu diperoleh. Dan kalo momen itu dicuekin, lewatlah salah satu momen emas buat nerangin ke Uthi dan membuat dia faham. Padahal dia bakal berpengaruh sampai gede nanti, insya Allah.

Setuju gak ?

Friday, May 6, 2011

Memilih...

Mencoba menghitung usia produktif...

Kupikir, untuk piawai dan menguasai hal2 yang detil, dan mengikuti perkembangan teknologi sembari tetap trampil di level detil, ada limit usianya. Ada batas umur untuk bisa mahir dengan kerumitan. Lewat treshold-nya, kemampuan untuk rinci dan teliti mulai meniti grafik menurun.

Sementara, kemampuan manajerial, practice makes perfect. Semakin bertambah usia, gak ngaruh, malah makin mumpuni, sejauh practice -- dilatih, dan tetep berlatih.

Dan bersyukurlah aku, karena kemampuan manajerial kami dilatih di ourselves bisnis. As Owner, kami bebas menentukan arah bisnis. Kami bebas menentukan pedoman untuk bisnis kami. Dan Alhamdulillah, kami telah sepakat untuk menjalankan Anugrah sesuai tuntunan yang benar, sesuai yang kami tahu tentang perintah Allah SWT dan larangannya, dan sesuai contoh yang diberikan Rasululloh SAW.

Melihat sekitar, mencermati lingkungan, mengamati teman2, sepertinya langkah kami mulai jelas terpetakan. Saatnya untuk mulai meminta pertimbangan Allah dengan istikharah kepada-Nya, untuk menentukan takdir Allah yang manakah yang kami pilih. Apakah berpindah dari satu takdir ke yang lainnya, atau tetap dengan takdir yang telah dijalani, atau bahkan ke takdir lainnya lagi.

Hanya berharap bisa membaca hikmah yang diberikan melalui kejadian2 yang Allah SWT desain. Hanya berharap bisa belajar dan mengambil apa yang Allah ajarkan. Sembari berharap bisa ridho sama apapun ketentuan Allah SWT yang ditetapkan-Nya atas kami, dan Allah ridho pada apa yang kami lakukan. Sehingga kita bisa masuk surga (firdaus) dengan ridho-Nya. Amien...

Monday, May 2, 2011

Oportunis

Hari ini speechless... Uff...

Berinteraksi dengan beragam orang, beragam tipe perilaku, beragam kemauan dan keinginan, dan beragam target dan cara yang dipilih untuk mencapainya. Membuat aku berpikir... dan belajar banyak...

Sebagai 'mantan' pleghmatis asli, aku tidak terbiasa untuk mengambil kesempatan. Tidak terbiasa untuk oportunis, memanfaatkan kesempatan sejauh masih dalam norma yang benar. Sebagai seorang pleghmatis, (tadinya) lebih sering menerima saja keputusan yang diambil orang lain.

Bergaul dengan banyak orang dengan beragam tipe, membuatku berpikir ulang dan belajar banyak hal...

Puncaknya pas ada pertanyaan di kuiz : apabila dari tempat kita berdiri, terlihat ada 3 pintu. Ketiganya terbuka lebar. Di luar ketiga pintu itu, terlihat pemandangan yang indah dan sangat alami, dengan air terjun, bunga2 yang mekar, kupu2, burung2 beterbangan, dll. Di persimpangan menuju pintu2 tsb, ada kunci tergeletak. Apakah Anda akan mengambilnya ?

Dengan berbagai pertimbangan... aku memilih : tidak. Karena toh pintunya terbuka, aku belum perlu kunci tsb. Siapa tahu nanti ada yang lebih perlu. Dan kalopun nanti ada pintu tertutup, khan aku bisa balik lagi buat ngambil.

Sayangnya, seorang opoprtunis akan memilih : ambil. Dengan alasan gak ada salahnya diambil, siapa tahu ntar pintunya nutup dan ngunci. Lagian, gak ada yang dirugikan kalo kita ngambil. Kalopun ntar ada yang butuh, khan bisa minta ke kita.

You see ? Terlihat yaks, perbedaannya...
Jadi sejak aku menyadarinya, mulailah aku mengamati, dan belajar untuk meningkatkan level oportunisku, agar nggak pleghmatis2 banget. Dan pembelajaranku juga diimbaskan ke lingkungan terbatas, hanya mereka yang tak pikir perlu dan mau berubah.

Include di oportunis... adalah mengemas dengan indah. Selama ini, hal yang bagus, yang besar, gak bisa tak gambarkan dalam kata2, sehingga orang lain menganggap biasa2 saja. Sementara di tangan orang oportunis (sanguinis ?), hal yang biasa bisa menjadi begitu bagus, begitu besar, begitu spektakuler. Really...

Ini juga masih belajar, masih mengamati. Masih menjadi pengamat dan pemerhati kata2 pada saat para oportunis bicara. Bagaimana caranya mereka menjawab dan merangkai kata, sehingga orang lain merasa itu hal yang hebat.

Dan satu lagi, belajar untuk menghargai diri sendiri. Karena para pleghmatis, biasane gak menghargai hasil karya sendiri, karena selalu saja masih ada kekurangannya. Padahal di tangan oportunis, dengan karya yang sama dan kekurangan yang (malah) jauh lebih banyak, bisa berbangga dan menyampaikan ke orang lain kehebatannya, sembari mengolah kata supaya (bahkan) kekurangannya jadi terlihat kelebihan juga.

Uff... hebat yaks orang oportunis...
Iyah hebat... dengan satu catatan... oportunis gak papa, bahkan perlu, cuman tetep di koridor yang bener, sejauh gak mendholimi orang lain...

Jadi, belajar oportunis yook, mariii....