Tuesday, July 27, 2010

Boarding(2) : Akhirnya Al pindah kamar juga...

Sejak daftar ulang ke Al Kahfi dan memantapkan diri untuk nyekolahin disana, tiap inget Al mo sekolah boarding di pesantren aku kepikiran. Apalagi inget filmnya Taare Zameen Par, yang meski filmnya bagus, tp ada adegan Ishaan yang ditinggal untuk sekolah boarding... dan bagaimana sebegitu nangisnya Ishaan... terguguk-guguk di kamar mandi... Hiks... Owgh... begitukah nanti....


So, supaya kepikirannya gak lama, jadinya berniat barang2 nya Al gak tak kemas dulu. Selain supaya akunya gak kepikiran, juga supaya Al-nya gak khawatir. Tapi barang2 yang belum ada tetep tak belikan. Yang penting udah ada di rumah dulu, dan siap pakai. Tapi untuk nge-pack nya, ntar ajalah, kalo waktunya udah mepet.

Jadi pas jumat kemaren, 2 hari sebelum Al kudu dianter ke pesatren, ternyata tasnya masih belum di-pack. Al udah ribut... kapan neh.. tas ku mo dipack. Uff... ternyata pulang kantor tepar euy, tenagaku gak cukup lagi buat ngepack. Jadi sabtu pagi, setelah kegiatan rutin pagi hari, mulai kita ambil list barang yang kudu dibawa Al. Dicek urut dari yang paling atas, ada gak... udah dinamain belum... baru dimasukin ke tas. Sampai sini semua masih ok...

Sabtu itu padet banget. Acaraku yg padet banget. Al minta ijin gak ngikut kita ke Bogor, mo maen sama temen2nya. Okelah... perpisahan kali... Mata udah berasa pedes aja inget kata perpisahan... tapi gpp... masih bisa ditahan, msh aman... Jadi sabtu dari pagi sampai isya kita gak ketemu Al. Setelah isya baru ketemu, jalan sebentar cari makan.

Minggunya... pagi2 udah bangunin semuanya. Ayo... terlambat sedikit berarti parkir di luar... padahal bawaan banyak bin berat. Alhamdulilah, jam 6.30 kita udah keluar dari komplek, sekitar jam 8 sampai al Kahfi. Owh... parkir deket asrama putri udah penuh, dapetnya di deket kelas. Untung bawa pasukan banyak, jadi bawaan bisa dibagi, hehehe...

Mulai daftar ulang, nyari asrama, nyobain seragam, trus nata smua perbekalan supaya muat di satu lemari kecil nan imut. Tengok kiri kanan... barang yang lain pada dimana ya... Ternyata pada bawa container kecil dan ditaroh di kolong. Hmm... musti beli neh pekan depan. Oke, masukin ke list. Sementara yang ada dulu lah. Sampai sini, gak sempet berasa sedih.

Trus selesai semuanya. Baru dech liat2 ke bazaar, laper. Al mulai ngomong... kalo gak betah gimana... walah... gak usah mikir gak betah nak. Lha wong kamu pas kecil dulu pindah dari smg ke jakarta, sendirian, ternyata bisa kok... Kalo takut temen2nya gak enak, khan kak Al juga pernah ketemu temen yang paling gak enak pas SD, dan ternyata kak Al bisa nglewatinya khan... Jadi santai aja. Adepin aja apa yang ada di depan kita sekarang, gak usah khawatir banget nantinya gimana. Nanti mah serahin aja ke Allah...

Dan ternyata... ketemu banyak banget temen kuliah. Jadi rada tenang juga... at least, kita kenal orang tuanya.

Menjelang ashar, kita pamit pulang ke Al. Ternyata gak seheboh yang dibayangkan. Malah gak pake acara nangis sama sekali. Aku enggak, Al juga enggak. Justru persiapan dan khawatir di awal yg gede banget, yang heboh.. dikit2 matanya merah...

Jadi mikir, apa aku gak deket sama Al ya ? Gak juga kayaknya... kita deket kok. Cuman kayaknya... sreg aja pas liat al kahfi... liat guru2nya... temen2nya... suasananya... jadinya berasa tenang... Apalagi pekan depannya khan kita tengokin juga...

Trus gimana donk ? yach... selanjutnya sih kita pasrahkan saja sama Allah ya... Allah sebaik2 penjaga khan...

Tuesday, June 8, 2010

Tentang Anugrah ITC Kuningan

Hiks.. dengan berat hati... akhirnya tercapai kesepakatan dengan suami... untuk menutup toko kedua kita di ITC Kuningan. Yach berat hati... karena sebenarnya omset kita mulai naik. Mulai banyak yang menjadi pelanggan Anugrah ITC Kuningan. Mulai banyak yang repeat order untuk pembelian retail. Apalagi dengan sudah dibukanya jembatan baru untuk foodcourt yang berkelas di dekat lokasi kios kita. Karena foodcourt yang sudah ada, di jembatan lama, adalah foodcourt yang 'warung', relatif tidak mengutamakan nama. Sedangkan di jembatan baru yang deket kios kita, adalah foodcourt level Solaria, bakmi gang kelinci, M Bowl, dll. Kebayang khan posisi mereka sebagai magnet untuk area disitu ? Ditambah lagi dengan dibukanya central untuk blackberry di sebelah nokia care... gak sampai 10 kios dari kios Anugrah... Tapi yach... begitulah... karena beberapa hal... dengan berbagai pertimbangan... kesulitan untuk mendapatkan karyawan untuk ITC Kuningan yang sesuai dengan habit kita, yang pas dengan kemauan kita, misalnya. Juga karena kita memasukkan anak2 ke SD dan SMP yang cukup menguras isi tabungan. Trus tambah lagi karena ternyata tenaga kita belum cukup untuk mengelola toko yang jauh dari lokasi rumah. Apalagi nanti kalo Al sudah masuk ke Al Kahfi. Pasti harus cukup banyak waktu dan tenaga yang harus kita sediakan untuk menengok kesana. Sementara untuk saat ini saja... tenaga dan waktu untuk ke ITC Kuningan sudah pas2 an... Jadi begitulah... dengan berat hati toko kami disana ditutup... Belum tahu sampai kapan... Kita mo liat dulu perkembangan setelah Al masuk Al Kahfi. Apakah tenaga (dan dana) masih cukup tersedia... atau sudah terkonsentrasikan ke yang lain... Saat ini, toko kami sewakan dulu. Bagi yang berminat untuk menyewa toko kami, posisi di ITC Kuningan lt 4 C6/7, dekat musholla, dekat nokia care, dekat eskalator, dapat menghubungi marketing ITC kuningan cq p Muksin di no hp 0815 922 5292. Gambar diambil dari sini.

Tuesday, May 11, 2010

Milestone Pertama Al

Anakku sayang...
Hari ini Allah telah memberi kepercayaan lebih kepadamu. Hari ini Allah telah mempercayaimu untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Hari ini Allah telah memberi kepercayaan kepadamu untuk mengambil keputusan dan menimbang resikonya. Hari ini Allah telah mempercayakan kepadamu untuk dapat menjadi imam sholat. Dan menjadi imam sholat, adalah tamsil untuk menjadi imam bagi kehidupan.

Anakku sayang...
Hari ini bukumu sudah diserahkan. Hari ini bukumu sudah kau terima. Hari ini buku itu masih putih bersih. Umi dan abi berharap, esok, lusa, dan seterusnya, buku itu akan engkau isi dengan hal2 yang baik. Sehingga buku itu tetap putih. Dan kau terima dengan tangan kanan pada saatnya nanti.

Anakku sayang...
Ketahuilah... mulai detik ini, engkau sudah bertanggung jawab terhadap apapun yang engkau lakukan. Setiap dzarrah yang engkau kerjakan, ada perhitungannya di sisi Rabb-mu. Setiap gerak tubuhmu, ada catatannya di buku. Setiap ucapan dan isyarat, tertulis dengan rapi tak terkecuali. Semuanya, tak tertinggal sedikitpun amal baik dan buruk yang dilakukan, kecuali ada catatannya di bukumu.

Anakku sayang...
Malaikat Rakib dan Atid mulai hari ini sudah ada di bahu kanan dan kirimu. Mereka mulai mencatat semua amalanmu tanpa khilaf dan alpa. Semua kebaikan sekecil apapun mereka catat, bahkan niat kebaikan pun sudah mereka catat. Dan semua keburukan juga mereka catat. Namun hanya keburukan yang sudah dilakukan yang mereka catat. Oleh karena itu anakku, sungguh keterlaluan apabila catatan kita itu sampai lebih banyak buruknya daripada baiknya. Naudzu billahi min dzalik.

Anakku sayang...
Hari ini kita syukuran. Meminta doa pada nenek dan kakek, pada bude dan pakdhe, pada orang2 terdekat kita. Umi dan abi berharap, engkau dapat menjalani kehidupanmu, dapat memilih yang baik di setiap pilihan yang harus dilakukan, dan menjalani konsekuensinya dengan syukur dan sabar. Semoga di akhir hayat nanti kita husnul khotimah dan dapat berkumpul di syurga firdaus-Nya. Semoga engkau dapat hafal 30 juz di kelulusan SMP mu nanti. Dan semoga Quran ada di hatimu, menjadi akhlakmu, dan penuntun di setiap langkah kehidupanmu.

Anakku sayang...
Di setiap pilihan yang engkau temukan nanti, pilihlah berdasarkan Al Quran dan sunnah. Pilihlah dengan pertimbangan bagaimana agamamu menyuruhmu berbuat. Karena kadang2, pilihan itu begitu kompleks dan semua tampak benar. Namun dengan tuntunan Al Quran dan sunnah, insya Allah engkau akan melihat mana yang paling benar untuk dunia dan akheratmu, meskipun kadang konsekuensinya begitu berat. Namun yakinlah anakku, Al Quran dan sunnah selalu menuntunmu menuju jalan terang. Menuntunmu menuju kebahagiaan dunia akherat yang kekal. Dan bukan kebahagiaan semu yang hanya sesaat pada suatu kondisi. Yang ternyata di situasi dan kondisi yang berubah sedikit, kebahagiaan itu menjadi lenyap.

Anakku sayang...
Sudah banya pesan dan bekal yang ummi dan abi sampaikan...
Semoga engkau menjadi wanita solehah, pengharum agama, dan penerus warisan para nabi dan syuhada. Amien...

Ditulis (seharusnya) di hr ahad, 9 Mei 2010, Untuk Ananda Al.

Gambar diambil dari sini.

Thursday, March 25, 2010

LOA : Tarik Menarik

Law of attraction, hukum ketertarikan, topik lama yach.. udah sering denger khan. Udah hapal pastinya. Aku sendiri belum pernah baca bukunya. Secara garis besar ada poin yang sepakat, dan ada satu poin utama yang aku gak sreg. Btw, sekarang bukan mo ngebahas itu. Kebetulan aja gak nemu istilah yang lebih pas. Jadi dipake dech istilah yang pernah ngetop itu : law of attraction. Hukum tarik menarik, hukum ketertarikan.

Rasulullah pernah bilang, kalo mo lihat seseorang, lihatlah teman2nya. Selain karena seseorang itu cenderung memilih teman yang setipe, menurutku juga karena lama2 orang itu cenderung mengikuti, tertarik sama yang dilakukan teman2nya. Misalnya gini, tadinya aku cuman tertarik pengen tahu dan faham tentang Islam. Cause selama ini tahunya ya sebatas rukun Islam doank. Trus nyari dech, temen2 yang dianggap lebih tahu dan lebih faham. Sering ngumpul bareng mereka. Dan ternyata mereka itu baca qurannya banyak2. Puasanya kenceng2. Jadi lama2... meskipun gak sama2 banget, tapi minimal aku mulai nambah lah tilawahnya... Jadi mulai kebawa sama kebiasaan2 mereka... Gitu...

Attraction yang lain... ternyata konsumtif juga menarik perilaku konsumtif yang lain. Misalnya, ada tuh yang baru beli mobil baru. Sementara, mobil yang lama masih sangat bagus dan jarang dipakai. Means, dari sisi kebutuhan sebenernya belum. Nah, untuk 'menyimpan' mobil barunya, maka 'terpaksa' dibuatkan garasi baru. Trus kalo gak dipakai khan sayang, udah dibeli. Jadi 'terpaksa' di arrange acara jalan2, yang jelas konsumtif. Trus mobil yang baru ternyata belum ada TV nya, ditambahlah TV, plus sound system trakhir yang sesuai dengan harga mobil barunya. Trus... dan seterusnya lah... :-)

Attraction lain... ibu2 yang nggosiph. Pertama, mungkin lagi ngobrol doank. Trus ada yg nyeletuk ngomongin orang lain. Trus attraction mengambil bagian... mulai dech ditimpalin, ditimpalin lagi, dan lagi.... Lama2... gak brasa tuch... tahu2 udah nyebur di lingkaran gosiph. Yang mo ditinggal gimana... gak ditinggal gimana.

Attraction lain lagi... orang yang ngebohong. Pertama cuman ngebohong gak bisa datang. Pas ditanya, attraction mulai bekerja, muncul dech kebohongan kedua : gak dapat tiket. Trus disambung kebohongan ketiga, soalnya macet jadi gak bisa brangkat pagi buat beli tiket. Dan seterusnya. Cuman contoh yang ini agak gak pas ya ? Maaf... aku ribet nyari contohnya yang pas euy. Ini yang paling lumayan yang nongol di kepala. Yang jelas, itu udah diketahui lah, kalo suatu kebohongan itu bakal narik kebohongan berikutnya.

Attraction lain... yang pada buka toko. Trus karena permintaan banyak, jadi pengen produksi juga. Trus jadi gampang liat peluang bisnis. Berasa apa2 bisa dibisniskan. Berasa peluang ada di mana2. Tapi yang ini mah... tetep kudu ati2 ya... soale bisa mecah fokus tuh... Sejauh masih bisa dihandle sih its oke. Tapi kalo sebenernya masih ribet dan bolong dimana2, jangan lah pengen ngambil smua peluang yang lewat. Biarkan itu jadi rizqy yang lain. Daripada kita ngarep semuanya, tp ternyata bolong semuanya, ya gak...

Mirip gak sama LOA yang di buku ? Yang jelas, bagaimanapun dan apapun yang kita lakukan, ada tangan Allah di atas sana yang bekerja dan melihat kita. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bersungguh2 berusaha. Khan '...walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa…' Mereka yang bersungguh2, akan diberi Allah subulana-- jalan, cara. Kita sering menyebutnya ilham. Tahu2 saja 'ting'... kalau di komik visualisasinya dengan munculnya gambar lampu. Baca dech postingan di sini untuk lebih jauhnya.

Gitu... any comment ?

Gambar diambil dari sini.

Monday, February 15, 2010

Bisnis : antara Take Risk dan Penuh Perhitungan

Bisnis memang harus take risk. Cause resiko bisnis sudah sunnatullohnya lebih besar dari resiko jadi karyawan. Tapi... kalo buat saya... take risk bukan berarti merem dengan resiko yang ada. Maybe, kalo kata orang, saya dan suami termasuk yang safety player. Tapi gpp lah. Sejauh ini kita masih merasa nyaman dengan being safety player.

Walopun begitu, berhitung njlimet juga gak perlu. Minimal buat kita. Berhitung itu penting. Tapi gak perlu sampai njelimet. Jangan lah. Ntar kerjaannya ngitung terus, bisnisnya gak jalan-jalan.

Trus gimana donk ? Kalo kita sih, seimbang ajalah. Berhitung itu perlu, tp sekedarnya aja. Hanya buat ngitung amunisi buat perbekalan kalo ada apa2. Biasanya yang kita hitung itu ada 2 jenis, berapa nilai investasi yang sifatnya 'hilang', Dan berapa yang kudu dikeluarkan yang kalo bisnis ternyata kudu digulung kayak tikar nilainya masih ada.

Untuk jenis 1, biasanya kita hati2 banget. Termasuk jenis ini adalah biaya sewa, renovasi, franchise, biaya distributor, dll. Yang kalo kemungkinan terjelek terjadi dan bisnis terpaksa diclose, maka biaya ini udah jelas gak balik sama sekali. Nilai toleransi kami untuk investasi yang jenis ini kecil banget, makanya toko Anugrah selalu berupa toko tumbuh. Karena untuk investasi yang jenis ini, kami betul2 alot. Baru bisa mengeluarkan nilai yang cukup besar apabila kemungkinan laba (gak sekedar balik modal) juga besar.

Untuk yang jenis 2, kami masih rada flexible lah. Termasuk jenis 2 adalah biaya pembelian toko, pembelian barang yang akan dijual, dll. Nilainya bisa jadi turun. Tapi minimal, ada lah yang bisa diusahakan supaya sekian persen dari yang dikeluarkan bisa balik lagi.

Jadi 3 poin penting itung2-an kita untuk mempertimbangkan mo ngejalanin bisnis baru atau enggak adalah : berapa yang harus kita ikhlaskan kalo bisnis ternyata kudu di-stop, berapa yang kudu dikeluarkan dan ada kemungkinan bisa balik sekian persen, dan berapa dana yang kita miliki. Kalo dari angkanya kayaknya kita sanggup, ya jalan aja. Tapi kalo angkanya bikin kita mringis... wah... brarti bisnisnya belum maqom kita tuh... Mungkin suatu saat nanti kalo dana udah lebih longgar bisa dipertimbangkan lagi...

Udah... itung2 annya brenti sampai disitu.

Trus take risk nya... ya kalo udah diputuskan jalan, ya take risk lah. Apa yang kudu diadepin, ya diadepin aja. Emang sih... tetep aja di tengah jalan itu suka binun.. lanjut enggak... lanjut enggak... apalagi kalo laba masih minus...

Kalo gitu... ya itung2 an lagi aja... brp yang kuat ditanggung buat nutup laba minus... Dan gimana trend penjualan setelah jalan bbrp lama. Kalo tren naik, dan masih tersedia dana buat nutup... yach... Lanjutkan !

Kalo ternyata enggak... hmm... saatnya memutuskan kali' ya... Soale alhamdulillah, sampai saat ini gak ngalamin sih... Any comment ?

Gambar dari sini