Omset di toko Anugerah, sepertinya punya siklus tersendiri. Kalau yang pernah aku amatin untuk siklus omset pekanan, pekan pertama itu cukup besar. Kalau range A sampai D, pekan pertama tiap bulan dapat nilai A. Pekan kedua dapat nilai B. Pekan ketiga dapat nilai C. Nah, pekan keempat balik lagi, dapat nilai A lagi. Ini siklus omset Anugerah Collection yang hampir berulang setiap bulan.
Nha, nilai D diperoleh pas pekan pekan pertama setelah lebaran. Maklum... khan beberapa hari libur, hehehe. Itu yang aku sudah amati untuk omset pekanan.
Pekan ini, baru terpikir untuk ngamatin siklus omset bulanan nya. Pemicunya, ada peningkatan omset yang signifikan di bulan Juni dan Juli. Kebetulan pada awal Juni, Anugerah memang melakukan renovasi pada interior toko. Maksudnya nambah lampu gitu lho. Gak tahu memang karena itu atau tidak, yang jelas bulan Juni dan Juli omset naik hampir 2x.
Trigger kedua, karena di awal Agustus, omset turun drastis. Dibilang turun kalau dibandingkan dengan peningkatan omset di bulan Juni dan Juli. Jadi sebenarnya kalo dibandingkan dengan bulan Mei, omset normal sich. Problemnya karena omset bulan Juni dan Juli khan naik 2x. Jadi standard omset harusnya udah yang naik 2x itu. Tapi ternyata awal bulan Agustus omsetnya mirip dengan Mei. Udah ketar ketir dech. Pertanyaan 'kenapa' padha bermunculan di kepala.
Trigger ketiga, karena ternyata di pekan ke-3 Agustus, omset normal lagi seperti kenaikan yang dialami di bulan Juni dan Juli. Jadi pertanyaan yang tersisa bertambah banyak. Walopun udah rada santai untuk mikirinnya. Tidak setegang saat awal Agustus kemaren.
Jadi terpikir. Pengennya kita udah tahu siklusnya gitu lho. Jadi misalnya nich, sudah biasa kalo Juni dan Juli itu omset 2x. Jadi pas tahun depan, kalo Juni dan Juli naik, kita udah biasa, dan udah siap tentunya. Nha, kalo memang siklusnya awal Agustus itu cuman x, kita juga gak terlalu kepikiran. Karena khan memang biasa, sudah siklusnya untuk turun. Jadi gak hanya siklus menjelang lebaran aja yang tertangkap. Hmm... means ada PR lagi yang harus dikerjakan nih...
Psst... penurunan di awal Agustus juga terjadi di beberapa toko fashion rekan TDA. Dan Alhamdulillah, saat Anugerah mulai mengalami kenaikan lagi, sepertinya toko mereka juga sama. Ini hasil pengamatan setelah visit bebebapa blog rekan TDA.
Wednesday, August 29, 2007
Monday, August 20, 2007
Foto Anugerah Collection
Akhirnya setelah tertunda sekian kali, saya upload juga foto toko pertama kami di ITC Depok.
Ada 2 rencana perbaikan yang belum dilakukan. Yang pertama, mengganti papan nama dengan sign board yang pakai lampu, sehingga toko bisa lebih terang. Rencananya ini akan dilakukan insya Allah setelah lebaran tahun ini.
Sedangkan perbaikan yang kedua, adalah pemasangan brosur atau apapun untuk mengisi dinding di belakang rak yang terlihat masih polos. Padahal dinding ini terlihat dari tangga karena posisi kios kami yang di hook.
Sayang gambarnya gelap. Sebenarnya kalau terang, terlihat di dalam toko kami sediakan space untuk 2 / 3 kursi sehingga bapak / ibu yang mengantar dapat nyaman menunggui putrinya memilih baju yang cocok.
Toko kami juga kami penuhi dengan rak, untuk meningkatkan kapasitas baju yang dapat disimpan di toko. Harapannya, dengan banyaknya stock dari berbagai range harga, maka pembeli akan banyak pilihan sehingga kemungkinan membeli pun lebih besar.
Hmm... apa lagi ya... Segitu dulu aja dech. Kalo ada foto baru lagi insya Allah kita upload.
Standarisasi
Tadinya kukira standarisasi hanya urusan perusahaan besar. Ternyata dalam usaha retail busana, standarisasi ini juga penting banget. Pegang peranan kunci.
Ada satu vendor saya, yang memang penjahit amatiran. Saya sering mengambil rok dewasa dari penjahit ini.
Pada awal pengambilan, saya suka heran. Kenapa sich, ukurannya sering aneh aneh. Kayak anak tangga. Misalnya saja, panjang rok itu bisa saja 70, 71, 72, 73, dst. Selisih nya bisa cuman 1 cm. Terus kadang muncuk rok yang super panjang. Atau malah super pendek.
Pas kita tanyain ke produsennya, jawaban yang kudapat, "karena menyesuaikan bahan yang ada. Kalo bahannya masih panjang, sayang khan kalo dipotong. Sebaliknya kalau bahan tinggal dikit, ya jadinya dikecilin." Gubrak !!
Katanya juga, gak papa. Khan tinggi orang juga beda beda. Hehehe. Alasannya ok sich. Cuman... kebayang gak. Kalo misalnya di toko lagi ada yang minat rok tsb. Terus ukurannya terlalu besar. Nah, gimana caranya Iis nyariin satu rok yang lebih kecil, dan ukurannya pas dengan yang dateng. Kebayang gak ? Iis musti mbukain rok itu satu persatu, dan membandingkan panjangnya dengan yang lama. Teruuus aja sampai ketemu dengan rok yang panjangnya sesuai dengan yang beli. Ya kalau roknya cuman 5. Kalau roknya ada 30, terus musti bukain satu satu dan ngebandingin, kebayang gak ? Wah, bisa bisa pembeli berikutnya gak sempet dilayani dech... :-)
Jadinya kusarankan ke penjahit tsb, untuk standarisasi ukuran. Jadi bikin aja standard. Kalo S, berarti panjangnya sekian. Kalo M sekian. L sekian. Nha, kalo ada yang lebih kecil, kasih SS. Kalo lebih besar, pasang LL atau XL.
Jadi kalo di toko ada yang minat, Iis tinggal lihat ukurannya. Kalo SS masih terlalu besar, ya udah, tinggal bilang ke calon pembeli : maap, ini yang paling kecil. Jadinya dia gak perlu mbukain semua rok untuk nyari panjang yang sesuai. Irit tenaga dan waktu. Dan toko juga jadi gak berantakan, penuh dengan tumpukan baju yang belum dilipet gara gara nyari ukuran rok, hehehe. Alhamdulillah, sekarang hal ini sudah diterapkan.
Ada lagi yang kayaknya sering gak standard juga di produsen, terutama produsen yang masih home industri. Yaitu harga. Dari sisi penjualan retail (tepatnya dari sisi saya, hehehe) , pinginnya standard harga jelas. Misalnya rok ukuran s harga sekian. M harga sekian, dst. Atau ukuran s bahan jeans harga sekian. Bahan katun harga sekian, dst. Atau bordir harga x, sablon harga sekian. Jadinya enak yang ngejual. Gak khawatir salah harga, karena human error udah diminimalisasi.
Saya sempat menemui beberapa yang menentukan harga berdasarkan harga bahan yang diperoleh. Gak salah sich. Cuman jadinya kita yang ngejual susah. Kemarennya rok harga belinya 40.000. Sekarang 45.000 karena gak ada lagi kain kiloan, adanya yang meteran. Besoknya lagi jadi 35.000, karena belinya gulungan. Dst. Wah, blaik kalo kayak gini. Pengennya sich berapa harga bahan tuch kita merem aja. Yang dipake sistem subsidi silang. Pas yang dapet murah, mensubsidi yang dapet bagus. Jadi harganya yang muncul untuk kita beli tetep gitu lho...
Nha, sample untuk case kedua ini adalah sik clothing. Sungguh, SIK Clothing produk yang bagus. Bahan bagus. Model bagus. Warna bagus. Range harga juga bagus. Cuman pas aku lihat harganya, aduh... gimana caranya mengingat ingat yang mana yang 45.000 nih ? Betul betul gak ada key yang merelasikan satu satu antara harga dengan produk. Solusi sementara ini sich kita tempelin label harga. Tapi ini berarti struk pembelian kita ke SIK Clothing dan katalognya gak boleh ilang. Karena kalo ilang, tamat dech. Kita gak tahu lagi mana yang harganya sekian. Atau aku aja yang gak nemu relasi uniknya ya ?
Kalo ada yang tahu sebenarnya penentuan harga di SIK CLothing berdasarkan apa, please kasih tahu kita ya. Atau kalau ternyata harga itu memang gak standard -- harga ditentukan per produk yang muncul, please, kalo ada yang deket sama SIK Clothing, tolong disampaikan masukan ini ya. Supaya ada range harga yang jelas gitu lho...
-- yang lagi pusing karena nemu produk yang gak standard lagi...
Ada satu vendor saya, yang memang penjahit amatiran. Saya sering mengambil rok dewasa dari penjahit ini.
Pada awal pengambilan, saya suka heran. Kenapa sich, ukurannya sering aneh aneh. Kayak anak tangga. Misalnya saja, panjang rok itu bisa saja 70, 71, 72, 73, dst. Selisih nya bisa cuman 1 cm. Terus kadang muncuk rok yang super panjang. Atau malah super pendek.
Pas kita tanyain ke produsennya, jawaban yang kudapat, "karena menyesuaikan bahan yang ada. Kalo bahannya masih panjang, sayang khan kalo dipotong. Sebaliknya kalau bahan tinggal dikit, ya jadinya dikecilin." Gubrak !!
Katanya juga, gak papa. Khan tinggi orang juga beda beda. Hehehe. Alasannya ok sich. Cuman... kebayang gak. Kalo misalnya di toko lagi ada yang minat rok tsb. Terus ukurannya terlalu besar. Nah, gimana caranya Iis nyariin satu rok yang lebih kecil, dan ukurannya pas dengan yang dateng. Kebayang gak ? Iis musti mbukain rok itu satu persatu, dan membandingkan panjangnya dengan yang lama. Teruuus aja sampai ketemu dengan rok yang panjangnya sesuai dengan yang beli. Ya kalau roknya cuman 5. Kalau roknya ada 30, terus musti bukain satu satu dan ngebandingin, kebayang gak ? Wah, bisa bisa pembeli berikutnya gak sempet dilayani dech... :-)
Jadinya kusarankan ke penjahit tsb, untuk standarisasi ukuran. Jadi bikin aja standard. Kalo S, berarti panjangnya sekian. Kalo M sekian. L sekian. Nha, kalo ada yang lebih kecil, kasih SS. Kalo lebih besar, pasang LL atau XL.
Jadi kalo di toko ada yang minat, Iis tinggal lihat ukurannya. Kalo SS masih terlalu besar, ya udah, tinggal bilang ke calon pembeli : maap, ini yang paling kecil. Jadinya dia gak perlu mbukain semua rok untuk nyari panjang yang sesuai. Irit tenaga dan waktu. Dan toko juga jadi gak berantakan, penuh dengan tumpukan baju yang belum dilipet gara gara nyari ukuran rok, hehehe. Alhamdulillah, sekarang hal ini sudah diterapkan.
Ada lagi yang kayaknya sering gak standard juga di produsen, terutama produsen yang masih home industri. Yaitu harga. Dari sisi penjualan retail (tepatnya dari sisi saya, hehehe) , pinginnya standard harga jelas. Misalnya rok ukuran s harga sekian. M harga sekian, dst. Atau ukuran s bahan jeans harga sekian. Bahan katun harga sekian, dst. Atau bordir harga x, sablon harga sekian. Jadinya enak yang ngejual. Gak khawatir salah harga, karena human error udah diminimalisasi.
Saya sempat menemui beberapa yang menentukan harga berdasarkan harga bahan yang diperoleh. Gak salah sich. Cuman jadinya kita yang ngejual susah. Kemarennya rok harga belinya 40.000. Sekarang 45.000 karena gak ada lagi kain kiloan, adanya yang meteran. Besoknya lagi jadi 35.000, karena belinya gulungan. Dst. Wah, blaik kalo kayak gini. Pengennya sich berapa harga bahan tuch kita merem aja. Yang dipake sistem subsidi silang. Pas yang dapet murah, mensubsidi yang dapet bagus. Jadi harganya yang muncul untuk kita beli tetep gitu lho...
Nha, sample untuk case kedua ini adalah sik clothing. Sungguh, SIK Clothing produk yang bagus. Bahan bagus. Model bagus. Warna bagus. Range harga juga bagus. Cuman pas aku lihat harganya, aduh... gimana caranya mengingat ingat yang mana yang 45.000 nih ? Betul betul gak ada key yang merelasikan satu satu antara harga dengan produk. Solusi sementara ini sich kita tempelin label harga. Tapi ini berarti struk pembelian kita ke SIK Clothing dan katalognya gak boleh ilang. Karena kalo ilang, tamat dech. Kita gak tahu lagi mana yang harganya sekian. Atau aku aja yang gak nemu relasi uniknya ya ?
Kalo ada yang tahu sebenarnya penentuan harga di SIK CLothing berdasarkan apa, please kasih tahu kita ya. Atau kalau ternyata harga itu memang gak standard -- harga ditentukan per produk yang muncul, please, kalo ada yang deket sama SIK Clothing, tolong disampaikan masukan ini ya. Supaya ada range harga yang jelas gitu lho...
-- yang lagi pusing karena nemu produk yang gak standard lagi...
Thursday, August 16, 2007
Bulan Training
Hmm... hari ini sudah hari ke-3 bulan Syaban. Allahumma bariklana fii syaban wa balighna Ramadhan. Ya Allah, berkahilan kami di bulan Syaban, dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan.
Rajab dan Syaban. Bulan pembersihan. Bulan training. Bulan pelatihan sebelum menghadapi test yang sesungguhnya, bulan Ramadhan.
Pada bulan Rajab dan Syaban, begitu banyak ujian yang datang. Semua untuk membersihkan diri kita. Untuk meningkatkan kualitas diri dan hati. Untuk menentukan di kelas berapa kita saat Ramadhan. Di tingkatan mana ketaatan kita berada. Dan seberapa banyak hidayah yang dapat kita terima.
Di bulan Rajab dan Syaban, ujian yang datang ke tiap orang berbeda beda. Tergantung dimana kelemahan kita saat itu. Tergantung dimana kekurangan ketaatan kita. Tergantung di sebelah mana ruh kita harus dibenahi. Tergantung dimana Allah akan meningkatkan ilmu dan iman kita. Dan Allah Maha Tahu. Maha Tahu iman bagian mana yang seharusnya kita tingkatkan pada tahun ini. Maha Tahu ilmu ketakwaan mana yang harus kita pelajari tahun ini. Maha Tahu baru sampai sebatas mana kita bisa menerima pelajaran yang diberikan.
Untuk lulus dan tidaknya, sangat tergantung dengan usaha kita. Bukan, bukan Allah nggak tahu kita akan lulus atau tidak. Tapi penentuan dari Allah tentang kelulusan kita sangat tergantung dari apa yang kita lakukan. Atau lebih tepatnya, tergantung apa yang Allah lihat telah kita usahakan. Bukan berarti Allah tidak melihat apa yang kita lakukan. Tapi kita sendirilah yang kadang melihat hanya sebagian dari yang kita lakukan. Banyak faktor X dari yang kita lakukan tidak terlihat, tidak terasa oleh hati kita sendiri. Karena hati kita terlalu buram untuk bercermin. Karena hati kita telah terlalu penuh dengan noda. Dan Allah yang Maha Tahu. Dan Allah yang Maha Adil.
Ujungnya, mari kita cermati apa yang terjadi pada kita detik demi detik, menit demi menit, terutama di bulan ini. Isi dengan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Pada bulan inilah kita berlatih. Berusaha terus menerus supaya terlatih. Supaya terbiasa. Agar di bulan Ramadhan, kita sudah terbiasa. Dan bukan berlatih lagi.
Allahumma bariklana fii Syaban wa balighna Ramadhan
Allahumma bariklana fii Syaban wa balighna Ramadhan
Allahumma bariklana fii Syaban wa balighna Ramadhan
Laa ilaha illa Anta, subhanaKa inni kuntu minal dholimin
Rajab dan Syaban. Bulan pembersihan. Bulan training. Bulan pelatihan sebelum menghadapi test yang sesungguhnya, bulan Ramadhan.
Pada bulan Rajab dan Syaban, begitu banyak ujian yang datang. Semua untuk membersihkan diri kita. Untuk meningkatkan kualitas diri dan hati. Untuk menentukan di kelas berapa kita saat Ramadhan. Di tingkatan mana ketaatan kita berada. Dan seberapa banyak hidayah yang dapat kita terima.
Di bulan Rajab dan Syaban, ujian yang datang ke tiap orang berbeda beda. Tergantung dimana kelemahan kita saat itu. Tergantung dimana kekurangan ketaatan kita. Tergantung di sebelah mana ruh kita harus dibenahi. Tergantung dimana Allah akan meningkatkan ilmu dan iman kita. Dan Allah Maha Tahu. Maha Tahu iman bagian mana yang seharusnya kita tingkatkan pada tahun ini. Maha Tahu ilmu ketakwaan mana yang harus kita pelajari tahun ini. Maha Tahu baru sampai sebatas mana kita bisa menerima pelajaran yang diberikan.
Untuk lulus dan tidaknya, sangat tergantung dengan usaha kita. Bukan, bukan Allah nggak tahu kita akan lulus atau tidak. Tapi penentuan dari Allah tentang kelulusan kita sangat tergantung dari apa yang kita lakukan. Atau lebih tepatnya, tergantung apa yang Allah lihat telah kita usahakan. Bukan berarti Allah tidak melihat apa yang kita lakukan. Tapi kita sendirilah yang kadang melihat hanya sebagian dari yang kita lakukan. Banyak faktor X dari yang kita lakukan tidak terlihat, tidak terasa oleh hati kita sendiri. Karena hati kita terlalu buram untuk bercermin. Karena hati kita telah terlalu penuh dengan noda. Dan Allah yang Maha Tahu. Dan Allah yang Maha Adil.
Ujungnya, mari kita cermati apa yang terjadi pada kita detik demi detik, menit demi menit, terutama di bulan ini. Isi dengan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Pada bulan inilah kita berlatih. Berusaha terus menerus supaya terlatih. Supaya terbiasa. Agar di bulan Ramadhan, kita sudah terbiasa. Dan bukan berlatih lagi.
Allahumma bariklana fii Syaban wa balighna Ramadhan
Allahumma bariklana fii Syaban wa balighna Ramadhan
Allahumma bariklana fii Syaban wa balighna Ramadhan
Laa ilaha illa Anta, subhanaKa inni kuntu minal dholimin
Subscribe to:
Posts (Atom)