Pagi ini buka blog mbak Doris, hmm... ikut seneng, tulisan mbak Doris tentang mimpi masuk 10 besar. Trus baca lagi sampai bawah, muncul daftar yang masuk 10 besar. Walah... ada namaku... ada Anugerah... its surprise... Senyum lebar langsung nempel di wajah :-))
Yach... mekipun mungkin untuk yang lain sepele. 'Cuman' 10 besar, dan gak termasuk yang menang -- cause yang menang itu 3 besar. Tapi buat saya, 10 besar sudah mempunyai arti yang soangat besar. Mengingat keterlibatanku di TDA cuman online, gak pernah nongol di offline. Sementara di TDA sering ditegaskan, bahwa ini bukan milis, tapi komunitas. Yang menekankan pentingnya silaturahim. Yang memastikan betapa sangat bergunanya pertemuan offline. Apalagi dengan sekian banyaknya pertemuan offline yang sangat pengen kuhadiri, tapi juga sangat disayangkan gak bisa ku-ikuti.
Tadinya udah mulai gak PeDe juga muncul di TDA. Ya karena gak aktif di offline itu tadi. Kesannya ngomong doang. Padahal suer... bukannya gak mau, tapi ya itulah... cause sampai saat ini, alasan yang dapat aku toleransi untuk meninggalkan anak-anak di hari sabtu ahad hanya urusan ngaji. (Eh, sama senam denk, sejam doank sih, hehehe) Termasuk urusan kerjaan TDB, kalo kudu muncul sabtu ahad, ya mohon maaf, gak ada toleransi buat ninggalin anak2. Juga urusan toko, kalo musti ninggalin anak2 di sabtu ahad, juga gak ditolerir. Yach... balik lagi, prioritas pertama di daftarku masih family euy...:-)
Cuman untuk urusan online, aku berusaha untuk ikut aktif. Paling gak buat nutup yang offline lah. Jadi kayak sekarang nich, cause kemaren gak mungkin ikutan MILAD, jadi hari ini sibuk mantau blog dan mail. Pengen tahu, ada info baru gak dari MILAD 2 TDA.
Dan karena gak pernah ikutan acara offline, aku udah gak PeDe aja. Ikut nulis mimpi sich ikut aja, khan judulnya meramaikan. Tapi untuk masuk nominasi... walah... udah ngerasa dech :-( Namun alhamdulillah, ternyata bisa masuk 10 besar. Makasih ya bu Ning, makasih pak Is, makasih pak Nano, dan semua yang terlibat. Makasih untuk semuanya. Makasih untuk telah membuat saya PeDe lagi untuk tetap bergabung dengan TDA meskipun tak satupun kegiatan offline 'berhasil' saya ikuti. Makasih untuk semangat yang senantiasa dipompakan.
Dan khusus untuk pak Nano, terima kasih banyak untuk motivasi yang sering dikirimkan di shoutbox saya. Sungguh telah menjadi penyemangat dan penggerak untuk terus luar biasa prima.
Dan untuk mengingatnya, kucantumkan email dari bu Ning ttg informasi tsb. :
LOMBA MENULIS MIMPI, SAMBUT MILAD 2 TDA
Kriteria lomba :
Keberanian menuliskan mimpi
Kreatifitas
Gaya bahasa
Alur Cerita
Take action mewujudkan mimpi
Dengan ini menimbang, memahami, dan memutuskan pemenang lomba menulis mimpi Menyambut Milad 2 TDA 2008 :
Titik Parwati Hesti, judul tulisan: Income Rp.4.5 Miliar per tahun dari SofwareAkuntansi TDA Soft nilai 15.800,
Thomas Aquino/The Big Bear, judul tulisan: Impianku 2008, Pameran dilima Benua lima belas Negara, 15.200
Faif Yusuf, judul tulisan : Impian impian besar sedang menjalar : 14,900
Yang masuk 10 besar :
Tutut Vaty Husnawati,Dreams Anugerah, and make it come true.
Trimuriana B, Membesarkan Muriana Corp sebesar usaha Salim Grup
Catur Arie Setiyani : Jepang tunggu saya
Abi Ketjil/Hatta : Berbagi peluang bisnis
Doris Nasution : Mimpi-mimpi adalah doa
Yuni Prisnawati : Jamu gendong akan mengantarku naik haji
Choirul Asyar : Dari tukang sapu sampai guru.
Ketua Dewan Yuri: Aning Harmanto,
penulis buku dan pengusaha jamu PT.Mahkotadewa Indonesia
Dewan yuri:
Isdiyanto- wartawan, pemiilik dan pengelola 9 media cetak
Jonru - guru belajar menulis dan pengusaha
Wuryanano – motivator,penulis buku dan pengusaha
Tim Mahkotadewa Indonesia.
Demikian keputusan pemenang lomba menulis mimpi menyambut Milad2TDA dan tidakbisa diganggu gugat.Jakarta,27 Januari 2008
Aning Harmanto
Monday, January 28, 2008
Wah, masuk 10 besar loh... :-)
Thursday, January 17, 2008
Mas mas
Mas yang udah aku punyai, cuman satu sih, dan berat banget. Cuman warnanya gak mengkilat. Kecuali kalo keringetan :-) Kalo mas yang mo diomongin ini, mas yang kuning mengkilat, meskipun gak basah. Segala kondisi tetap mengkilat dech...
Critanya kebetulan ngobrol sama kakak yang pemerhati perkembangan ekonomi global, termasuk perkembangan harga emas. Dengan sedemikian meyakinkannya, kakak menceritakan tentang ekonomi makro yang sedang gonjang ganjing, termasuk dan salah satunya dikarenakan dolar yang mulai merosot. Cause dolar hanya disandarkan pada kepercayaan rakyat pada pemerintahannya. Sementara kepercayaan rakyat Amerika itu mulai goyah.
Nha, efeknya, harga-harga bakalan naik. Yang pertama naik jelas harga kebutuhan sehari hari. (sekarang udah mulai kita rasakan khan. Mulai dari minyak, bensin, trus kedelai, bahan makanan, dll) Trus mobil. Nha, saat itu, properti bakalan adem, atau stagnan. Cause daya beli masyarakat turun. Banyak lelang karena banyaknya kredit macet di bank. Setelah 1 atau 2 tahun, baru daya beli normal lagi. Saat itulah harga properti bakalan membumbung, bisa 2 - 3 kali lipatnya.
Efeknya ke emas, harga emas cenderung stabil, gak terpengaruh inflasi dll. For exam, jaman Rasululloh kambing harganya 1 dinar, sampai sekarang tetap 1 dinar. Jadi kalo punya uang, disimpan ke emas juga cukup menguntungkan. Disamping njualnya lagi juga gampang.
Nha, karena itulah, aku jadi mulai merhatiin harga emas di http://www.logammulia.com/. Dan inilah hasilnya :
Titip pertama itu harga emas tanggal 2 NOvember 2007. Sedangkan titik terakhir tanggal 17 Januari 2008. Emang sich kadang turun, tapi naiknya jauh lebih tinggi dari turunnya. Walah...
Critanya kebetulan ngobrol sama kakak yang pemerhati perkembangan ekonomi global, termasuk perkembangan harga emas. Dengan sedemikian meyakinkannya, kakak menceritakan tentang ekonomi makro yang sedang gonjang ganjing, termasuk dan salah satunya dikarenakan dolar yang mulai merosot. Cause dolar hanya disandarkan pada kepercayaan rakyat pada pemerintahannya. Sementara kepercayaan rakyat Amerika itu mulai goyah.
Nha, efeknya, harga-harga bakalan naik. Yang pertama naik jelas harga kebutuhan sehari hari. (sekarang udah mulai kita rasakan khan. Mulai dari minyak, bensin, trus kedelai, bahan makanan, dll) Trus mobil. Nha, saat itu, properti bakalan adem, atau stagnan. Cause daya beli masyarakat turun. Banyak lelang karena banyaknya kredit macet di bank. Setelah 1 atau 2 tahun, baru daya beli normal lagi. Saat itulah harga properti bakalan membumbung, bisa 2 - 3 kali lipatnya.
Efeknya ke emas, harga emas cenderung stabil, gak terpengaruh inflasi dll. For exam, jaman Rasululloh kambing harganya 1 dinar, sampai sekarang tetap 1 dinar. Jadi kalo punya uang, disimpan ke emas juga cukup menguntungkan. Disamping njualnya lagi juga gampang.
Nha, karena itulah, aku jadi mulai merhatiin harga emas di http://www.logammulia.com/. Dan inilah hasilnya :
Titip pertama itu harga emas tanggal 2 NOvember 2007. Sedangkan titik terakhir tanggal 17 Januari 2008. Emang sich kadang turun, tapi naiknya jauh lebih tinggi dari turunnya. Walah...Sayang, kakakku gak bilang, trus kemungkinannya setelah naik gini, kalo kita beli emas, kira-kira harganya tetep di atas, bakalan naik terus, atau malah balik lagi ke sebelum adanya gonjang ganjing ekonomi. Aku juga lupa nanya lagi... :-(
Hmm... coba pas November itu aku beli emas seberat masku yang gak mengkilat ini... Ngayal kali' ye...
Wednesday, January 16, 2008
Gado gado
Udah lama banget ya, gak nulis di blog ini. Lagi gak ada idea. Akhirnya maksain juga nulis, meskipun isinya nanti gado gado. Gak papa lah, supaya punya kebiasaan nulis, kali' aja suatu saat jadi penulis buku bisnis Islami, hehehe.... Amien :-)
Tahap awal bikin toko di rumah sudah mulai. Tapi menthok di dana euy. Nunggu ada dana segar lagi masuk. Jadi baru bikin carport nya doank, buat nggantiin garasi yang mo dijadiin toko. Itupun baru bikin lantainya, belum atapnya. Ternyata mahal juga ya bikin carport doank. Jadi ntar kalo ada dana lagi, insya Allah lanjut dengan bikin atapnya carport, trus bikin ruangan tokonya, bikin rak, baru beli dagangannya.
Aku memang rada hati hati sama utang, meskipun udah dikejar kejar sama adek yang kerja di bank supaya ngambil kredit. Sekarang juga udah ada utang di bank sich, buat beli rumah yang sekarang. Tapi kalo utangnya nambah lagi buat bikin toko, hmm... gimana ya. Khawatir hidup gak nyaman :-)
Emang sich, diakui, kita akan tertantang kalo punya utang di bank. Trus kalo tertantang jadinya usahanya bisa lebih semangat. Adrenalinnya jadi terpacu. Ada tantangan. Jadi hidup lebih berwarna. Itu katanya. Idem sama Dufan lah. Ngapain coba orang2 padha sibuk nyobain permainan yang ngeri. Bayar mahal lagi. Antre lagi. Antara lain buat macu adrenalin khan ? Supaya setelah itu bisa muncul rasa senang yang lebih. Ya gak... maksa dech... :-)
Nha, buatku, tantangan itu musti dijawab dan ditanggung. Khan hutang itu tanggung jawab kita buat mbayar. Dengan kata lain musti usaha lebih keras cause harus bayar utang. Berarti waktu lebih banyak, pikiran lebih banyak, dan tenaga lebih banyak. Nha... ini yang aku gak bisa. Cause tak pikir adalah prioritas prioritas yang kudu tak pertimbangkan. Misalnya aja nich. Kalo waktu, pikiran, dan tenagaku udah terambil sebagian di kantor, trus terambil sebagian lagi buat ngurusin usaha yang lagi macu adrenalin tadi, wach... bisa gak dapet slot donk waktu, tenaga, dan pikiran buat ngurusin rumah. Buat keluarga. Buat anak2. Buat ngurusin suami. Buat ngurusin ortu. Ngurusin mbak di rumah. Walah...
Kalo dibilang dalam proses menuju supaya bisa free di rumah, hmm... dalam proses sampai kapan... Jangan2 terus aku nanti ketagihan dengan pemacu semangat tadi. Jadi gak jauh beda dengan ngejar karier di kantor. Tapi ini ngejar duit di bisnis sendiri. Waduh... aku gak sanggup kayaknya.
Jadi sampai saat ini, aku 'nerima' keadaan dech. Bukan berarti gak usaha. Kalo istilah orang Jawa, gak 'ngoyo'. Usaha mah tetep usaha. Bisnis tetap jalan. Tapi gimana caranya, bisnis jalan, kerja jalan, trus keluarga sama anak2 juga jalan, gak malah jadi berkurang kualitasnya. Malah kalo bisa, dengan bisnis dan kerja itu, kualitas ke keluarga jadi lebih baik.
Misalnya jadi sering ngajak anak2 ke ITC. Jadi bisa ngajarin anak2 tentang bisnis. Ngajarin tentang uang. Ngajarin tentang gaji. Ngajarin tentang tanggal muda tanggal tua... Oops... hehehe... yang ini sich mereka tahu sendiri. Di sekolah mereka udah ngetop kali' ya, istilah tanggal tua tanggal muda....
Sejauh ini sich, prinsipku alhamdulillah berjalan baik. Di kantor ya aku bekerja maksimal, tapi gak ngoyo tadi, gak ngejar karier. Di bisnis ya aku juga berusaha maximal, tapi gak ngurangin waktu, pikiran, dan tenaga buat anak2. Emang sich, kadang ada event dan peluang yang jadi terlewat. Kayak Milad TDA tgl 27 nanti. Terpaksa ya aku gak ikutan. Bukan gak pingin. Tapi ya itu tadi, cause kalo ikut Milad TDA, brarti aku musti ngambil jatah waktunya anak2. Duh... masih belum sanggup euy... :-(
Tahap awal bikin toko di rumah sudah mulai. Tapi menthok di dana euy. Nunggu ada dana segar lagi masuk. Jadi baru bikin carport nya doank, buat nggantiin garasi yang mo dijadiin toko. Itupun baru bikin lantainya, belum atapnya. Ternyata mahal juga ya bikin carport doank. Jadi ntar kalo ada dana lagi, insya Allah lanjut dengan bikin atapnya carport, trus bikin ruangan tokonya, bikin rak, baru beli dagangannya.
Aku memang rada hati hati sama utang, meskipun udah dikejar kejar sama adek yang kerja di bank supaya ngambil kredit. Sekarang juga udah ada utang di bank sich, buat beli rumah yang sekarang. Tapi kalo utangnya nambah lagi buat bikin toko, hmm... gimana ya. Khawatir hidup gak nyaman :-)
Emang sich, diakui, kita akan tertantang kalo punya utang di bank. Trus kalo tertantang jadinya usahanya bisa lebih semangat. Adrenalinnya jadi terpacu. Ada tantangan. Jadi hidup lebih berwarna. Itu katanya. Idem sama Dufan lah. Ngapain coba orang2 padha sibuk nyobain permainan yang ngeri. Bayar mahal lagi. Antre lagi. Antara lain buat macu adrenalin khan ? Supaya setelah itu bisa muncul rasa senang yang lebih. Ya gak... maksa dech... :-)
Nha, buatku, tantangan itu musti dijawab dan ditanggung. Khan hutang itu tanggung jawab kita buat mbayar. Dengan kata lain musti usaha lebih keras cause harus bayar utang. Berarti waktu lebih banyak, pikiran lebih banyak, dan tenaga lebih banyak. Nha... ini yang aku gak bisa. Cause tak pikir adalah prioritas prioritas yang kudu tak pertimbangkan. Misalnya aja nich. Kalo waktu, pikiran, dan tenagaku udah terambil sebagian di kantor, trus terambil sebagian lagi buat ngurusin usaha yang lagi macu adrenalin tadi, wach... bisa gak dapet slot donk waktu, tenaga, dan pikiran buat ngurusin rumah. Buat keluarga. Buat anak2. Buat ngurusin suami. Buat ngurusin ortu. Ngurusin mbak di rumah. Walah...
Kalo dibilang dalam proses menuju supaya bisa free di rumah, hmm... dalam proses sampai kapan... Jangan2 terus aku nanti ketagihan dengan pemacu semangat tadi. Jadi gak jauh beda dengan ngejar karier di kantor. Tapi ini ngejar duit di bisnis sendiri. Waduh... aku gak sanggup kayaknya.
Jadi sampai saat ini, aku 'nerima' keadaan dech. Bukan berarti gak usaha. Kalo istilah orang Jawa, gak 'ngoyo'. Usaha mah tetep usaha. Bisnis tetap jalan. Tapi gimana caranya, bisnis jalan, kerja jalan, trus keluarga sama anak2 juga jalan, gak malah jadi berkurang kualitasnya. Malah kalo bisa, dengan bisnis dan kerja itu, kualitas ke keluarga jadi lebih baik.
Misalnya jadi sering ngajak anak2 ke ITC. Jadi bisa ngajarin anak2 tentang bisnis. Ngajarin tentang uang. Ngajarin tentang gaji. Ngajarin tentang tanggal muda tanggal tua... Oops... hehehe... yang ini sich mereka tahu sendiri. Di sekolah mereka udah ngetop kali' ya, istilah tanggal tua tanggal muda....
Sejauh ini sich, prinsipku alhamdulillah berjalan baik. Di kantor ya aku bekerja maksimal, tapi gak ngoyo tadi, gak ngejar karier. Di bisnis ya aku juga berusaha maximal, tapi gak ngurangin waktu, pikiran, dan tenaga buat anak2. Emang sich, kadang ada event dan peluang yang jadi terlewat. Kayak Milad TDA tgl 27 nanti. Terpaksa ya aku gak ikutan. Bukan gak pingin. Tapi ya itu tadi, cause kalo ikut Milad TDA, brarti aku musti ngambil jatah waktunya anak2. Duh... masih belum sanggup euy... :-(
Wednesday, December 12, 2007
My Beloved Parents

Saat aku kelas 1 sampai 4 SD, orang tua mengalami kejayaan karier. Setiap sabtu minggu kami pergi piknik keluar kota. Rumah dinas pun sangat besar. Saking besarnya, kami bisa bersepeda di dalam rumah, di antara kursi kursi ukir di ruang tamu. Sodara juga ada aja yang menginap di rumah. Baik sehari, sepekan, sebulan, kadang sampai ukuran tahun.
Artis juga beberapa kali hadir di rumah kami sekedar mampir bila mereka sedang show di sana. Pernah saat ada artis bertandang, sampai halaman depan rumah kami yang lumayan luas penuh dengan orang yang pengen lihat. Bahkan ada yang sampai nangkring di pohon di depan rumah. Darimana mereka tahu ya, padahal gak diumumin kalau artis itu datang. Saya sendiri saat itu masih belum ngeh kenapa orang-orang segitu antusiasnya dengan tamu kami.
Di halaman belakang ada pohon kelapa yang rutin didatangi orang untuk mengambil kelapanya. Masih terbayang di benakku, orang tsb memanjat pohon kelapa dengan melubangi batang kelapa untuk pijakan kakinya. Terus begitu sampai di atas. Begitu dia sampai di atas, gak lama mulailah terjadi 'hujan' kelapa. Kelapa kelapa berlompatan dari atas ke segala arah di halaman belakang rumah.
Di salah satu sisi rumah ada paviliun yang cukup besar. Seingatku sudah memenuhi syarat disebut rumah. Ada ruang tamu, kamar, kamar mandi sendiri, dst. Oleh orang tua kami, paviliun ini dipinjamkan free, entah ke siapa -- saya saat itu belum paham.
Kalo kami ke kantor ayah dan membutuhkan sesuatu, ayah tinggal memencet bel. Dan muncullah seseorang yang selalu siap membantu.
Itu gambaran sebelum ayah kemudian mendapat ujian. Pindahlah kami ke Semarang, dengan rumah mungil yang kondisinya cukup parah. Kami yang terbiasa antar jemput mobil dengan sopir, berubah menjadi tidak ada mobil sama sekali. Rumah yang seluas lapangan bola, menjadi halaman tidak terurus yang luas.
WC pun bampet, gak bisa digunakan. Kalo mo BAB (aduh... maap nich...) kita kadang gali tanah di belakang. Kadang juga terpaksa nebeng ke WC umum yang gak terlalu jauh. Pernah saat BAB gali tanah di belakang, berdua adek, tahu tahu ada sodara datang. Waduh... malu... Untung sodara belum sempet lihat. Cepet cepet kita timbun terus lari ke KM buat bersih bersih.
Kalo mo refreshing, kami berempat, saya bersama kakak dan adek, berjalan kaki ke mall terdekat. Yang sebenarnya gak terlalu dekat juga. Disana kami jongkok dibalik rak membaca tintin. Sering sambil diselingi senggolan dari karyawan mall yang 'pedes' liat kami cuman baca dan nggak beli. Pulangnya kami jalan kaki lagi. Kadang kalo adek capek, kakak bergantian menggendongnya.
Secara bertahap kondisi mengalami perbaikan. Rumah diperbaiki. Dipagar. Dibuatlah tempat kos. Mobil dinas yang teronggok diperbaiki sehingga bisa jalan kembali, meskipun bak terbuka. Aku masih ingat, kalo mo pergi, kita sudah tahu urutan masuk mobil. Pertama ayah di belakang sopir. Terus kakakku nomor 1 duduk di sebelah ayah. Terus adekku masuk, dipangku kakak pertama. Terus ibuku masuk. Baru aku masuk, dipangku ibu. Nah, kakakku yang kedua, masuk dari pintu sopir, dan duduk di sebelah kanan ayah. Jadi bagian depan mobil pick up itu diisi oleh ayah, ibu, dan 4 anak. Full dah.
Kalau keluar kota, kadang kita duduk di bak terbuka itu. Kita dibawain kursi rotan untuk duduk di bak belakang. Terus kita sudah bekal mainan dari kertas, yang diikat dengan tali. Saat mobil berjalan, rasanya senang sekali melihat mainan kertas yang terbang terbang mengikuti mobil.
Kadang di minggu pagi, kami berlari pagi ke simpang lima. Sekedar untuk lari saja. Dan pulangnya berjalan kaki lagi. Kalo nggak, malam minggunya kami ke simpang lima. Hanya untuk melihat lihat. Atau bermain bola yang kami bawa. Tidak ada jajan yang kami beli.
Terus ayah kami ditugaskan pindah keluar kota. Dengan beberapa pertimbangan, ibu memutuskan untuk tetap menetap di Semarang. Mulailah masa ibu mendidik kami sendirian. Dan hanya didampingi ayah hari sabtu dan minggu.
Pernah suatu hari aku diajak teman dan ayahnya untuk membeli keperluan pramuka. Kebetulan ayah ada di rumah dan saya sudah diijinkan beliau. Saat berjalan kaki sekian ratus meter dari rumah, ibu ternyata melihat dari jauh, naik motor. Ibu menyampaikan kagetnya, karena aku digandeng dengan orang 'entah siapa'. Dan aku cukup terharu, karena itulah salah satu bukti kekhawatiran ibu kehilangan aku.
Ibu waktu itu menjadi guru SMA. Kalo kami ujian atau tes semester, ibu pasti membawakan segepok kumpulan soal untuk kami pelajari. Meskipun saya sangat jarang menyentuhnya, ibu tetap setia membawakan segepok soal itu. Bukannya saya gak menghargai ibu. Tapi ibu mengajar di sekolah swasta yang kurang terkenal. Sementara saya sekolah di SMA Negeri 3 di Semarang. Jadi jenis soalnya 'agak berbeda'.
Kadang tahu tahu ibu pulang dengan membawa segunung belanjaan. Dan diantara belanjaannya selalu terselip buah, terutama pepaya, kesukaanku. Padahal pepaya itu cukup besar. Dan ibu membawa segunung belanjaan itu dengan naik motor. Kata ibu, beberapa kali di tengah jalan pepaya itu melorot dan memaksa ibu untuk berhenti sebentar membetulkan letak pepaya supaya nggak jatuh.
Ibu sering terlihat mencuci sendiri seluruh baju kami dengan tangan beliau. Gak jarang acara mencuci dilakukan sampai malam.
Saat aku diterima kuliah di Bandung, ayah dipindahkan lagi ke Semarang. Alhamdulillah, ibu jadi ada teman, selain adikku.
Saat ini kami, empat sodara, alhamdulillah sudah bisa merintis untuk menjadi 'orang' sesuai harapan orang tua. Tiga dari kami sudah naik haji. Dan kami semua tinggal di Depok. Tiga orang plus ibu tinggal di komplek yang sama, GTA. Sedangkan adek sudah berencana untuk membangun rumah di dekat kami.
Mengurus kami sendirian sejak aku kelas 5 SD sampai lulus SMA, plus goncangan fitnah yang pernah menerpa, membuat ibu kami cukup keras, disiplin, dan terbiasa mengambil keputusan. Kami bersyukur, ibu saat itu cukup tegar menghadapi kondisi yang berubah drastis. Dan ibu cukup kuat untuk mendidik dan menghadapi kami sehingga kami saat ini bisa menjadi orang yang 'melek'. Sedangkan ayah, lebih memposisikan diri untuk mengalah. Memupuk kesabaran. Dan menyerahkan (hampir) sepenuhnya semua keputusan. Karena ayah memang sehari harinya tidak bersama kami.
Akhirul kalam, aku ingin berdoa untuk mereka...
Ya Allah, aku menyayangi keduanya. Kami menyayangi keduanya. Buatlah mereka husnul khotimah di akhir hayatnya. Satukanlah mereka di surga firdaus-Mu. Ya Allah, kalau ada kekurangan mereka, ampunilah mereka ya Allah. Atas kekhilafan mereka yang mungkin mengambil langkah yang salah. Ampunilah mereka karena mereka sudah berusaha yang terbaik yang mereka bisa. Ya Allah... ampunilah mereka. Letakkan mereka di surga Firdaus-Mu.
Rabbanaa Aatinaa min ladunka Rahmah, wa hayyi lana min amrinaa rasyadaa. Ya Rabb, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah petunjuk-Mu yang lurus untuk urusan kami ini. Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani saghiiroo... Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani saghiiroo... Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani saghiiroo...
Amien.
Teriring ungkapan sayang sepenuh hati kepada ibunda dan ayahanda yang telah bersusah payah dan mengerahkan segenap kemampuan untuk membesarkan kami. Semoga Allah memudahkan langkah mereka untuk menuju surga firdaus-Nya.
Artis juga beberapa kali hadir di rumah kami sekedar mampir bila mereka sedang show di sana. Pernah saat ada artis bertandang, sampai halaman depan rumah kami yang lumayan luas penuh dengan orang yang pengen lihat. Bahkan ada yang sampai nangkring di pohon di depan rumah. Darimana mereka tahu ya, padahal gak diumumin kalau artis itu datang. Saya sendiri saat itu masih belum ngeh kenapa orang-orang segitu antusiasnya dengan tamu kami.
Di halaman belakang ada pohon kelapa yang rutin didatangi orang untuk mengambil kelapanya. Masih terbayang di benakku, orang tsb memanjat pohon kelapa dengan melubangi batang kelapa untuk pijakan kakinya. Terus begitu sampai di atas. Begitu dia sampai di atas, gak lama mulailah terjadi 'hujan' kelapa. Kelapa kelapa berlompatan dari atas ke segala arah di halaman belakang rumah.
Di salah satu sisi rumah ada paviliun yang cukup besar. Seingatku sudah memenuhi syarat disebut rumah. Ada ruang tamu, kamar, kamar mandi sendiri, dst. Oleh orang tua kami, paviliun ini dipinjamkan free, entah ke siapa -- saya saat itu belum paham.
Kalo kami ke kantor ayah dan membutuhkan sesuatu, ayah tinggal memencet bel. Dan muncullah seseorang yang selalu siap membantu.
Itu gambaran sebelum ayah kemudian mendapat ujian. Pindahlah kami ke Semarang, dengan rumah mungil yang kondisinya cukup parah. Kami yang terbiasa antar jemput mobil dengan sopir, berubah menjadi tidak ada mobil sama sekali. Rumah yang seluas lapangan bola, menjadi halaman tidak terurus yang luas.
WC pun bampet, gak bisa digunakan. Kalo mo BAB (aduh... maap nich...) kita kadang gali tanah di belakang. Kadang juga terpaksa nebeng ke WC umum yang gak terlalu jauh. Pernah saat BAB gali tanah di belakang, berdua adek, tahu tahu ada sodara datang. Waduh... malu... Untung sodara belum sempet lihat. Cepet cepet kita timbun terus lari ke KM buat bersih bersih.
Kalo mo refreshing, kami berempat, saya bersama kakak dan adek, berjalan kaki ke mall terdekat. Yang sebenarnya gak terlalu dekat juga. Disana kami jongkok dibalik rak membaca tintin. Sering sambil diselingi senggolan dari karyawan mall yang 'pedes' liat kami cuman baca dan nggak beli. Pulangnya kami jalan kaki lagi. Kadang kalo adek capek, kakak bergantian menggendongnya.
Secara bertahap kondisi mengalami perbaikan. Rumah diperbaiki. Dipagar. Dibuatlah tempat kos. Mobil dinas yang teronggok diperbaiki sehingga bisa jalan kembali, meskipun bak terbuka. Aku masih ingat, kalo mo pergi, kita sudah tahu urutan masuk mobil. Pertama ayah di belakang sopir. Terus kakakku nomor 1 duduk di sebelah ayah. Terus adekku masuk, dipangku kakak pertama. Terus ibuku masuk. Baru aku masuk, dipangku ibu. Nah, kakakku yang kedua, masuk dari pintu sopir, dan duduk di sebelah kanan ayah. Jadi bagian depan mobil pick up itu diisi oleh ayah, ibu, dan 4 anak. Full dah.
Kalau keluar kota, kadang kita duduk di bak terbuka itu. Kita dibawain kursi rotan untuk duduk di bak belakang. Terus kita sudah bekal mainan dari kertas, yang diikat dengan tali. Saat mobil berjalan, rasanya senang sekali melihat mainan kertas yang terbang terbang mengikuti mobil.
Kadang di minggu pagi, kami berlari pagi ke simpang lima. Sekedar untuk lari saja. Dan pulangnya berjalan kaki lagi. Kalo nggak, malam minggunya kami ke simpang lima. Hanya untuk melihat lihat. Atau bermain bola yang kami bawa. Tidak ada jajan yang kami beli.
Terus ayah kami ditugaskan pindah keluar kota. Dengan beberapa pertimbangan, ibu memutuskan untuk tetap menetap di Semarang. Mulailah masa ibu mendidik kami sendirian. Dan hanya didampingi ayah hari sabtu dan minggu.
Pernah suatu hari aku diajak teman dan ayahnya untuk membeli keperluan pramuka. Kebetulan ayah ada di rumah dan saya sudah diijinkan beliau. Saat berjalan kaki sekian ratus meter dari rumah, ibu ternyata melihat dari jauh, naik motor. Ibu menyampaikan kagetnya, karena aku digandeng dengan orang 'entah siapa'. Dan aku cukup terharu, karena itulah salah satu bukti kekhawatiran ibu kehilangan aku.
Ibu waktu itu menjadi guru SMA. Kalo kami ujian atau tes semester, ibu pasti membawakan segepok kumpulan soal untuk kami pelajari. Meskipun saya sangat jarang menyentuhnya, ibu tetap setia membawakan segepok soal itu. Bukannya saya gak menghargai ibu. Tapi ibu mengajar di sekolah swasta yang kurang terkenal. Sementara saya sekolah di SMA Negeri 3 di Semarang. Jadi jenis soalnya 'agak berbeda'.
Kadang tahu tahu ibu pulang dengan membawa segunung belanjaan. Dan diantara belanjaannya selalu terselip buah, terutama pepaya, kesukaanku. Padahal pepaya itu cukup besar. Dan ibu membawa segunung belanjaan itu dengan naik motor. Kata ibu, beberapa kali di tengah jalan pepaya itu melorot dan memaksa ibu untuk berhenti sebentar membetulkan letak pepaya supaya nggak jatuh.
Ibu sering terlihat mencuci sendiri seluruh baju kami dengan tangan beliau. Gak jarang acara mencuci dilakukan sampai malam.
Saat aku diterima kuliah di Bandung, ayah dipindahkan lagi ke Semarang. Alhamdulillah, ibu jadi ada teman, selain adikku.
Saat ini kami, empat sodara, alhamdulillah sudah bisa merintis untuk menjadi 'orang' sesuai harapan orang tua. Tiga dari kami sudah naik haji. Dan kami semua tinggal di Depok. Tiga orang plus ibu tinggal di komplek yang sama, GTA. Sedangkan adek sudah berencana untuk membangun rumah di dekat kami.
Mengurus kami sendirian sejak aku kelas 5 SD sampai lulus SMA, plus goncangan fitnah yang pernah menerpa, membuat ibu kami cukup keras, disiplin, dan terbiasa mengambil keputusan. Kami bersyukur, ibu saat itu cukup tegar menghadapi kondisi yang berubah drastis. Dan ibu cukup kuat untuk mendidik dan menghadapi kami sehingga kami saat ini bisa menjadi orang yang 'melek'. Sedangkan ayah, lebih memposisikan diri untuk mengalah. Memupuk kesabaran. Dan menyerahkan (hampir) sepenuhnya semua keputusan. Karena ayah memang sehari harinya tidak bersama kami.
Akhirul kalam, aku ingin berdoa untuk mereka...
Ya Allah, aku menyayangi keduanya. Kami menyayangi keduanya. Buatlah mereka husnul khotimah di akhir hayatnya. Satukanlah mereka di surga firdaus-Mu. Ya Allah, kalau ada kekurangan mereka, ampunilah mereka ya Allah. Atas kekhilafan mereka yang mungkin mengambil langkah yang salah. Ampunilah mereka karena mereka sudah berusaha yang terbaik yang mereka bisa. Ya Allah... ampunilah mereka. Letakkan mereka di surga Firdaus-Mu.
Rabbanaa Aatinaa min ladunka Rahmah, wa hayyi lana min amrinaa rasyadaa. Ya Rabb, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah petunjuk-Mu yang lurus untuk urusan kami ini. Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani saghiiroo... Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani saghiiroo... Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani saghiiroo...
Amien.
Teriring ungkapan sayang sepenuh hati kepada ibunda dan ayahanda yang telah bersusah payah dan mengerahkan segenap kemampuan untuk membesarkan kami. Semoga Allah memudahkan langkah mereka untuk menuju surga firdaus-Nya.
Tuesday, December 11, 2007
Protes
Critanya gini. Khodimat ku khan mendadak minta pulang. Memang baru sebulan kerja sich. Trus tak tanya, kenapa. Kata dia, soalnya kak Al sering ngatain. Kak Mut sering mukul. Waks !! Kaget bener aku.Selama ini, banyak yang bilang anakku baek. Bahkan sempet ada khodimat yang pindahan dari komplek sebelah, gaji disana udah 600-an (baby sitter), gak betah minta pindah ke aku salah satunya karena anakku baek2, even gaji di aku cuman 300 (cause khodimat baru).
Pernah juga pas kunjungan dari sekolah ke rumah, salah satu guru anakku sempet bilang... "ternyata bisa ya, ortu dua2 nya kerja, anaknya baek2".
So, alasan dia pulang sempet bikin aku shock dan gak habis pikir. Trus investigasi dimulai.
Mumpung anak2 tidur, pertama kupanggil Mida, yang sudah cukup lama ikut kami. Kata Mida, kak Al memang suka ngatain. Kalo pulang sekolah, naruh baju juga sembarangan. Dikasih tahu susah. Oops... Waduh... umminya ketinggalan berita nich. Kok bisa bisanya aku gak tahu perkembangan Al jadi seperti itu.
Dikorek lagi : kata Mida, kak Al kalo mandi juga suka teriak teriak, minta diambilin baju sama adeknya, Iv. Kak Iv udah dibilangin jangan mau, tapi tetep aja ngambilin baju buat kakaknya. Walah... apa lagee nich... Tambah mengkerut aja jidatku.
Trus Mida kutanya. Kak Al pas di rumah lama udah kayak gitu belum ? Kata Mida enggak. Di rumah lama dulu baek. Pas disini aja jadi kayak gitu. Trus kuajak discuss, apa karena sering maen sore ya Mida ? Kata Mida kayaknya enggak, soale maen sore juga cuman di depan rumah, gak ada yang macem macem. Waduh !!
Kita disini memang baru sich. Pindahan dari rumah lama-nya bulan Agustus. Jadi baru sekitar 4 bulan lah. Masih adaptasi sama lingkungan. Dan ternyata adaptasi gak hanya di lingkungan, tapi di cukup banyak hal. Gak nyangka juga, cause disini ini kalo ngojek dari rumah lama cuman 3.000. Jadi gak jauh. Masih satu kelurahan. Cuman disini ini memang banyak mbak 'bertebaran'. Jadi mbakku banyak temen. Kalo di komplek lama dulu, relatif gak ada mbak yang jalan jalan.
Kebetulan kak Iv udah bangun. Jadi kupanggil lah kak Iv. Kutanya, menurut kak Iv, kak Al itu gimana. Katanya kak Al itu jahil, suka ngerjain kak Iv. Kenapa kak Iv disuruh suruh sama kak Al mau aja. Kata kak Iv, soalnya kalo gak mau, ntar kak Al gak mau temen. Jadinya mo maen sama siapa kalo kak Al gak temen. Kutanya lagi, lho... khan ada mbak ? Jawabannya, mbak sibuk terus. Gak mau diajak maen. Ooo...
Nah, terakhir muncul kak Al. OK, kak Iv kita suruh makan, aku ganti ngobrol sama kak Al. Kak, kalo ummi nanya ke mbak, atau ke temen temen kak Al, menurut mereka kak Al itu gimana, kira kira jawaban mereka apa ya ? Kak Al nyengir, trus bilang... gak tahu. Lho, kok gak tahu. Menurut kak Al aja, kira kira mbak bakalan bilang apa ? Trus dijawab kak Al, pasti mbak Mida bilang aku bandel ya... Hmm... mulai nyambung nich...
Kenapa kok kata kak Al mbak Mida bakalan bilang gitu ? Kata dia, soalnya kalo dikasih tahu gak nurut. Masih sambil cengar cengir. Kutanya, kenapa kakak kok gak nurut. Dia cengar cengir aja, gak jawab. OK, pertanyaan pindah. Kenapa kak Al sekarang sering nyuruh kak Iv ? Kalo kak Iv takut kak Al gak temen, khan sebenernya kalo kak Iv gak temen, kak Al juga gak punya temen ?
Trus... tahu tahu, dengan emosi yang keliatan, Al bilang... iya... soalnya kita gak punya temen lagi... Kutanya, lho, khan ada mbak... Jawab Al, mbak tuch maen sendiri sama temennya. Lho, maen gimana ? Iya, mbak tuch ngobrol, maen sendiri sama mbak mbak laennya. Gak pernah lagi mau maen sama kita. Jadinya gak ada temen, cuman sama dek Iv doank. Oh... baru ngeh aku...
Gak lama, aku ngobrol lagi sama Mida. Kubilang, Mida, kayaknya ummi udah tahu kenapa kak Al kayak gitu. Mereka, kak Al sama kak Iv 'kehilangan' mbaknya. Dulu pas kita masih di komplek lama, pulang sekolah mereka biasa maen sama mbak mbaknya. Trus sekarang, mbaknya pada nyuapin dek We sama kak Mut di taman deket rumah, barengan sama mbak mbak yang laen. Jadinya mereka binun gak punya temen. Trus protes. Nha, protesnya ya dengan gak nurut itu. Dengan ngelempar baju kemana mana. Supaya mbaknya sibuk. Kalo sibuk khan jadi di rumah....
Trus kutanya Mida, bukannya ummi ngelarang Mida ngumpul sama temen2. Tapi ummi berharap anak2 ummi punya temen maen juga. Nha, karena waktunya berbenturan, gimana ya... Mida mau gak ya, kalo sore nemenin anak2 maen. Jadi nyuapin dek We sama kak Mut nya di rumah aja, sambil nemenin kak Al sama kak Iv maen.
Mida udah setuju sich. Cuman aku yang gak enak juga, ngelarang mereka maen. Jadi akhirnya kedeketin lagi. Kubilang, sorry, pengennya sich gak ngelarang Mida ngumpul. Tapi masalahnya khan anak2 nya ummi jadi gak punya temen. Jadi gimana ya. Toch mereka juga kayaknya gak bakalan maen di rumah terus terusan. Nha, pas mereka pengen maen di luar, Mida juga bisa ngumpul sama temen2. Trus untuk kompensasinya... ya udah, tak kasih libur sebulan 2 hari. Cuman ambilnya kalo sabtu minggu aja ya. Gaji juga tak naikin 50.000 dech...
Malemnya, semua tak kumpulin. Kubilang kak Al, kak Iv, ummi udah ngobrol sama mbak Mida, sama bibik. Mbak Mida sama bibik udah mau nemenin kakak maen. Nha, karena udah ditemenin maen, kakak jadi kudu nurut kalo dikasih tahu. Kak Iv mau gak, ditemenin maen, tapi kudu nurut kalo dikasih tahu ? Kak Iv bilang mau. Kak Al mau gak ? Nyengir... trus bilang mau tapi gak jelas, sambil tangannya masuk ke mulut. Gak mau gitu, kak Al yang jelas, mau enggak, kataku negasin. Mau, kata kak Al.
Nha, kalo Mbak Mida atau bibik nggak mau diajak maen, kakak bisa bilang ke ummi. Tapi sebaliknya, kalo kakak dikasih tahu gak nurut, mbak Mida sama bibik juga bisa bilang ke ummi.
Deal. Alhamdulillah. Case close. Ternyata 'kebandelan' anakku muncul karena protes sama mbaknya. Untung aja cepet ketahuan. Jadi meskipun Ros pulang, aku cukup makasih juga sama dia karena bikin aku jadi melek problem di rumah.
Subscribe to:
Posts (Atom)