Petikan

Allah memberi kekayaan sesuai dengan keadilan-Nya. Ada yang Allah takdirkan kaya karena itulah yang pantas untuknya : krn jk diberi kefakiran, ia akan kufur. Tapi ada juga yang Allah berikan kekayaan dalam rangka istidroj : agar semakin membuat seseorang terlena dalam maksiat dan kekufuran.

QS Al An Am : 44 - 45 : Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang dzalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Monday, February 8, 2010

Kebohongan suami

Di suatu acara yang isinya wanita semua, ada salah satu temen yang curhat karena anaknya harus magang di Jakarta, dan kebingungan dengan transportasi dari depok yang sbaiknya dipake. Trus temen2 yang lain menimpali, bahwa kereta itu yang paling enak. Kalo jam sekian dan jam sekian itu kereta kosong. Plus info, bahwa suami mereka sering dan biasa naik kereta itu. Dan kata suaminya kosong.

Hmm... Sejauh yang aku tahu... level kosong kereta Depok - Jakarta di jam berangkat dan pulang kerja... adalah apabila bisa berdiri dengan lurus. Digaris bawahi ya... berdiri dengan lurus. Karena apabila padat, boro2... nyari tempat buat kaki aja susah. Kaki dimana... badan dimana...

Tapi berhubung temen2 yang menimpali dan menceritakan tentang suaminya yang naik kereta dan berasa 'nyaman' dan 'kosong' itu yakin banget, jadi ya udah dech.. aku sendiri yang jadi bengong... apa aku yang salah dengan definisi 'kosong' ya...

Cuman... anaknya temen yang kudu magang itu juga cuman kuat sehari naik kereta... selanjutnya pindah ngekos di kota... Means...

Di saat yang lain, pas badanku lagi remuk karena perjalanan dengan kereta, aku nanya ke salah satu kenalan yang suaminya sering bareng satu kereta sama aku. Kutanya... suaminya ambruk gak sih, sampai rumah... Teler gak sih... Dan jawaban yang kudapat sungguh surprise... karena dengan pedenya dijawab : Enggak !! Suaminya pulang ke rumah masih seger. Telernya itu karena setelah itu masih banyak kegiatan, rapat, dll. Tapi kalo pulang kerja doank, masih seger buger. Walah...

Jadi tambah binun dech... apa memang aku yang manja ya... berasa jadi commuter jkt - depok dengan kereta itu berat... sementara ada begitu banyak masukan yg bilang suami temen2 ku pada enjoy, ngerasa nyaman naik kereta yang kosong, dan masih seger sampai di rumah.

Tapi... masih belum click. Berasa ada yang gak pas. Soale temen2 yang bapak2 di kantor, yang commuter dari depok juga, ngeluh yang sama juga kok, tentang kereta. Tentang kepadatannya, jam ngaretnya, gangguannya, signalnya, pohon tumbangnya, weselnya, dst. Jadinya kok kayak ada yang gak nyambung ya...

Suatu saat, aku ngobrol sama suami temenku yang tadi, yang sering berangkat dan pulang naik kereta yang sama dengan aku. Kutanya, emang naik kereta gini gak teler ya ? Sampai rumah gak ambruk ya ? Gak capek ya ?

Dan you know what he said ? Katanya : teler lah... jelas.... capek banget... Trus kutanya lagi, tapi kok kata istrinya nyaman2 aja. Sampai rumah masih seger. Dan jawabannya adalah : khan gak mungkin telernya ditunjukin ke istri di rumah.

Owh... jadi begitu ibu2... baru aku ngeh. Jadi sebenernya, naik kereta itu memang 'pekerjaan' yang bwerath. Suer... Hanya karena para suami itu sayang istri, jadi bilangnya naik kereta itu nyaman, kosong, dst. Dan itu menjelaskan semuanya. Juga kenapa kok temen2 di acara khusus wanita tadi, kenapa kok begitu pedenya bilang kereta itu enak. Karena itulah yg ditampilkan sama suaminya pas sampai rumah.

Terbukti juga, pas suatu saat kereta begitu bermasalahnya sehingga sampai rumah telat banget. Kutanya istri temen keretaku tadi... suaminya kemaren terlambat juga khan, karena gangguan kereta... Dan ternyata dia gak tahu sama sekali. Tahunya sebatas suami pulang malam. Tapi bahwa itu disebabkan karena kereta yang ampun banget... yang masalahnya sedemikian rupa... yang kita musti berdiri sekian lama... dia gak tahu sama sekali. Dikira pulang malam karena ya dari kantornya malam.

Jadi ibu2... yang suaminya ngantor,yang suaminya jadi commuter, dan sampai rumah masih seger... ketahuilah... bahwa suami sayang banget sama keluarga.... Sampai kehebohan krl pun dikemas dalam kata 'nyaman' dan 'kosong'. So... sayangi suami juga ya... :-)

Gambar dari Solidaritas Jabodetabek Untuk KRL Yang Lebih Baik di Fb.

Tuesday, February 2, 2010

Jangan mengira bahwa apa yang kita berikan itu akan pergi begitu saja...

Berikut adalah cuplikan dari rubrik ruhaniyat majalah Tarbawi edisi Februari 2010, yang menyadur dari karya tulis syaikh Ali Tanthawi yang dipublikasikan harian Al Idzaa'ah th 1953.

Jangan mengira bahwa apa yang kita berikan itu akan pergi begitu saja, tanpa bekas, dan tak ada pengaruhnya untuk kita. Sama sekali tidak, demi Allah. Aku termasuk orang yang tak memiliki tabungan sedikitpun, sebab bila aku memiliki uang setelah kebutuhan dasarku terpenuhi, aku lebih cenderung menyalurkannya di jalan Allah. Istriku selalu mengatakan, "Pak, gunakanlah setidaknya uang itu untuk menabung membeli rumah... " Aku katakan, "Biarkanlah dia untuk Allah saja..."

Adakah pembaca tahu apa yang terjadi kemudian ?

Allah ternyata mencukupiku dari apa yang aku infaqkan di jalan-Nya dan aku tabung kepada-Nya di bank kebajikan yang kemudian memberi lipatan keuntungan yang luar biasa banyaknya, yakni tujuh puluh ribu kali lipat. Ya... seperti dalam firman-Nya... kamatsali habatin anbatat... sab'a sanaabil... fi kulli sumbulatin miatu habbah...

Allah SWT yang mengutus seorang teman asal Damaskus, yang kemudian tiba-tiba saja memberikan aku uang sebagai dana awal membeli rumah. Lalu Allah SWT juga mengutus temanku yang lain yang melengkapi biaya pembelian rumah. Demi Allah, aku tidak tahu masalah ini, kecuali aku memahami bahwa Allah SWT memberi rizqi yang halal yang tak terduga-duga, hingga bahkan aku bisa membayar hutang-hutangku semuanya.

Selama ini, aku merasa tak pernah dalam kondisi sempit, kecuali Allah SWT melapangkan aku. Dan tidak pernah aku membutuhkan sesuatu, kecuali kebutuhan itu dipenuhi oleh Allah SWT. Dan aku terus-menerus, jika aku ingin memelihara nikmat itu, aku akan memberikan hartaku di bank kebajikan milik-Nya...

Jadi, jangan pernah menganggap apa yang kita berikan kepada orang lain itu sia-sia. Sesungguhnya Allah membalasnya di dunia, sebelum di akhirat.

Gambar diambil dari sini.

Friday, January 22, 2010

Mimisan 3 pekan

Iva, anak kedua kami, udah 3 pekan ini mimisan. Heran. Soale sebelumnya gak pernah ada ceritanya tuch, dia mimisan. Tadinya sih kita masih santai aja. Apalagi Iva juga tetep kayak biasa, tetep ceria, gak rewel, gak jadi tiduran, atau gimana gitu. Pokoke biasalah. Pas ditanya sakit nggak, dia juga bilang enggak.

Tapi masuk ke hari kesekian, kepikir juga. Akhirnya dibawalah ke kakak ipar, yang dokter dan selama ini obatnya cocok sama anak2 dan gak ngasih obat yang berat2. Kata kakak, maybe pembuluh darah di hidungnya tipis. Apalagi memang masih pilek. Jadi lebih mudah berdarah. Trus gak perlu obat. Cukup supply vitamin aja dan hidungnya ditutup kapas.

Oke... kita belikan kapas. Dan kita tutup. Tapi biasalah... hidung ditutup kapas gitu khan gak enak. Jadi Iva rada males. Paling sekali dua doank dia ngelakuinnya. Setelah itu udah.

Dan ternyata... darah masih keluar dari hidungnya. Tapi gak terus2 an. Dan gak tentu waktunya. Yang kita tahu, hampir setiap bangun tidur ada darah ngalir dari hidungnya.

Trus selang beberapa hari, kita tanya lagi kakak. Katanya masih pilek gak... Kalo masih ya maybe karena pileknya itu. Kalo mau dikasih obat alergi aja. Sehari sekali. Cuman biasalah... akunya lupa nanya nama obatnya. Walhasil, obat alergi juga lupa terus gak dikasih2 ke Iva.

Trus lagi... masuk pekan ketiga, ibu heran... kok udah 3 pekan mosok Iva masih mimisan. Disuruhnyalah kita ke klinik buat cek lagi. Hasil dari dokter klinik, katanya pembuluh darah mungkin tipis. Idem sama kakak. Cuman yang bikin kita gubrak... dokter itu bilang, kalo 2 hari gak sembuh, suruh ke dokter THT, pembuluh darahnya dibakar, dimatikan. Walah... lha kok berat banget ya. Sementara ngeliat Ivanya baik2 saja, kayak gak ada gangguan... kok mestinya gak seberat itu...

2 hari setelah itu, ternyata darah masih belum berhenti. Jadi aku nanya lagi ke kakak. Trus kakak langsung ngasih obat alerginya. Berhubung kali ini kita kebayang sama kalimat dokter klinik yang nyuruh pembuluh darah di hidung kak Iva dibakar... jadi kita rajin2 ngasih obat alerginya. Even kita juga heran... alergi apa ya...

Dan darah tetep keluar dari hidung Iva...

Kita coba lagi pake daun sirih yang diremes2. Jalan 2 hari. Dan darah tetep ngotot keluar dari hidung kak Iva...

Semalem... jam 2... kebetulan ibu bangun... dan hidung Iva dilihat... lho... kok ada darah keringnya. Trus diambil ibu... dan Iva nya njerit... Ibu sempet kepikir... lho... kok Iva sampai njerit ya... Mana kenyal lagi, gak keras kayak darah kering...

Tapi karena jam 2 malem, ibu juga ngantuk, jadinya dibiarin aja, trus siap2 tidur lagi. Tapi ternyata tetep kepikiran. Kalo darah, kenapa kenyal ya... Kalopun gak basah, khan mestinya kering dan keras...

Jadi akhirnya ibu bangun lagi. Penasaran. Darah kering itu diliat lagi. Dan... O-OW... lha kok jalan... wuadowww... itu lintah !! Jadi dech abinya, daku, sama Alya bangun semua. Hiii... lintahnya gede... udah sejari kelingking... Gilig. Warnanya persis banget sama darah segar...

Sampai sejam kemudian, bahkan sampai pagi tadi, kita masih ngebahas lintah itu. Kapan masuknya. Kenapa kok sampai 3 minggu di hidung. Kenapa kok kak Iva bisa gak berasa sama sekali. Kenapa kok dokter sampai gak ada yang tahu. Warnanya yang mirip banget sama darah... sampai gak keliatan kalo sebelumnya kita ngintip ke hidung kak Iva. Dst dst.

Alhamdulillah, yang penting udah berhasil keluar. Dan bersamaan dengan itu, Alhamdulillah, sembuhlah mimisannya Iva. Kata ibu, emang setiap malam ditahajudin sama ibu. Soale ibu berasa aneh... kenapa mimisan udah 3 minggu kok gak sembuh2.

Abinya bilang, berhusnudzhon aja sama Allah. Lintahnya memang dikasih sama Allah, buat ngebersihin darah kak Iva. Aku jadi inget kisah nabi Muhammad yang dibersihkan hatinya pada saat masih kecil. Jadi kita bilang ke kak Iva, smoga lintahnya tadi udah nyedot darah galaknya kak Iva, darah suka ngambeknya kak Iva, darah yang kalo tilawah suka nggremeng. Jadi kudunya ke depan kak Iva udah gak gitu lagi... Amien.

Friday, January 15, 2010

Sharing Ilmu

Barusan di milis baca postingan tentang tukar ilmu untuk sukses bersama. Di postingan itu kaitannya dengan pentingnya mastermind sebagai salah satu sarana untuk tukar ilmu. Tukar ilmu memang bagus, sejauh sama2 menerima kekurangan sendiri dan mau belajar dari kelebihan yang lain. Dalam skala kecil, tukar ilmu ini muncul di keluargaku.

Alya, dari kecil jago logika. Gak bisa imaginasi sama sekali. Kalo kita mainin boneka di depannya, yang diliatin muka kita, meskipun boneka di tangan udah kita gerakin dengan penuh semangat. Apalagi kalo dia yang megang boneka. Didiemin doank dah... Paling banter diganti bajunya. Tapi gak pernah tuch yang namanya boneka di-jalanin, trus ngobrol sesama boneka, dst. Makanya jarang banget dia tak beliin boneka. Mainan pas kecil yang paling diminati adalah puzzle. Dan terbukti, pas PG dia juara 3 lomba puzzle yang diadakan sekolahnya dengan peserta seluruh TK di Semarang.

KaloIva, jago banget imaginasi. Apapun bisa jadi mainan di tangannya. Kalo dia lagi megang bolpen, alat tulis itu bisa jadi boneka buat dia. Digerak2-in, pura2 lagi ngobrol, nenangga ke sesama bolpen, dst. Kalo Alya tertarik dengan serunya mainan Iva, trus bolpennya diambil, dengan segera Iva nemukan benda lain buat jadi mainan. Pokoke benda apapun bisa jadi mainan buat Iva.

Gedean dikit, ternyata mereka saling belajar. Alya yang jago logika, cepet banget ngoprek kompie. Usia TK udah bisa nyalain film sendiri, termasuk handling errorrnya. Sampai komentar Iva dulu kalo kompie di rumah ngadat : kak Alya aja yg ngebenerin. Jangan umi. Umi khan gak bisa... Hehehe... Lama2, Iva bisa juga ngoprek kompie, walopun tetep gak se-ngglidis Alya. Dan Alya juga mulai bisa maen rumah2 an, walopun tetep kudu ada partner, gak bisa kalo maen sendirian.

Sekarang... Alya jago matematika, dan kurang di sains. Sedangkan Iva, jago di sains, tapi mulai rada berkurang di matematika. Trus... sharing ilmunya kita mainkan lagi lah... Jadi kalo Alya ngerjakan soal sains, kita minta Iva yang suruh ngecheck, even dia masih kelas 4. Gpp lah, khan soal UAN mulai pelajaran kelas 4. Dan gitu juga sebaliknya, kalo Iva ngerjain soal matematika, kita minta Alya yang ngecheck.

Lumayan lah. Jadinya mau gak mau dua2 nya belajar khan.... Smoga hasilnya juga kayak dulu, jadi sama2 naik... Amien.

Tuesday, January 12, 2010

Pesantren

Bulan Februari ini aku mo ngedaftarin Alya ke pesantren Al Kahfi. Setelah sekian banyak pertimbangan, sekian banyak bongkar pasang dan survey daftar sekolah, insya Allah kami mantap untuk masukin Alya ke sana. Tapi... mantap di akal ternyata gak sejalan sama mantap di hati :-( Atau belum ya...

Jadi kalo pertimbangan bagusnya, akademiknya, hafalannya, dst, insya Allah kita percayakan lah Al Kahfi untuk Alya. Apalagi disana ternyata juga ada kelas khusus untuk yang berminat menghafal Quran.

Tapi... ya gak bisa dipungkiri juga, kalo aku masih berasa berat... Berasa banget pas kemaren kita ngobrol sambil makan malam. Uthi nanya, kelas 7 itu ada gak. Tak jawab, kelas 7 itu sama dengan kelas 1 SMP, kayak kak Alya di Al Kahfi, disana pakenya kelas 7, 8, 9. (Soale pas survey sempet bingung, murid2 nya padha bilang, kalo kelas 7 disana asramanya... ). Nha, ntar kalo udah SMA, disebutnya kelas 10.

Jadi inget dech... di Al Kahfi ada kelas 10-nya... ada SMA nya... Trus kepikir, kalo Alya nyaman disana -- Alhamdulillah sih-- trus ternyata pengen SMA nya disana juga... trus setelah itu kuliah di luar kota... Walah... Brarti serumahnya sama Alya sekarang ini donk...

Hiks.. hiks... kok jadi brasa ya...

Trus dijawab sama Iva... ntar SMA nya di Depok aja. Iyalah, SMA nya di depok aja ya... Skalian nerusin kursus piano klasiknya...

Ternyata Alya juga lagi adaptasi. Pernah dia usiiilll banget. Adeknya digangguin terus. Dikerjain. Digalakin. Trus tak ajak omonglah dia. Soale gak biasanya Alya kayak gitu. Normalnya Alya tuch ngejagain adeknya banget... care...

Trus dia bilang... kalo dia masih mikir masuk Al Kahfi. Takut temennya gimana gitu. Khawatir... Waktu itu sempet tak tawarkan, trus kak Alya maunya masuk mana. Negri ? atau NF lagi ? Dia nggeleng. Sama juga ma aku.

Yach.. secara akal, kita tahu, insya Allah Al Kahfi pilihan yang terbaik untuk saat ini. Tapi itu dia... emosinya masih kudu belajar... belum ngikutin keputusan akal euy...