Masih pesantren series, edisi Iv masuk ke husnul khotimah.
Sabtu kemaren Iv sukses dianterin dan mulai nyantri di HK. Kupikir, dengan pengalaman masukin Al ke Al Kahfi, mustinya kali ini aku lebih siap. Pas disana bener sih, gak ada sedih. Gak ada sampai nangis sama sekali. Cuman pas sampai rumah... mulai dech berasa... Cengengnya nongol...Apalagi kalau ada yang nanya kabarnya Iv. Langsung matanya gak bisa ditahan...
Sampai Al komplain, katanya : dulu pas aku masuk al kahfi umi kok gak nangis. Hwehehe... Kubilang, dia aja yang gak tahu. Khan umi kudu tampak kuat, supaya anaknya jd kuat. Ya gak... ;-) Liat aja, pas di depan kak Iv, umi gak ada nangis2 nya khan... Padahal sampai rumah... duh... asli, persiapan mental ortu memang kudu kuat kalau mau masukin anaknya ke pesantren.
Dan sore ini, kebetulan googling nyari info alumni HK pada kemana, ketemu sama blog yang bikin aku mewek lagi. Bukan sedih sih... Kangen aja. Dan dari blog itu makin berasa gak salah kami milihin HK buat Iv. Kenapa ?
Karena salah satu alasan kami milih HK adalah, pada saat di-survey, kami diantar sama santri HK yang gak pulang. Padahal lagi musim liburan. Dan dari ngobrol, kelihatan dia nyaman tetap tinggal di HK pada saat liburan. Dan bukan karena terpaksa. Nah... dimana lagi kita temui, santri yang berasa hommy di sekolah. Kondisi ini juga kita temui pada saat ngantar Iv ke HK. Juga dari cerita beberapa temen yang anaknya di HK. Mereka pada hommy di HK, dan lebih memilih gak pulang ke rumah. Tambah yakin lagi setelah baca blog tadi. Tx to sitilutfiyah.azizah@gmail.com yang sudah nulis panjang lebar di blognya ya... Salam kenal dari kami ;-)
Tinggal ortunya menghitung sisa tahun sampai semua anak2 gak tinggal di rumah lagi. Bayangkan, di usiaku yg belum 45 tahun nanti, kemungkinan besar udah gak ada anakku yang tinggal di rumah. Uff... udah kayak kakek nenek yang anak2nya udah pada married :-( Nongol kalo liburan doank. Itupun kalau mereka gak ada kegiatan di pesantren pas liburan. Kebayang gak...
Duh... sama suami jadi sepakat, kudu bikin kegiatan dari sekarang. Jangan sampai pas waktunya nglepas Widad ke pesantren, kita jadi gak tega, gak rela, hanya gara-gara pengen ada anak2 yang nemenin. Biarlah anak2 tetap kita pilihkan yang terbaik untuk masa depan mereka. Ortunya yang menyesuaikan saja...
Semoga kak Iv nyaman dan sukses ilmu dan hafalannya di HK. Semoga kak Al bisa menyusul ke HK tanpa I'dad tahun depan. Semoga Uthi dan Widadi juga bisa masuk ke HK dari SMP nya. Amien....
Tuesday, July 10, 2012
10 hari pertama di HK
Wednesday, June 20, 2012
Jadi apa yang harus disiapkan ?
Masih pesantren series...Kali ini pengen cerita apa aja sih yang perlu kita siapkan kalo mau masukin anak kita ke pesantren. Seperti biasa, tendensius dan subyektif, sehingga maybe valid hanya untuk case aku aja. Tapi minimal, sebagai gambaran kasar masih bisalah... karena based on apa yang aku rasakan, dan gak ada manipulasi sama sekali.
Pertama, persiapan mental anak.
Menurutku, jangan sampai anak masuk pesantren karena paksaan. Kalau mengarahkan (baca : ngebujukin) sampai anak 'ngerasa' berminat masuk ke pesantren, sah sah aja sih. Kasih tahu enaknya di pesantren, dan kasih tahu juga gak enaknya masuk pesantren. Infokan juga kenapa kok kita pengen dia masuk ke pesantren. Pokoke sampai anak ngerti apa dan kenapanya kita pengen dia masuk ke pesantren.
Anak perlu tahu enaknya, supaya memompa semangat dan keinginan dia untuk masuk ke pesantren. Tahu gak enaknya, supaya dia persiapan mental kalo yang gak enak itu terjadi. Jadi paling gak sudah ada tameng, gak begitu kejadian yang gak enak, trus anak kita langsung minta pindah sekolah, balik ke yang deket rumah. Sedangkan tahu tujuan kita masukin kesana, supaya dia tahu, visi dan misi masuk ke pesantren, sehingga minimal dia tahu arah yang sedang kita tuju.
Kedua, persiapan mental orang tua.
Nah, ini juga ternyata penting banget. Karena kalau ortu gak siap mental, begitu anak cerita macem-macem, yang muncul ikutan gak tega. Nangis bombay. Ujung-ujungnya, idem dech sama anaknya : tarik aja dech dari pesantren. Sementara namanya anak2, apalagi kumpul orang banyak, yang bener2 beda latar belakang dan budaya, terjadi konflik kayaknya udah pasti. Liat aja dulu pas kita baru2 nikah, konflik2 sepele lumayan banyak khan ? Itu padahal 'cuman' menyatukan 2 orang, 2 budaya, 2 latar belakang. Nah, anak2 kita ini, di pesantren, bareng dengan sekian anak dengan latar belakang beda2. Ya wajar aja kalau terjadi konflik.
Kalau persiapan mental ortu kuat, pas anak cerita, kita bisa stay cool (keren khan, dimata anak, cool gitu ortunya). Jadinya kiat bisa ngeredam dan nenangin anak, bukan malah menambah kepusingan dia.
Ketiga : persiapan dana.
Aku sering dapat pertanyaan atau pernyataan yang mengisyaratkan pengen masukin anak ke pesantren karena biaya yang lebih murah. Uff... ketahuilah... sama sekali enggak. Karena, kalo aku, jadwal wajib nengok anak minimal sebulan sekali. Jelas perlu biaya buat ongkos transport. Belum jajan + bekal makan siang buat adek2 nya. Belum tentengan buat yang di pesantren, plus bekal buat dia sampai sebulan ke depan. Ujung2nya... gede juga... Cuman bisa dicicil tiap bulan :-)
Keempat : persiapan tenaga.
Kalau anak sudah masuk pesantren, otomatis jadwal nengok jadi agenda tambahan kita. Awal2 seminggu sekali. 2 minggu sekali. Sampai menthok di sebulan sekali. Anggaplah disana 2 - 3 jam. Nah, tinggal dihitung dan diperkirakan dengan lama perjalanan, kira2 seberapa banyak tenaga yang kudu disiapkan.
Kelima : biasakan cross check.
Bukan berarti gak percaya sama anak kita. Tapi wajarlah, kalau karena emosi, maka cerita dari anak kita tendensius. Makanya kita kudu cross check minimal ke wali asrama, ke sesama orang tua murid, dll. Ini juga berlaku kalau kita dapat cerita dari ortu temen anak kita, jangan lupa juga cross check ke anak kita dan wali asrama. Jadi minimal balance, kita gak terpancing emosi.
Ketujuh : tetaplah berkomunikasi dengan anak.
Dulu aku bingung, kalo di pesantren, gimana cara kita untuk tetep berkomunikasi dengan anak2. Untuk tetap mengarahkan anak2. Karena globalnya tentu saja kita satu tujuan dengan pesantren, tetapi tujuan detilnya, bisa saja berbeda. Karena khan tujuan pesantren itu mengadopt keinginan semua anak + ortu.
Ternyata, meskipun anak kita di pesantren, jauh di mata, tetapi ternyata komunikasi, arahan dari ortunya, tetap sangat berperan. Bagaimana kita memotivasi dia pada saat nengok. Bagaimana kita mengarahkan pada saat dia ada masalah. Apa pilihan2 yang dia punya untuk menggapai tujuan. Dll.
Kedelapan... hmm... kayaknya yang utama tujuh biji itu. Sisanya persiapan teknis, ini menyesuaikan saja dengan list dari pesantren. Ada juga yang gak ada list, tapi perlu, misalnya : box container yang paling gede, file cabinet yang plg kecil spy bs masuk lemari, hanger, dll.
That's all... Semoga bermanfaat...
Labels:
Pendidikan Anak,
Pesantren,
Seputar Keluarga
Persiapan Kak Iv Masuk Pesantren
Kali ini giliran persiapan yang kedua, kak Iv, masuk pesantren. Suasananya beda dengan pas kak Al masuk pesantren. Kalo dulu, baik aku maupun Al nya, memang mantep mo masuk ke pesantren, tapi jauh di dalam lubuk hati... kita masih gonjang ganjing. Bukan bimbang milih pesantrennya, tetapi lebih karena mau pisahnya. Sehingga semua persiapan kebutuhan Al di-pack-ing mepet pas mau berangkat.Beda lagi casenya dengan Iv. Anak keduaku ini, begitu semangatnya masuk pesantren. Sampai-sampai abinya yang mencoba ngebujuk supaya di SMP NF aja yang deket rumah, ditolak mentah-mentah. Gak mau sama sekali. Padahal dia satu-satunya dari SD NF yang masuk ke HK.
Sampai aku juga bilang, jangan dibayangkan pesantren itu sebegitu serunya. Gak enak kok... Pesantren itu berarti jauh dari umi abi. Mau makan enak gak bisa. Mau tidur sepuasnya gak bisa. Mau baca buku sepuasnya juga gak bisa. Pokoke gak enak dech...
Tapi tetep aja anaknya penuh semangat mau ke HK. Sampai aku bilang... apa sih yang diceritain kak Al sampai kak Iv semangat banget. Jangan terlalu percaya, itu khan seru versi kak Al. Aslinya belum tentu.
Tapi dasarnya kak Iv.. tetep semangatnya penuh, gas poll...
Nah, karena semangatnya yang 200% persen itu juga, Iv dengan begitu gembira menyiapkan semua keperluannya. 2 box container plastik terbesar yang kita beli buat barang2 dia di pesantren, udah hampir penuh. Mulai dari baju, jilbab, peniti, sampai sikat baju udah dia siapkan. Makanan, gelas, piring, sendok, garpu, pokoke lengkap lah.
Aku yang jadi agak khawatir. Karena kalo persepsi 'bagus banget', ternyata realisasi mentok di 'bagus', maka meskipun levelnya bagus, jadi keliatannya 'jelek'. Tapi kalo persepsinya 'gak enak', trus ternyata realisasinya 'bagus', maka yang terasa akan 'sangat bagus'.
Semoga Iv gak ketinggian mempersepsikan, sehingga dia nyaman berada di sana... Amien...
Labels:
Pendidikan Anak,
Pesantren,
Seputar Keluarga
Thursday, January 26, 2012
Abu Bakar
Tahu donk siapa Abu Bakar...Blio yang dijuluki Ash Shidiq, karena sangat membenarkan. Ingat, gak hanya membenarkan, tapi SANGAT membenarkan.
Blio yang langsung masuk Islam pada saat diturunkan. Blio yang langsung membenarkan Isra Mi'raj pada saat yang lain masih ragu2. Dan blio juga yang pertama membenarkan perjanjian hudaibiyah disaat yang lain masih keberatan.
Blio yang pada pagi hari setelah shalat shubuh, Rasulullah bertanya, siapa yang pagi ini puasa, dan blio menjawab : Saya wahai Rasulullah, tadi malam saya meniatkan pada diriku untuk melakukan puasa pada pagi ini. Lalu aku berpuasa.
Kemudian Rasulullah bertanya, siapa yang telah menjenguk orang sakit. Dan Umar menjawab : Sesungguhnya kita baru saja shalat shubuh dan belum meninggalkan (masjid ini), lantas bagaimana kita bisa menjenguk orang sakit. Blio, Abu Bakar, menjawab : Saya wahai Rasulullah, orang-orang mengabarkan kepadaku bahwa Saudaraku, Abdurahman bin Auf, sedang menderita sakit. Lalu saya sengaja melewati rumahnya, dan bertanya tentang keadaannya, dalam keadaaan saya menuju masjid.
Kemudian Rasulullah saw bertanya, Siapakah diantara kalian yang telah mengeluarkan shadaqah. Umar menjawab : Wahai Rasulullah, kami masih bersama Anda semenjak selesai shalat, lantas bagaimana mungkin kami bersedekah. Namun blio, Abu Bakar, menjawab, Saya wahai Rasulullah, ketika saya masuk masjid ada seorang yang meminta sedekah. Sedangkan anaknya Abdurrahman bin Abu Bakar (cucu Abu Bakar) membawa sepotong roti. Lalu saya mengambilnya dan aku berikan kepada pengemis itu.
Blio yang terkenal karena keramahannya, penyayang, lemah lembutnya. Pada saat musyawarah tentang tawanan perang Badr dan Umar mengusulkan untuk : bunuh mereka semuanya. Maka blio, Abu Bakar dengan kelemah lembutannya, mengusulkan : lepaskan mereka dengan denda. Bagi yang mempunyai ilmu, suruh mereka untuk berbagi ilmunya.
Suatu hari, blio, Abu Bakar, duduk bersama Rasulullah SAW. Kemudian datanglah orang yang mencaci maki blio. Dan blio diam saja. Rasululloh hanya diam dan tersenyum. Kemudian cacian itu bertambah2 parahnya. Dan blio -- yang ash shiddiq, yang terkenal santun dan penyayangnya, yang lemah lembutnya tidak diragukan, menjawab sebagian cacian itu.
Ingat, blio menjawab 'hanya sebagian' cacian. Dan ingat juga track record blio... Kalau Abu Bakar sampai menjawab cacian itu... itu berarti cacian itu sudah sedemikian parah. Karena blio adalah ash shiddiq. Karena kasih sayang blio gak diragukan lagi. Karena blio begitu lemah lembutnya.
Dan apa yang terjadi selanjutnya sodara2 ?
Rasullulloh langsung bangun, dan berjalan menjauh. Abu Bakar langsung ikut berdiri dan menyusul.
Berkata blio, Ya Rasululloh, pada saat orang itu tadi mencaciku, engkau hanya diam saja dan tersenyum. Namun pada saat aku menjawab sebagian caciannya, engkau langsung berdiri dan menjauh.
Rasullulloh SAW menjawab, pada saat orang itu tadi mencaci dan engkau diam saja, sesungguhnya malaikat menjawabnya untukmu. Pada saat engkau membalas sebagian caciannya, syetan ikut tersenyum bersamamu. Dan aku tidak mau duduk bersama dengan syetan.
Gambar diambil dari sini.
Tuesday, December 27, 2011
My Hope for Our Parents...
Melihat dan menyikapi kondisi sekitar... Dan mengolah informasi yang masuk dari para ustadz dan ustadzah...
Ada begitu banyak usia produktif yang merasa dilema. Di satu pihak, sedang masa produktif, sedang saatnya untuk memaksimalkan semua potensi dan sumber daya. Di kantor sedang sibuk2 nya, anak2 masih kecil2, keuangan yang belum begitu mapan, rumah yang masih nyicil, urusan nyari sekolah, dan semua tetek bengek yang cukup menguras tenaga, emosi, dan ekonomi.
Sementara di sisi lain, ortu sangat membutuhkan perhatian. Apalagi ortu sudah pensiun, sudah gak ada aktifitas rutin, namun secara fisik masih segar bugar. Ortu masih bisa mengerjakan banyak hal, namun 'dipaksa' gak ada yang dikerjakan. Biasa memikirkan dan ngurusin banyak hal, namun 'dipaksa' untuk tidak ada yang perlu dipikirkan dan anteng2 aja di rumah. Walhasil, justru usaha untuk 'tidak ngapa2-in' dan 'tidak memikirkan' ini yang bikin tambah ruwet. Padahal tidak dipungkiri, in deep, semua orang pasti mengakui jasa kedua orang tua dan pengen berbakti pada kedua orang tua.
So, berangkat dari 'dilema' itu, dan diskusi sama suami, kita berharap suatu saat nanti... sebelum kita benar2 tua, pengen bikin pesantren untuk para orang tua. Di pesantren orang tua ini, para orang tua akan diajak untuk tetap berkarya sesuai keinginan mereka, sesuai kemampuan mereka, sesuai hobby mereka. Dengan demikian kita berharap para orang tua merasa dibutuhkan, merasa masih punya kemampuan, merasa masih bisa mandiri, masih bisa mendapatkan penghasilan, dan tidak perlu merasa menjadi 'parasit' bagi anak2 nya (meskipun gak ada anaknya yg ngerasa gitu). Dan yang paling penting, orang tua punya kesibukan yang memang mereka senangi, dan bukan karena terpaksa mereka lakukan.
Dalam pikiranku, di pesantren itu nantinya juga akan ada anak2 yatim piatu atau dhuafa, yang menghidupkan pesantren. Di sana mereka bahu membahu dengan para orang tua, sehingga anak2 yang mungkin tadinya kurang perhatian, akan mendapatkan perhatian yang cukup dari para orang tua yang energi untuk memperhatikannya sedang berlebih, sementara anak2-nya sebagian besar sudah mapan. Sehingga klop, saling melengkapi.
Para orang tua yang senang berkebun akan menanam sesuai keinginan mereka. Atau bisa juga menjadi 'mandor' tanam untuk anak2 santri. Dan santri yang rutin merawat tanaman2 itu. Sehingga para orang tua tetap merasa mempunyai andil apabila tanamannya menghasilkan...
Para orang tua yang hobby merajut akan memulai rajutannya, atau mengajari santriwati merajut, dan santri yang akan menyelesaikan rajutannya. Dan hasil rajutan bisa dijual di event2 tertentu... Bayangkan, betapa senengnya para orang tua kalau melihat ternyata di usia yang sudah lumayan, masih bisa melihat hasil karyanya terpampang dan dijual dengan harga lumayan...
Sementara malam hari dipenuhi dengan dengung hafalan Quran dari para santri, dengan diawasi para orang tua. Para orang tua gak harus hafal al quran untuk mengawasi dan mengecek hafalan santri, tetapi bisa dengan membuka al quran. Dengan demikian, pahala dan amal ibadah para orang tua juga mengalir, bahkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir apabila santri selalu mengamalkan hafalannya.
Dan kapan impian ini terwujud ? Akankah terwujud ? Wallohu alam bisshowab... kami hanya menjalani apa yang Allah kehendaki. Apabila Allah ngasih kami rizqi, tenaga, waktu, dll sehingga mengarah kesana, insya Allah akan terwujud... Dan mereka yang berusia produktif tidak perlu merasa dilema lagi, karena orang tuanya sudah merasa berada di tempat yang tepat...
Gambar diambil dari sini dan sini.
Ada begitu banyak usia produktif yang merasa dilema. Di satu pihak, sedang masa produktif, sedang saatnya untuk memaksimalkan semua potensi dan sumber daya. Di kantor sedang sibuk2 nya, anak2 masih kecil2, keuangan yang belum begitu mapan, rumah yang masih nyicil, urusan nyari sekolah, dan semua tetek bengek yang cukup menguras tenaga, emosi, dan ekonomi.
Sementara di sisi lain, ortu sangat membutuhkan perhatian. Apalagi ortu sudah pensiun, sudah gak ada aktifitas rutin, namun secara fisik masih segar bugar. Ortu masih bisa mengerjakan banyak hal, namun 'dipaksa' gak ada yang dikerjakan. Biasa memikirkan dan ngurusin banyak hal, namun 'dipaksa' untuk tidak ada yang perlu dipikirkan dan anteng2 aja di rumah. Walhasil, justru usaha untuk 'tidak ngapa2-in' dan 'tidak memikirkan' ini yang bikin tambah ruwet. Padahal tidak dipungkiri, in deep, semua orang pasti mengakui jasa kedua orang tua dan pengen berbakti pada kedua orang tua.
So, berangkat dari 'dilema' itu, dan diskusi sama suami, kita berharap suatu saat nanti... sebelum kita benar2 tua, pengen bikin pesantren untuk para orang tua. Di pesantren orang tua ini, para orang tua akan diajak untuk tetap berkarya sesuai keinginan mereka, sesuai kemampuan mereka, sesuai hobby mereka. Dengan demikian kita berharap para orang tua merasa dibutuhkan, merasa masih punya kemampuan, merasa masih bisa mandiri, masih bisa mendapatkan penghasilan, dan tidak perlu merasa menjadi 'parasit' bagi anak2 nya (meskipun gak ada anaknya yg ngerasa gitu). Dan yang paling penting, orang tua punya kesibukan yang memang mereka senangi, dan bukan karena terpaksa mereka lakukan.
Dalam pikiranku, di pesantren itu nantinya juga akan ada anak2 yatim piatu atau dhuafa, yang menghidupkan pesantren. Di sana mereka bahu membahu dengan para orang tua, sehingga anak2 yang mungkin tadinya kurang perhatian, akan mendapatkan perhatian yang cukup dari para orang tua yang energi untuk memperhatikannya sedang berlebih, sementara anak2-nya sebagian besar sudah mapan. Sehingga klop, saling melengkapi.Para orang tua yang senang berkebun akan menanam sesuai keinginan mereka. Atau bisa juga menjadi 'mandor' tanam untuk anak2 santri. Dan santri yang rutin merawat tanaman2 itu. Sehingga para orang tua tetap merasa mempunyai andil apabila tanamannya menghasilkan...
Para orang tua yang hobby merajut akan memulai rajutannya, atau mengajari santriwati merajut, dan santri yang akan menyelesaikan rajutannya. Dan hasil rajutan bisa dijual di event2 tertentu... Bayangkan, betapa senengnya para orang tua kalau melihat ternyata di usia yang sudah lumayan, masih bisa melihat hasil karyanya terpampang dan dijual dengan harga lumayan...
Sementara malam hari dipenuhi dengan dengung hafalan Quran dari para santri, dengan diawasi para orang tua. Para orang tua gak harus hafal al quran untuk mengawasi dan mengecek hafalan santri, tetapi bisa dengan membuka al quran. Dengan demikian, pahala dan amal ibadah para orang tua juga mengalir, bahkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir apabila santri selalu mengamalkan hafalannya.
Dan kapan impian ini terwujud ? Akankah terwujud ? Wallohu alam bisshowab... kami hanya menjalani apa yang Allah kehendaki. Apabila Allah ngasih kami rizqi, tenaga, waktu, dll sehingga mengarah kesana, insya Allah akan terwujud... Dan mereka yang berusia produktif tidak perlu merasa dilema lagi, karena orang tuanya sudah merasa berada di tempat yang tepat...
Gambar diambil dari sini dan sini.
Subscribe to:
Posts (Atom)
