Thursday, June 16, 2011

Priority

Berapa hari yang lalu, Uthi bangun tidur dengan sikon yang gak nyaman. Hasilnya bisa ditebak, dia uring-uringan. Semua jadi keliatan salah. Untuk diketahui, Uthi ini modelnya Koleris, kinestetik. Jadi dia memang dianugerahi Allah tenaga yang kuat, prima. Jadi ujian dia memang di urusan mengendalikan diri, menahan diri.

Pagi2 jadi kudu mikir. Cause kalo nggak, bisa ribet... Khawatir kebawa2 sampai dia gede nanti.

Jadi tak panggillah dia, kita berhadapan berdua di pojok paling favorit di rumah. Trus mulai dech, "baca Al Fatihah". Trus aja tak tunggu, sampai dia baca Al Fatihah dengan benar. Selesai itu tak liat, ekspresinya udah cerah belum. Kalo masih belum, lanjut, "Baca An Naas". Teruuuusss... aja, sampai ekspresinya cerah dan bisa tersenyum ceria lagi.

Nah, case kemaren, ternyata lumayan lama. Sampai waktunya siap2 ke sekolah, ternyata ekspresinya masih mbundhet. Ujung2nya, Uthi siap ke sekolah pas jamnya udah telat.

Dia udah ribut... gak mau sekolah, ntar aku dihukum. Hmm... another problem. Tak bilang aja, gak, gak dihukum, ntar dianter umi. Sekarang umi mo sms dulu kasih tahu bu guru yaks. Dan aku sms didepan dia dan dibaca dia : Afwan bu, berhubung tadi ada diskusi sama Uthi, jadi mohon ijin dia terlambat sekolah. Mohon dimaklumi dan tidak dihukum. Jazakillah.

Uthi tampak lega setelah baca sms itu. Dan Alhamdulillah, di sekolah gurunya cuman senyum dan gak menghukum Uthi.

Tapi di jalan, aku jadi mikir, bener gak ya, keputusanku. Sampai 'ngebiarin' Uthi telat karena ngobrol sama aku. Ngrenung dibolak balik sambil jalan ke kantor... Sampailah pada keputusan, gak salah. Cause kalo sekolah terlambat, insya Allah masih bisa dikejar. Tapi kalo momen buat peningkatan kepribadian dia, gak bisa setiap waktu diperoleh. Dan kalo momen itu dicuekin, lewatlah salah satu momen emas buat nerangin ke Uthi dan membuat dia faham. Padahal dia bakal berpengaruh sampai gede nanti, insya Allah.

Setuju gak ?

Friday, May 6, 2011

Memilih...

Mencoba menghitung usia produktif...

Kupikir, untuk piawai dan menguasai hal2 yang detil, dan mengikuti perkembangan teknologi sembari tetap trampil di level detil, ada limit usianya. Ada batas umur untuk bisa mahir dengan kerumitan. Lewat treshold-nya, kemampuan untuk rinci dan teliti mulai meniti grafik menurun.

Sementara, kemampuan manajerial, practice makes perfect. Semakin bertambah usia, gak ngaruh, malah makin mumpuni, sejauh practice -- dilatih, dan tetep berlatih.

Dan bersyukurlah aku, karena kemampuan manajerial kami dilatih di ourselves bisnis. As Owner, kami bebas menentukan arah bisnis. Kami bebas menentukan pedoman untuk bisnis kami. Dan Alhamdulillah, kami telah sepakat untuk menjalankan Anugrah sesuai tuntunan yang benar, sesuai yang kami tahu tentang perintah Allah SWT dan larangannya, dan sesuai contoh yang diberikan Rasululloh SAW.

Melihat sekitar, mencermati lingkungan, mengamati teman2, sepertinya langkah kami mulai jelas terpetakan. Saatnya untuk mulai meminta pertimbangan Allah dengan istikharah kepada-Nya, untuk menentukan takdir Allah yang manakah yang kami pilih. Apakah berpindah dari satu takdir ke yang lainnya, atau tetap dengan takdir yang telah dijalani, atau bahkan ke takdir lainnya lagi.

Hanya berharap bisa membaca hikmah yang diberikan melalui kejadian2 yang Allah SWT desain. Hanya berharap bisa belajar dan mengambil apa yang Allah ajarkan. Sembari berharap bisa ridho sama apapun ketentuan Allah SWT yang ditetapkan-Nya atas kami, dan Allah ridho pada apa yang kami lakukan. Sehingga kita bisa masuk surga (firdaus) dengan ridho-Nya. Amien...

Monday, May 2, 2011

Oportunis

Hari ini speechless... Uff...

Berinteraksi dengan beragam orang, beragam tipe perilaku, beragam kemauan dan keinginan, dan beragam target dan cara yang dipilih untuk mencapainya. Membuat aku berpikir... dan belajar banyak...

Sebagai 'mantan' pleghmatis asli, aku tidak terbiasa untuk mengambil kesempatan. Tidak terbiasa untuk oportunis, memanfaatkan kesempatan sejauh masih dalam norma yang benar. Sebagai seorang pleghmatis, (tadinya) lebih sering menerima saja keputusan yang diambil orang lain.

Bergaul dengan banyak orang dengan beragam tipe, membuatku berpikir ulang dan belajar banyak hal...

Puncaknya pas ada pertanyaan di kuiz : apabila dari tempat kita berdiri, terlihat ada 3 pintu. Ketiganya terbuka lebar. Di luar ketiga pintu itu, terlihat pemandangan yang indah dan sangat alami, dengan air terjun, bunga2 yang mekar, kupu2, burung2 beterbangan, dll. Di persimpangan menuju pintu2 tsb, ada kunci tergeletak. Apakah Anda akan mengambilnya ?

Dengan berbagai pertimbangan... aku memilih : tidak. Karena toh pintunya terbuka, aku belum perlu kunci tsb. Siapa tahu nanti ada yang lebih perlu. Dan kalopun nanti ada pintu tertutup, khan aku bisa balik lagi buat ngambil.

Sayangnya, seorang opoprtunis akan memilih : ambil. Dengan alasan gak ada salahnya diambil, siapa tahu ntar pintunya nutup dan ngunci. Lagian, gak ada yang dirugikan kalo kita ngambil. Kalopun ntar ada yang butuh, khan bisa minta ke kita.

You see ? Terlihat yaks, perbedaannya...
Jadi sejak aku menyadarinya, mulailah aku mengamati, dan belajar untuk meningkatkan level oportunisku, agar nggak pleghmatis2 banget. Dan pembelajaranku juga diimbaskan ke lingkungan terbatas, hanya mereka yang tak pikir perlu dan mau berubah.

Include di oportunis... adalah mengemas dengan indah. Selama ini, hal yang bagus, yang besar, gak bisa tak gambarkan dalam kata2, sehingga orang lain menganggap biasa2 saja. Sementara di tangan orang oportunis (sanguinis ?), hal yang biasa bisa menjadi begitu bagus, begitu besar, begitu spektakuler. Really...

Ini juga masih belajar, masih mengamati. Masih menjadi pengamat dan pemerhati kata2 pada saat para oportunis bicara. Bagaimana caranya mereka menjawab dan merangkai kata, sehingga orang lain merasa itu hal yang hebat.

Dan satu lagi, belajar untuk menghargai diri sendiri. Karena para pleghmatis, biasane gak menghargai hasil karya sendiri, karena selalu saja masih ada kekurangannya. Padahal di tangan oportunis, dengan karya yang sama dan kekurangan yang (malah) jauh lebih banyak, bisa berbangga dan menyampaikan ke orang lain kehebatannya, sembari mengolah kata supaya (bahkan) kekurangannya jadi terlihat kelebihan juga.

Uff... hebat yaks orang oportunis...
Iyah hebat... dengan satu catatan... oportunis gak papa, bahkan perlu, cuman tetep di koridor yang bener, sejauh gak mendholimi orang lain...

Jadi, belajar oportunis yook, mariii....

Monday, March 14, 2011

Do Many Thing...

Suatu saat ada sahabat yang nanya, kamu kok ngerjakan segitu banyak hal, emangnya buat persiapan resign ya ?

Uff... binun aku ngejelasinnya. Sejujurnya, pengen resign sih jelas iya, lha wong khan udah jelas, kerja itu coapek banget. Capek fisik udah pasti, mengingat kerjanya di Jakarta, 8 to 5, belum termasuk perjalanan 3 jam at least, pp. Juga capek pikiran dan hati... Yach... namanya juga kerja, ada ajalah saat2 kita kudu menata hati dan pikiran, meluruskan niat... Ya khan ?

Cuman... kalo supaya bisa resign maka aku ngerjakan banyak hal... hmm.. kayaknya aku musti mikir ulang...

Coba dirunut yaks... aku dulu jualan baju pertama kali, karena ada yang minta diambilin baju dari Bandung, buat dia jual. Trus lanjut kulakan baju di Jakarta, supaya ibmer ada kerjaan, mengingat sebelumnya sibuk ngurusin anak2 ku. Trus masuk ke grosir, karena produsen menentukan kiat kudu naroh modal minimal, yang mau gak mau ya aku musti muter pikiran buat nutup lah...

And then, buka toko, karena ada mantan karyawan yang tahu2 dateng minta kerja, dan gak mungkin tak taroh buat kerja di rumah. Trus trakhir ini buka online, cause ada banyak barang kita yang 'ngetem' di rumah, sayang khan kalo gak dikaryakan... Nah, keinginan buat masuk ke produksi juga karena ada barang kita yang penjualannya bagus banget, tapi susah dapat barang.

So... kalo ngeliat semua reason itu... kayaknya gak ada hubungannya sama resign yaks...

Yang jelas, aku berasanya sih ngerjakan aja apa yang dikasih sama Allah SWT. Kalo Allah nunjukin jalan, dan kayaknya make sense buat dijalanin, ya kita jalanin aja...

Nah, kalo ternyata trus kita keliatan ngerjakan banyak hal, ya wallohu alam... kita ngerjakannya step by step kok. Setiap mo ngerjakan step yang baru, juga sambil mikir, make sense gak...

Dan kalo ntar di salah satu step itu aku resign... yach... maybe... itu cuman salah satu step... salah satu jalan yang ditunjukkan ALlah SWT itu tadi... Dan --again-- kita cuman mikir... make sense gak yaks... Kalo make sense, ya lanjuuutt....

Foto2 diambil dari tanaman yang ada di rumah setelah shubuh beberapa hari yang lalu :-)

Sunday, March 6, 2011

Beban Genetika...


Aku akui, pas Mut kecil, yang kudunya pas saat2nya dia lagi menyerap dasar2 ilmu agama, usia sekitar 2 - 5 tahun-an, aku terlewat masa emas Mut buat ngajarin dia dasar2 agama. Seperti qiraati, hafalan surat pendek, doa2, dll. Ada beberapa penyebab. Pertama, karena saat itu aku lagi ganti2 asisten dan BS, baik untuk We yang masih baby, maupun untuk Mut. So, perhatian banyak terserap ke urusan nyari yang bener dan cocok, belum sampai ke ngedidik asisten supaya bisa ngajarin Mut. Dan alasan kedua, karena setelah itu aku ketemu BS yang bagus, yang sangat mumpuni untuk urusan ke-BS-an, namun sayangnya... ilmu agamanya kurang. Sholat sih alhamdulillah 5 waktu. Cuman untuk urusan mengamalkan doa2, qiraati, belum sampai. Dan sayangnya aku baru sadar (atau untungnya aku segera sadar?) pas Mut agak gedean. Sekitar usia Tk B, tepatnya. Trus aku sama suami sepakat untuk menggenjot Mut di Qiraati dulu, baru menghafal. Supaya pas menghafal langsung yang benernya, dan bisa kita push untuk menghafal sendiri seperti kakak2nya. Nah, di sekolah, fyi, Mut satu SD sama kakak2nya. Yang nota bene Al, pas lulus peraih hafalan tertinggi di sekolah, 3 juz lebih dikit. Dan Iv, yang masih kelas 5 di SD yang sama, hafalan tertinggi kedua di levelnya, dan sekarang hampir selesai juz 28. Mut sendiri, pas masuk SD, Al Fatihah juga kadang masih belepotan. Rupanya, prestasi yang diraih kakak2nya cukup berat membebani Mut. Cause sepertinya ada beberapa guru yang mengharapkan prestasi yang sama dicapai Mut. Juga lingkungan sekitar. Mut tadinya enjoy kita push dia untuk Qiraati. Sampai akhirnya dia bhasil setor 3 halaman sehari ke gurunya, padahal rata2 temen2 nya hanya 1 halaman. Trus saatnya untuk tes masuk ke qiraati level berikutnya. Pekan pertama selesai qiraati 2, sebelum masuk ke jilid 3, Mut bilang di sekolah masih persiapan buat tes. Okelah. Pekan kedua, lho...lha kok masih persiapan juga. Masuk pekan ketiga, Mut muntah2. Tapi pas gak masuk sekolah, ternyata di rumah seger. Tetep aktif. Nafsu makan juga tetep bagus. Hmm... aku mulai curiga... Hari kesekian di pekan ketiga, tak telponlah gurunya. Ternyata, untuk masuk ke jilid 3, disyaratkan hafal Al Humazah sampai Al Ahdiyat. Oalah... pantesan... Mut memang kayak agak phobi sama urusan menghafal. Karena yaitu tadi, selain guru2nya, memang banyak lingkungan sekitar yang jadi menuntut Mut untuk bisa punya hafalan sebanyak kakaknya. Awal2 ngajak Mut menghafal Al Humazah, ampuuunnn... buat nembus penolakannya Mut susahnya bukan main. Apalagi ternyata hafalan We di TK juga udah sampai Al Humazah. Jadilah Mut nolaknya tambah2. Pas aku udah mulai sutris cause gak sukses2, mulai nongol marah2nya, aku narik diri dulu. Untungnya abinya turun tangan. Dan gak tahu gimana, abinya nemu cara buat bikin Mut mudah mengingat. Tahu gak ? Hanya dengan mengkodekan jari as ayat 1, 2, dst nya. Dan Mut baru beberapa menit sudah inget ayat2 awal dari Al Humazah. Bagianku meneruskan lebih mudah. Cause Mut jadi sudah jauh lebih pede buat menghafal. Dan pede itu modal yang sangat besar. Mengingat ayat2 di Al Humazah agak banyak, trik abinya itu trus dimodifikasi dengan menulis awal tiap ayat dan nomor ayatnya di white board, yang terus dihapus satu2, disisakan nomor ayatnya doank. Pas udah lancar, nomor ayat tinggal diganti sama tangan kita. Alhamdulillah, dengan cara itu ternyata Mut lumayan lancar menghafal Al Humazah, Al Ashr, dan At Takatsur. Tinggal 2 surat lagi menunggu untuk dihafalkan. Dan hari senin ini Mut berangkat sekolah dengan pede, sudah full senyum lagi. Smoga Mut bisa sama dengan kakak2nya, atau lebih, sesuai harapan para guru, dan lingkungan sekitarnya. Buat aku sendiri, sebenarnya kita lebih mengikuti saja perkembangan Mut. Cuman kalo ngeliat tuntutan lingkungan terhadap dia, kasihan juga kalo kita ngebiarin aja tuntutan itu bikin dia down, dan bukan jadi penyemangat. So, kita bharap bisa berperan di tengah. Yang mendorong Mut, nge push Mut, menyemangati Mut, tapi juga tetep menjaga supaya dia gak down dan sutris dengan prestasi kakak2nya.