Hiks.. dengan berat hati... akhirnya tercapai kesepakatan dengan suami... untuk menutup toko kedua kita di ITC Kuningan.
Yach berat hati... karena sebenarnya omset kita mulai naik. Mulai banyak yang menjadi pelanggan Anugrah ITC Kuningan. Mulai banyak yang repeat order untuk pembelian retail.
Apalagi dengan sudah dibukanya jembatan baru untuk foodcourt yang berkelas di dekat lokasi kios kita. Karena foodcourt yang sudah ada, di jembatan lama, adalah foodcourt yang 'warung', relatif tidak mengutamakan nama. Sedangkan di jembatan baru yang deket kios kita, adalah foodcourt level Solaria, bakmi gang kelinci, M Bowl, dll. Kebayang khan posisi mereka sebagai magnet untuk area disitu ?
Ditambah lagi dengan dibukanya central untuk blackberry di sebelah nokia care... gak sampai 10 kios dari kios Anugrah...
Tapi yach... begitulah... karena beberapa hal... dengan berbagai pertimbangan... kesulitan untuk mendapatkan karyawan untuk ITC Kuningan yang sesuai dengan habit kita, yang pas dengan kemauan kita, misalnya. Juga karena kita memasukkan anak2 ke SD dan SMP yang cukup menguras isi tabungan. Trus tambah lagi karena ternyata tenaga kita belum cukup untuk mengelola toko yang jauh dari lokasi rumah. Apalagi nanti kalo Al sudah masuk ke Al Kahfi. Pasti harus cukup banyak waktu dan tenaga yang harus kita sediakan untuk menengok kesana. Sementara untuk saat ini saja... tenaga dan waktu untuk ke ITC Kuningan sudah pas2 an...
Jadi begitulah... dengan berat hati toko kami disana ditutup... Belum tahu sampai kapan... Kita mo liat dulu perkembangan setelah Al masuk Al Kahfi. Apakah tenaga (dan dana) masih cukup tersedia... atau sudah terkonsentrasikan ke yang lain...
Saat ini, toko kami sewakan dulu. Bagi yang berminat untuk menyewa toko kami, posisi di ITC Kuningan lt 4 C6/7, dekat musholla, dekat nokia care, dekat eskalator, dapat menghubungi marketing ITC kuningan cq p Muksin di no hp 0815 922 5292.
Gambar diambil dari sini.
Tuesday, June 8, 2010
Tentang Anugrah ITC Kuningan
Hiks.. dengan berat hati... akhirnya tercapai kesepakatan dengan suami... untuk menutup toko kedua kita di ITC Kuningan.
Yach berat hati... karena sebenarnya omset kita mulai naik. Mulai banyak yang menjadi pelanggan Anugrah ITC Kuningan. Mulai banyak yang repeat order untuk pembelian retail.
Apalagi dengan sudah dibukanya jembatan baru untuk foodcourt yang berkelas di dekat lokasi kios kita. Karena foodcourt yang sudah ada, di jembatan lama, adalah foodcourt yang 'warung', relatif tidak mengutamakan nama. Sedangkan di jembatan baru yang deket kios kita, adalah foodcourt level Solaria, bakmi gang kelinci, M Bowl, dll. Kebayang khan posisi mereka sebagai magnet untuk area disitu ?
Ditambah lagi dengan dibukanya central untuk blackberry di sebelah nokia care... gak sampai 10 kios dari kios Anugrah...
Tapi yach... begitulah... karena beberapa hal... dengan berbagai pertimbangan... kesulitan untuk mendapatkan karyawan untuk ITC Kuningan yang sesuai dengan habit kita, yang pas dengan kemauan kita, misalnya. Juga karena kita memasukkan anak2 ke SD dan SMP yang cukup menguras isi tabungan. Trus tambah lagi karena ternyata tenaga kita belum cukup untuk mengelola toko yang jauh dari lokasi rumah. Apalagi nanti kalo Al sudah masuk ke Al Kahfi. Pasti harus cukup banyak waktu dan tenaga yang harus kita sediakan untuk menengok kesana. Sementara untuk saat ini saja... tenaga dan waktu untuk ke ITC Kuningan sudah pas2 an...
Jadi begitulah... dengan berat hati toko kami disana ditutup... Belum tahu sampai kapan... Kita mo liat dulu perkembangan setelah Al masuk Al Kahfi. Apakah tenaga (dan dana) masih cukup tersedia... atau sudah terkonsentrasikan ke yang lain...
Saat ini, toko kami sewakan dulu. Bagi yang berminat untuk menyewa toko kami, posisi di ITC Kuningan lt 4 C6/7, dekat musholla, dekat nokia care, dekat eskalator, dapat menghubungi marketing ITC kuningan cq p Muksin di no hp 0815 922 5292.
Gambar diambil dari sini.
Tuesday, May 11, 2010
Milestone Pertama Al
Anakku sayang...Hari ini Allah telah memberi kepercayaan lebih kepadamu. Hari ini Allah telah mempercayaimu untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Hari ini Allah telah memberi kepercayaan kepadamu untuk mengambil keputusan dan menimbang resikonya. Hari ini Allah telah mempercayakan kepadamu untuk dapat menjadi imam sholat. Dan menjadi imam sholat, adalah tamsil untuk menjadi imam bagi kehidupan.
Anakku sayang...
Hari ini bukumu sudah diserahkan. Hari ini bukumu sudah kau terima. Hari ini buku itu masih putih bersih. Umi dan abi berharap, esok, lusa, dan seterusnya, buku itu akan engkau isi dengan hal2 yang baik. Sehingga buku itu tetap putih. Dan kau terima dengan tangan kanan pada saatnya nanti.
Anakku sayang...
Ketahuilah... mulai detik ini, engkau sudah bertanggung jawab terhadap apapun yang engkau lakukan. Setiap dzarrah yang engkau kerjakan, ada perhitungannya di sisi Rabb-mu. Setiap gerak tubuhmu, ada catatannya di buku. Setiap ucapan dan isyarat, tertulis dengan rapi tak terkecuali. Semuanya, tak tertinggal sedikitpun amal baik dan buruk yang dilakukan, kecuali ada catatannya di bukumu.
Anakku sayang...
Malaikat Rakib dan Atid mulai hari ini sudah ada di bahu kanan dan kirimu. Mereka mulai mencatat semua amalanmu tanpa khilaf dan alpa. Semua kebaikan sekecil apapun mereka catat, bahkan niat kebaikan pun sudah mereka catat. Dan semua keburukan juga mereka catat. Namun hanya keburukan yang sudah dilakukan yang mereka catat. Oleh karena itu anakku, sungguh keterlaluan apabila catatan kita itu sampai lebih banyak buruknya daripada baiknya. Naudzu billahi min dzalik.
Anakku sayang...
Hari ini kita syukuran. Meminta doa pada nenek dan kakek, pada bude dan pakdhe, pada orang2 terdekat kita. Umi dan abi berharap, engkau dapat menjalani kehidupanmu, dapat memilih yang baik di setiap pilihan yang harus dilakukan, dan menjalani konsekuensinya dengan syukur dan sabar. Semoga di akhir hayat nanti kita husnul khotimah dan dapat berkumpul di syurga firdaus-Nya. Semoga engkau dapat hafal 30 juz di kelulusan SMP mu nanti. Dan semoga Quran ada di hatimu, menjadi akhlakmu, dan penuntun di setiap langkah kehidupanmu.
Anakku sayang...
Di setiap pilihan yang engkau temukan nanti, pilihlah berdasarkan Al Quran dan sunnah. Pilihlah dengan pertimbangan bagaimana agamamu menyuruhmu berbuat. Karena kadang2, pilihan itu begitu kompleks dan semua tampak benar. Namun dengan tuntunan Al Quran dan sunnah, insya Allah engkau akan melihat mana yang paling benar untuk dunia dan akheratmu, meskipun kadang konsekuensinya begitu berat. Namun yakinlah anakku, Al Quran dan sunnah selalu menuntunmu menuju jalan terang. Menuntunmu menuju kebahagiaan dunia akherat yang kekal. Dan bukan kebahagiaan semu yang hanya sesaat pada suatu kondisi. Yang ternyata di situasi
dan kondisi yang berubah sedikit, kebahagiaan itu menjadi lenyap.Anakku sayang...
Sudah banya pesan dan bekal yang ummi dan abi sampaikan...
Semoga engkau menjadi wanita solehah, pengharum agama, dan penerus warisan para nabi dan syuhada. Amien...
Ditulis (seharusnya) di hr ahad, 9 Mei 2010, Untuk Ananda Al.
Gambar diambil dari sini.
Thursday, March 25, 2010
LOA : Tarik Menarik
Rasulullah pernah bilang, kalo mo lihat seseorang, lihatlah teman2nya. Selain karena seseorang itu cenderung memilih teman yang setipe, menurutku juga karena lama2 orang itu cenderung mengikuti, tertarik sama yang dilakukan teman2nya. Misalnya gini, tadinya aku cuman tertarik pengen tahu dan faham tentang Islam. Cause selama ini tahunya ya sebatas rukun Islam doank. Trus nyari dech, temen2 yang dianggap lebih tahu dan lebih faham. Sering ngumpul bareng mereka. Dan ternyata mereka itu baca qurannya banyak2. Puasanya kenceng2. Jadi lama2... meskipun gak sama2 banget, tapi minimal aku mulai nambah lah tilawahnya... Jadi mulai kebawa sama kebiasaan2 mereka... Gitu...
Attraction yang lain... ternyata konsumtif juga menarik perilaku konsumtif yang lain. Misalnya, ada tuh yang baru beli mobil baru. Sementara, mobil yang lama masih sangat bagus dan jarang dipakai. Means, dari sisi kebutuhan sebenernya belum. Nah, untuk 'menyimpan' mobil barunya, maka 'terpaksa' dibuatkan garasi baru. Trus kalo gak dipakai khan sayang, udah dibeli. Jadi 'terpaksa' di arrange acara jalan2, yang jelas konsumtif. Trus mobil yang baru ternyata belum ada TV nya, ditambahlah TV, plus sound system trakhir yang sesuai dengan harga mobil barunya. Trus... dan seterusnya lah... :-)
Attraction lain... ibu2 yang nggosiph. Pertama, mungkin lagi ngobrol doank. Trus ada yg nyeletuk ngomongin orang lain. Trus attraction mengambil bagian... mulai dech ditimpalin, ditimpalin lagi, dan lagi.... Lama2... gak brasa tuch... tahu2 udah nyebur di lingkaran gosiph. Yang mo ditinggal gimana... gak ditinggal gimana.
Attraction lain lagi... orang yang ngebohong. Pertama cuman ngebohong gak bisa datang. Pas ditanya, attraction mulai bekerja, muncul dech kebohongan kedua : gak dapat tiket. Trus disambung kebohongan ketiga, soalnya macet jadi gak bisa brangkat pagi buat beli tiket. Dan seterusnya. Cuman contoh yang ini agak gak pas ya ? Maaf... aku ribet nyari contohnya yang pas euy. Ini yang paling lumayan yang nongol di kepala. Yang jelas, itu udah diketahui lah, kalo suatu kebohongan itu bakal narik kebohongan berikutnya.
Attraction lain... yang pada buka toko. Trus karena permintaan banyak, jadi pengen produksi juga. Trus jadi gampang liat peluang bisnis. Berasa apa2 bisa dibisniskan. Berasa peluang ada di mana2. Tapi yang ini mah... tetep kudu ati2 ya... soale bisa mecah fokus tuh... Sejauh masih bisa dihandle sih its oke. Tapi kalo sebenernya masih ribet dan bolong dimana2, jangan lah pengen ngambil smua peluang yang lewat. Biarkan itu jadi rizqy yang lain. Daripada kita ngarep semuanya, tp ternyata bolong semuanya, ya gak...
Mirip gak sama LOA yang di buku ? Yang jelas, bagaimanapun dan apapun yang kita lakukan, ada tangan Allah di atas sana yang bekerja dan melihat kita. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bersungguh2 berusaha. Khan '...walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa…' Mereka yang bersungguh2, akan diberi Allah subulana-- jalan, cara. Kita sering menyebutnya ilham. Tahu2 saja 'ting'... kalau di komik visualisasinya dengan munculnya gambar lampu. Baca dech postingan di sini untuk lebih jauhnya.
Gitu... any comment ?
Gambar diambil dari sini.
Monday, February 15, 2010
Bisnis : antara Take Risk dan Penuh Perhitungan
Bisnis memang harus take risk. Cause resiko bisnis sudah sunnatullohnya lebih besar dari resiko jadi karyawan. Tapi... kalo buat saya... take risk bukan berarti merem dengan resiko yang ada. Maybe, kalo kata orang, saya dan suami termasuk yang safety player. Tapi gpp lah. Sejauh ini kita masih merasa nyaman dengan being safety player.Walopun begitu, berhitung njlimet juga gak perlu. Minimal buat kita. Berhitung itu penting. Tapi gak perlu sampai njelimet. Jangan lah. Ntar kerjaannya ngitung terus, bisnisnya gak jalan-jalan.
Trus gimana donk ? Kalo kita sih, seimbang ajalah. Berhitung itu perlu, tp sekedarnya aja. Hanya buat ngitung amunisi buat perbekalan kalo ada apa2. Biasanya yang kita hitung itu ada 2 jenis, berapa nilai investasi yang sifatnya 'hilang', Dan berapa yang kudu dikeluarkan yang kalo bisnis ternyata kudu digulung kayak tikar nilainya masih ada.
Untuk jenis 1, biasanya kita hati2 banget. Termasuk jenis ini adalah biaya sewa, renovasi, franchise, biaya distributor, dll. Yang kalo kemungkinan terjelek terjadi dan bisnis terpaksa diclose, maka biaya ini udah jelas gak balik sama sekali. Nilai toleransi kami untuk investasi yang jenis ini kecil banget, makanya toko Anugrah selalu berupa toko tumbuh. Karena untuk investasi yang jenis ini, kami betul2 alot. Baru bisa mengeluarkan nilai yang cukup besar apabila kemungkinan laba (gak sekedar balik modal) juga besar.
Untuk yang jenis 2, kami masih rada flexible lah. Termasuk jenis 2 adalah biaya pembelian toko, pembelian barang yang akan dijual, dll. Nilainya bisa jadi turun. Tapi minimal, ada lah yang bisa diusahakan supaya sekian persen dari yang dikeluarkan bisa balik lagi.
Jadi 3 poin penting itung2-an kita untuk mempertimbangkan mo ngejalanin bisnis baru atau enggak adalah : berapa yang harus kita ikhlaskan kalo bisnis ternyata kudu di-stop, berapa yang kudu dikeluarkan dan ada kemungkinan bisa balik sekian persen, dan berapa dana yang kita miliki. Kalo dari angkanya kayaknya kita sanggup, ya jalan aja. Tapi kalo angkanya bikin kita mringis... wah... brarti bisnisnya belum maqom kita tuh... Mungkin suatu saat nanti kalo dana udah lebih longgar bisa dipertimbangkan lagi...
Udah... itung2 annya brenti sampai disitu.
Trus take risk nya... ya kalo udah diputuskan jalan, ya take risk lah. Apa yang kudu diadepin, ya diadepin aja. Emang sih... tetep aja di tengah jalan itu suka binun.. lanjut enggak... lanjut enggak... apalagi kalo laba masih minus...
Kalo gitu... ya itung2 an lagi aja... brp yang kuat ditanggung buat nutup laba minus... Dan gimana trend penjualan setelah jalan bbrp lama. Kalo tren naik, dan masih tersedia dana buat nutup... yach... Lanjutkan !
Kalo ternyata enggak... hmm... saatnya memutuskan kali' ya... Soale alhamdulillah, sampai saat ini gak ngalamin sih... Any comment ?
Gambar dari sini
Monday, February 8, 2010
Kebohongan suami
Di suatu acara yang isinya wanita semua, ada salah satu temen yang curhat karena anaknya harus magang di Jakarta, dan kebingungan dengan transportasi dari depok yang sbaiknya dipake. Trus temen2 yang lain menimpali, bahwa kereta itu yang paling enak. Kalo jam sekian dan jam sekian itu kereta kosong. Plus info, bahwa suami mereka sering dan biasa naik kereta itu. Dan kata suaminya kosong.Hmm... Sejauh yang aku tahu... level kosong kereta Depok - Jakarta di jam berangkat dan pulang kerja... adalah apabila bisa berdiri dengan lurus. Digaris bawahi ya... berdiri dengan lurus. Karena apabila padat, boro2... nyari tempat buat kaki aja susah. Kaki dimana... badan dimana...
Tapi berhubung temen2 yang menimpali dan menceritakan tentang suaminya yang naik kereta dan berasa 'nyaman' dan 'kosong' itu yakin banget, jadi ya udah dech.. aku sendiri yang jadi bengong... apa aku yang salah dengan definisi 'kosong' ya...
Cuman... anaknya temen yang kudu magang itu juga cuman kuat sehari naik kereta... selanjutnya pindah ngekos di kota... Means...
Di saat yang lain, pas badanku lagi remuk karena perjalanan dengan kereta, aku nanya ke salah satu kenalan yang suaminya sering bareng satu kereta sama aku. Kutanya... suaminya ambruk gak sih, sampai rumah... Teler gak sih... Dan jawaban yang kudapat sungguh surprise... karena dengan pedenya dijawab : Enggak !! Suaminya pulang ke rumah masih seger. Telernya itu karena setelah itu masih banyak kegiatan, rapat, dll. Tapi kalo pulang kerja doank, masih seger buger. Walah...
Jadi tambah binun dech... apa memang aku yang manja ya... berasa jadi commuter jkt - depok dengan kereta itu berat... sementara ada begitu banyak masukan yg bilang suami temen2 ku pada enjoy, ngerasa nyaman naik kereta yang kosong, dan masih seger sampai di rumah.
Tapi... masih belum click. Berasa ada yang gak pas. Soale temen2 yang bapak2 di kantor, yang commuter dari depok juga, ngeluh yang sama juga kok, tentang kereta. Tentang kepadatannya, jam ngaretnya, gangguannya, signalnya, pohon tumbangnya, weselnya, dst. Jadinya kok kayak ada yang gak nyambung ya...
Suatu saat, aku ngobrol sama suami temenku yang tadi, yang sering berangkat dan pulang naik kereta yang sama dengan aku. Kutanya, emang naik kereta gini gak teler ya ? Sampai rumah gak ambruk ya ? Gak capek ya ?
Dan you know what he said ? Katanya : teler lah... jelas.... capek banget... Trus kutanya lagi, tapi kok kata istrinya nyaman2 aja. Sampai rumah masih seger. Dan jawabannya adalah : khan gak mungkin telernya ditunjukin ke istri di rumah.
Owh... jadi begitu ibu2... baru aku ngeh. Jadi sebenernya, naik kereta itu memang 'pekerjaan' yang bwerath. Suer... Hanya karena para suami itu sayang istri, jadi bilangnya naik kereta itu nyaman, kosong, dst. Dan itu menjelaskan semuanya. Juga kenapa kok temen2 di acara khusus wanita tadi, kenapa kok begitu pedenya bilang kereta itu enak. Karena itulah yg ditampilkan sama suaminya pas sampai rumah.
Terbukti juga, pas suatu saat kereta begitu bermasalahnya sehingga sampai rumah telat banget. Kutanya istri temen keretaku tadi... suaminya kemaren terlambat juga khan, karena gangguan kereta... Dan ternyata dia gak tahu sama sekali. Tahunya sebatas suami pulang malam. Tapi bahwa itu disebabkan karena kereta yang ampun banget... yang masalahnya sedemikian rupa... yang kita musti berdiri sekian lama... dia gak tahu sama sekali. Dikira pulang malam karena ya dari kantornya malam.
Jadi ibu2... yang suaminya ngantor,yang suaminya jadi commuter, dan sampai rumah masih seger... ketahuilah... bahwa suami sayang banget sama keluarga.... Sampai kehebohan krl pun dikemas dalam kata 'nyaman' dan 'kosong'. So... sayangi suami juga ya... :-)
Gambar dari Solidaritas Jabodetabek Untuk KRL Yang Lebih Baik di Fb.
Subscribe to:
Posts (Atom)